Antara Passion, Kebutuhan, dan Realitas
Pekerjaan, sebuah kata yang sering diperbincangkan di kalangan muda-mudi selepas sarjana. Sering juga hal yang sering ditanyakan oleh keluarga mereka, atau teman lama hanya untuk membuka topic pembicaraan.
Pekerjaan juga sering digunakan untuk menentukan standart kesuksesan seseorang. Apabila mereka dapat bekerja di lembaga pemerintahan dengan statusnya sebagai PN*, atau bekerja di perusahaan multinasional, dengan pakaian rapi setiap harinya. Begitu stigma yang beredar di kalangan masyarakat.
Namun seiring berjalannya waktu, stigma tersebut nampaknya mulai mengalami pergeseran, masyarakat mulai melek bahwa pekerjaan punya ruang lingkup yang cukup lebar.
Mereka mulai menyadari bahwa ternyata ada pekerjaan yang tak mengharuskan seseorang berangkat di pagi hari dan pulang ketika sore hari. Bahwa ternyata ada juga pekerjaan yang bisa di kerjakan di rumah sambil menikmati secangkir teh hangat.
Pun ada pekerjaan yang jam kerjanya fleksibel sehingga tak berpatokan jam kerja, tanggal merah, juga hari libur nasional lainnya. Mereka bebas berkreasi tanpa batas.
Hal itu pula yang mendasari anak-anak sekarang bercita-cita untuk menjadi sosok yang terkadang tak terfikirkan sebelumnya, seperti: youtuber, dubber, gamers, content writer, design grafis, selebgram, dan masih banyak lagi.
Jika ditarik mundur apa yang mendasari mereka bercita-cita seperti itu ??? Ialah kemajuan teknologi yang menyebabkan pekerjaan beraneka ragam adanya.
Jika dulu banyak orang tua yang mengarahkan anak-anaknya untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga terkadang mereka dipaksa untuk bersekolah sesuai pekerjaan yang akan mereka geluti. Maka lain halnya dengan apa yang terjadi sekarang.
Banyak diantara mereka yang memilih tidak melanjutkan kuliah dengan fakultas yang orang tua mereka pilihkan, dengan alasan tidak sesuai passion. Banyak diantara mereka ketika telah lulus kuliah, memilih pekerjaan yang mereka anggap sesuai passionnya, yang terkadang melenceng dari apa yang selama ini mereka pelajari di bangku kuliah.
Sungguh tak ada yang salah dengan pilihan mereka, betapa ungkapan lakukan sesuatu yang sesuai passion sudah mendoktrin sudut pandang masyarakat kita. Hingga bekerja sesuai passion pun seperti keharusan untuk sebagian orang.
Lalu bagaimana dengan mereka yang bekerja tidak sesuai passion, namun karena faktor kebutuhan, mereka harus meredam keinginannya untuk bekerja maupun untuk kuliah sesuai dengan passionnya?
Begitu juga, dengan mereka yang sudah diterima kerja sesuai passion mereka. Namun dikarenakan performa kinerja mereka kurang bagus, mereka akhirnya tidak berkembang. Lalu beralasan bahwa pekerjaan mereka tidak sesuai passion? Akankah seegois itu? Akankah passion selalu di kedepankan?
Lalu bagaimana jika kalian sudah mendapatkan pekerjaan sesuai passion kalian, tapi ternyata pekerjaan kalian bertentangan dengan apa yang telah kalian pelajari, bertentangan dengan apa yang kalian yakini. Seperti pekerjaan kalian membatasi waktu untuk beribadah, mengharuskan kalian berpakaian yang melanggar syariat, pun banyak hal yang ternyata pekerjaan tersebut lebih menjauhkan diri kalian dengan Sang Pencipta.
Akankah kalian masih berbicara tentang passion? Dan lagi, akankah seegois itu?
Disadari atau tidak, mengejar passion sering kali bersisian dengan ego kita. Entah itu ego untuk menunjukkan kapasitas diri kita, kualitas diri kita, bahkan hanya sekedar untuk mendapat appresiasi dari orang lain akan kemampuan kita. Terlepas dari berbagai hal yang mendasari ego pribadi tersebut, setiap dari kita mempunyai tekad yang besar daripada hanya sekedar mewujudkan ego pribadi tersebut. Bukankah jauh lebih nyata nilai kebermanfaatannya jika kita bisa menggerakkan passion tersebut untuk hal kebaikan?
Jika sedikit kita bisa berdamai dengan diri kita, kemudian mencoba menelaah sedikit. Ternyata bekerja dengan passion itu tidak ada, yang ada ialah mengerjakan pekerjaan yang sudah diamanahkan kepada diri kita sesuai passion ,dengan hati yang senang tanpa kegelisahan, sehingga mood kerja terjaga, produktifitas meningkat.
Bukankah jika kita mengerjakan sesuatu dengan hati yang senang penuh syukur hasilnya pun jauh lebih baik? Mari sejenak kita telaah bersama.
Pict by: pinterest














