Sosok itu bernama orang tua...
Membicarakan soal orang tua rasanya tak akan ada habisnya untuk dikulik tentang jasa juga peran yang telah dilakukan oleh mereka. Entah rasa sayangnya mereka terhadap anak-anaknya yang tiada tara, pun rasa ikhlas yang mendamaikan, dan juga pengorbanan yang tiada ujungnya.
Hingga ada pepatah "seorang ibu bisa membesarkan sepuluh orang anaknya, namun seorang anak belum tentu bisa merawat seorang ibu".
Teringat akan sebuah video ketika ada beberapa remaja pencari kerja yang mendapat tawaran pekerjaan dengan jam kerja 24 jam, waktu istirahat yang terbatas, kontraknya seumur hidup namun tidak mendapatkan gaji atas pekerjaan tersebut.
Mereka keheranan merasa tak percaya, memangnya ada pekerjaan yang demikian? Lalu dijawablah bahwa pekerjaan tersebut ada dan itu ada di sekitar kita.
Mereka semakin penuh tanda tanya, maka dijawablah oleh sang penanya bahwa pekerjaan yang dimaksud ialah pekerjaan menjadi orang tua terutama seorang ibu. Tiba-tiba mereka mulai merasakan air matanya mengalir membasahi pipi, mereka pun menangis sejadi-jadinya. Selama ini mereka terlupa ternyata banyak hal yang sudah orang tuanya persembahkan untuk kenyamanan anaknya.
Hal ini juga yang sering terlupa bahwa kesuksesan kita sekarang tidaklah terlepas dari peran orang tua. Entah itu pekerjaan kita yang sedang kita geluti, bisa jadi itu buah dari do'a panjang orang tua kita yang menembus langit, sehingga kita bisa bekerja di lokasi yang baik, pekerjaan yang lebih baik dari yang orang tua kita pernah kerjakan.
Juga tentang peran orang tua kita yang menginginkan anaknya sekolah agar kelak ketika besar nanti, anaknya bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah, atau dapat membuka lapangan pekerjaan dengan ilmu yang selama ini Ia pelajari.
Ternyata peran orang tua kita tak sampai disitu, mungkin kita tidak menyadari bahwa kebiasaan kecil kita, adab perilaku kita, juga karakter kita ialah buah dari pola pengasuhan orang tua kita. Orang tua adalah pendidikan pertama untuk anak-anaknya. Maka jangan heran ketika kita menyaksikan sosok anak kecil yang begitu sopan tingkah lakunya, perkataannya santun, lagi Ia mampu menghafal Al-qur'an di usia yang masih belia.
Pun jangan merasa heran ketika kita pernah melihat sosok anak kecil yang mampu mencuri, berkata kasar, bahkan melawan orang tua. Sosok mereka ialah buah dari peran orang tua juga, buah dari pengasuhan orang tua dimana mereka mempunyai tujuan pola pengasuhan yang selaras, tidak tumpang tindih, jelas goals settingnya. Maka jauh sebelum itu, ternyata peran mendasar yang telah orang tua kita lakukan untuk kita ialah mereka memilih calon suami maupun calon istri yang baik.
Ada juga kejadian sehari-hari yang mungkin luput dari perhatian kita. Coba tebak bagaimana ibu kalian makan???
Ketika makanan sudah siap disantap, seorang ibu akan menyuruh anak-anaknya makan terlebih dahulu dengan nasi yang baru Ia tanak, dengan asap yang masih mengepul tanda masih hangat.
Sedangkan ibu, Ia akan mengambil nasi sisa sesi makan sebelumnya, yang sudah kering, terkadang sudah keras kena angin. Ia tidak makan dengan nasi yang sama.
Tak sampai disitu, orang tua kita akan mengambil lauk terakhir, itu pun jika masih ada. Mereka menunggu anak-anaknya mengambil lauk terlebih dahulu, memastikan anak-anaknya mendapatkan lauk satu persatu. Sedangkan kita sibuk melahap hidangan yang ada di piring, seolah lupa tak memperdulikan orang tua kita masih ada lauk tidak.
Tak sampai disitu, ketika Hari Raya akan tiba, orang tua kita akan sibuk mengumpulkan uang jauh-jauh hari, hanya untuk membelikan anak-anaknya baju lebaran baru. Sedangkan orang tua kita, mereka akan memakai baju lebaran tahun lalu, bahkan bisa jadi baju lebaran dua atau tiga tahun lalu. Mereka cukup bahagia ketika memastikan anak-anaknya dapat tersenyum gembira dengan baju barunya.
Bahkan ketika kita sudah beranjak dewasa, sudah mempunyai penghasilan sendiri. Seringnya orang tua kita akan menolak ketika kita akan memberikan sebagian penghasilan kita untuk mereka. Ya, lagi-lagi mereka memastikan anak-anaknya merasa cukup, membiarkan kita merasakan senang menikmati hasil jerih payah dari bekerja.
Mungkin untuk anak rantauan, mereka akan sering mendapati telfon dari orang tua mereka, hanya sekedar menanyakan sudah makan belum? Sudah sholat belum? Mereka tidak bosan-bosan menanyakan hal sama setiap harinya. Pun ketika kita sedang dilanda masalah, mereka akan dengan senangnya menjadi pendengar setia tanpa diminta. Namun ketika kita sudah mulai banyak teman, mulai sibuk dengan pekerjaan kita. Kita dengan mudahnya mengacuhkan semua panggilan telfon dari mereka, lupa untuk memberi kabar tentang keadaan kita.
Ternyata banyak hal yang terkadang baru kita sadari hari ini, atau nanti ketika kita sudah menyandang predikat orang tua. Banyak hal kecil yang telah orang tua kita lakukan, hanya untuk membuat kita merasakan nyaman, memastikan kita merasa cukup dan seringnya kita lupa akan hal itu.
Maka saya sepakat dengan kutipan di salah satu tumblrnya mas gun, "Saat ini kalian mungkin masih sibuk bersenang-senang. Kalau pun ada hal yang meresahkan, mungkin hanya sebatas persoalan perasaan, pekerjaan, atau hal-hal sederhana lain yang dipikir rumit. Kita sibuk menghabiskan itu semua, berpikir tentang diri sendiri. Sedikit dari kita yang mau tahu, dan mau mendengarkan orang tua kita lebih banyak, lebih dalam, lebih jujur".
Maka dari itu sebelum terlambat, sebelum kita kehilangan mereka, dan masih ada waktu, jangan kita tunda-tunda lagi. Ingatlah peran-peran mereka yang telah mengupayakan sedemikian rupa hingga diri kita seperti hari ini. Berterima kasihlah kepada mereka.
Yuk mulai perhatikan orang tua kita lagi
Yuk mulai banyak dengarkan cerita-cerita orang tua kita lagi, meskipun dengan cerita yang sama dan terus diulang-ulang
Yuk mulai kita rancang agar masa senjanya agar tak berkesusahan, setelah banyak hal yang mereka kasih untuk kita
Yuk buat mereka senang, bukankah ada peran doa orang tua kita, utamanya ibu untuk segala pencapaian kita saat ini?
Yuk jangan buat mereka sedih, apalagi kecewa.
Because, theres nothing that can outweight a mothers dua Anonymous-