09. Kerajaan Medang
Informasi Kerajaan
Corak: Hindu Berdiri: abad ke-10 Letak: Watan Mas, Sungai Brantas, Jawa Timur (setelah dipindahkan Mpu Sindok)
Kerajaan Medang disebut juga sebagai Wangsa Isyana. Merupakan kerajaan lanjutan dari Mataram Kuno.
Bukti Kerajaan
1. Prasasti Gemekan
Berisi tentang penetapan tanah sima (tanah batas) oleh Mpu Sindok untuk membuat tempat peribadatan. Di samping tanah sima, dibeli juga tanah untuk keperluan saluran air supaya tanahnya menjadi bermanfaat.
Lalu di sisi lain Prasasti Gemekan, disebutkan kutukan bagi siapa pun yang mengganggu kebijakan penetapan tanah tersebut.
2. Prasasti Tangeran
Berisi tentang pemerintahan Mpu Sindok dan permaisurinya yang bernama Sri Wardhani.
3. Prasasti Bangil
Berisi tentang perintah Mpu Sindok untuk membangun candi sebagai tempat peristirahatan mertuanya (Rakyan Bawang).
4. Prasasti Lor
Berisi tentang perintah Mpu Sindok untuk membangun Candi Jayamrata dan Jayamstanbho di Lodang.
5. Prasasti Kalkuta/Pucangan
Berisi tentang hancurnya istana Dharmawangsa karena Pralaya Medang, juga berisi silsilah raja-raja Medang. Disebutkan juga bahwa Airlangga berhasil kabur ke hutan setelah peristiwa Pralaya Medang.
6. Kakawin Arjunawiwaha
Ditulis oleh Mpu Kanwa sebagai satu-satunya karya sastra selama kekuasaan Airlangga. Berisi tentang:
Arjuna, diminta oleh saudaranya untuk bertapa memohon senjata ampuh yang dapat memenangkan Pandawa dalam Perang Bharatayuda melawan Kurawa.
Ketika Arjuna bertapa di Gunung Mahameru, dewa tidak langsung memberikan senjatanya. Dewa menguji Arjuna dengan mengirimkan 7 bidadari cantik. Arjuna ternyata tidak tergugah oleh 7 bidadari tersebut, sehingga dikirimkan Batara Indra yang menyamar sebagai seorang brahmana tua.
Arjuna dan Batara Indra yang sedang menyamar kemudian berbincang mengenai agama, lalu Batara Indra mengungkap jati dirinya dan pergi. Setelah itu, datang babi yang mengamuk dan Arjuna langsung memanahnya. Di saat yang bersamaan, seorang pemburu juga memanah babi tersebut.
Arjuna dan pemburu itu pun berdebat tentang siapa yang membunuh babi itu. Si Pemburu akhirnya mengungkap bahwa ia adalah jelmaan Batara Siwa. Ia lalu memberikan panah sakti (pasupati) kepada Arjuna.
Dewa akhirnya memberikan syarat terakhir pada Arjuna yaitu ia harus membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Ternyata Arjuna mampu menyelesaikan syarat tersebut. Arjuna pun mendapatkan senjata sakti dan menjadi raja di kahyangan selama beberapa waktu.
7. Arca Airlangga
Disebut juga arca Wisnu Garudanayaranamurti ditemukan di depan Pemandian Belahan (makam Airlangga) dan diduga menjadi penggambaran Airlangga sebagai Wisnu yang sedang menunggani Garuda.
Struktur Kerajaan
Mpu Sindok, pendiri Kerajaan Medang.
Sri Lokapala
Makuthawangsawardhana
Dharmawangsa Teguh (akhir Kerajaan Medang)
Airlangga (anak dari Raja Bali Udayana, keponakan Dharmawangsa)
Peristiwa Penting
Kerajaan Medang Melawan Kerajaan Sriwijaya (Serangan Pralaya)
(Lihat di catatan ‘Keraaan Sriwijaya’ tentang kerajaan Medang)
Dari POV Teguh Dharmawangsa: Teguh Dharmawangsa menurunkan tentara guna merebut perdagangan yang dikuasai Sriwijaya. Tetapi, Sriwijaya mendorong mundur Medang dan Teguh Dharmawangsa terbunuh.
Tidak hanya Teguh Dharmawangsa, seluruh anggota kerajaan Medang terbunuh dalam Serangan Pralaya sehingga Airlangga (keponakan Dharmawangsa) menggantikan. Airlangga akhirnya berhasil memulihkan kondisi Medang, lalu memindahkan ibukota Medang dari Jawa Timur ke Kahuripan.
Lebih lanjutnya, Peristiwa Pralaya Medang
Teguh Dharmawangsa memiliki seorang putri bernama Dewi Galuh Sekar yang kemudian ia nikahkan dengan Airlangga (dari Udayana). Raja Wurawuri yang sebelumnya sudah berniat untuk menikah dengan Dewi Galuh Sekar pun merasa kecewa.
Sriwijaya lalu memanfaatkan Raja Wurawuri untuk membalas dendam kepada Kerajaan Medang. Balas dendam itu dilangsungkan pada saat pesta pernikahan digelar dengan cara dibakar. Keluarga Dharmawangsa semuanya tewas kecuali Airlangga dan Dewi Galuh Sekar yang berhasil melarikan diri ke hutan.
Kebijakan Airlangga
Membangun pelabuhan di daerah Hujung Galuh
Membangun waduk waringin sapta sebagai pencegah banjir
Membangun jalan untuk mempermudah aksesbilitas
Keruntuhan Kerajaan Medang
Airlangga memutuskan membagi 2 kerajaan menjadi: Kediri (Sri Samarawijaya) dan Jenggala (Mapanji Garasakan) untuk mencegah terjadinya perang saudara. Airlangga sendiri dan putrinya memutuskan untuk menjadi seorang pertapa.
Setelah berapa lama, Airlangga yang sudah menguasai ilmu pertapa akhirnya kembali dengan nama Kerajaan Kahuripan untuk menaklukkan wilayah-wilayah yang dulu melepaskan diri dari Medang, juga Kerajaan Wurawuri.













