Selamat Datang Dunia Digital, Selamat Jalan Peluang Kerja!
Jika zaman dahulu, media cetak tutup karena pembredelan dari pemerintah karena dinilai ‘mengganggu’ kestabilan politik negara. Kini berbelas-belas tahun semenjak era reformasi pertama kali tiba, media cetak pun harus berguguran karena tergusur oleh arus dunia digital.
Isu ini merebak sejak dunia internet maju pesat di Indonesia, terlebih ketika smartphone mudah tergenggam oleh berbagai kalangan masyarakat di Indonesia. Bahkan tidak hanya media cetak saja yang tergerus zaman, buku-buku bacaan pun terkena isu ini setelah e-book mulai bermunculan dan memang divisi e-book dihidupkan khusus oleh penerbit-penerbit.
Tercatat di 2015, empat media cetak harus gugur karena berbagai alasan. Sinar Harapan, Harian Bola, Jakarta Globe, hingga Tempo Minggu. Sampailah pada Februari 2016 kemarin saya mendapat berita bahwa Kompas Anak pun pada akhirnya harus hilang dari rubrik mingguan Kompas. Entahlah, akan ada media cetak apa lagi yang akhirnya harus mengalah pada peradaban.
Paling membuat saya kaget adalah berita akhir tahun kemarin bahwa Sinar Harapan harus tutup sejak 1 Januari 2016. Ketika saya bertanya pada ibu saya suatu waktu tentang pengetahuannya pada koran ini, tentu saja ibu saya pun kaget. Siapa yang tidak kenal koran yang terbit sore ini? Koran tersebut adalah koran terbesar yang bersanding dengan Kompas dan Tempo.
Sinar Harapan terbit pertama kali sejak 1961 atau berusia sama dengan almarhum ayah saya. Mengalami empat kali pembredelan walau tetap hidup kembali, hingga akhirnya mengawali lagi kehidupannya pada 2001 setelah era reformasi hingga terhenti pada 1 Januari 2016. Sayangnya lagi, media daring Sinar Harapan pun harus kandas, walau kenyataannya media daring lebih mampu bersaing di era digital seperti sekarang. Namun apa daya jika alasan perginya investor lah yang menyebabkan Sinar Harapan tidak kembali bersinar selepas 1 Januari 2016. Entah sampai kapan media cetak dan media daring tersebut berhenti bersinar, kita tunggu saja dia terbangun lagi atau memang benar-benar akan mati di tahun ini.
Harian Bola adalah saudara dari Tabloid Bola, namun sayangnya harus bertahan 2,5 tahun. Di usia yang masih bayi, Harian Bola harus tergerus juga oleh zaman dan terhenti pada 31 Oktober 2015. Namun saya tidak tahu pasti penyebab tutupnya Harian Bola, hanya saya baca di media online bahwa sudah terjadi pemecatan wartawan di lini ini.
Jakarta Globe, koran berbahasa Inggris yang hanya bertahan selama 7 tahun 1 bulan 3 hari pun ikut tergerus zaman. Pesaing Jakarta Post ini pun hanya mampu memertahankan media daringnya saja sejak 15 Desember 2015. Perbandingan ongkos produksi dan jumlah pembaca yang tidak sebanding membuat media cetak Jakarta Globe harus dimatikan.
Koran Tempo Minggu pun harus mengalah sejak 11 Oktober 2015 dan disatukan dengan Koran Tempo Sabtu menjadi Koran Tempo Akhir Pekan. Oplah Koran Tempo Minggu yang lebih kecil dibanding Koran Tempo Harian dan mahalnya biaya produksi disebut-sebut menjadi alasan penutupan ini.
Sama dengan Koran Tempo Minggu, Kompas Anak yang terbit tiap hari Minggu pun harus kandas. Bermula dari postingan teman saya di media sosial pada akhir Februari 2016 yang mempublikasikan bahwa Kompas Anak tidak akan terbit lagi. Kemungkinan besar alasannya sama, adalah karena kasus oplah dan biaya produksi. Media cetak Kompas Anak memang berhenti hingga Februari 2016, namun menurut kabar yang beredar akan ada Kompas Anak media daring. Semoga saja memang terwujud.
Saya masih ingat, tahun 2000-an hingga saya SMA, media cetak sedang mengalami ‘masa subur’. Saya ingat almarhum ayah saya berlangganan dua media cetak tiap harinya pada tukang koran yang biasa mengantar tiap hari. Ratusan ribu biaya yang ayah saya keluarkan tiap bulannya, bisa dibayangkan jika satu tukang koran memiliki puluhan hingga ratusan langganan. Waktu dulu ayah saya bercerita bahwa banyak pedagang yang beralih profesi sebagai loper koran bahkan tukang antar koran, untung yang mereka dapatkan tiap bulan cukup besar. Masa itu adalah masa jayanya media cetak, karena perubahan era orde baru ke era reformasi dimana media cetak yang semula tutup, mereka satu persatu bangkit kembali bahkan bermunculan media cetak dengan label baru dari mulai berita ringan, esek-esek, hingga berita politik.
Tidak hanya loper koran dan tukang antar koran yang diuntungkan. Regulasi kertas koran dari pembaca pun menguntungkan para pengepul barang bekas dan tukang barang bekas keliling. “Sekarang koran dan majalah sudah jarang lagi saya dapetin, Neng. Sekarang mah yang saya ambil kebanyakan botol dan gelas plastik bekas,” tukas si mamang tukang barang bekas keliling pada ibu saya yang memberinya satu karung botol bekas seminggu lalu.
Bukan hanya tukang loper koran, tukang antar koran, tukang pengepul barang bekas, dan tukang rongsokan keliling saja yang kemungkinan besar kehilangan mata pencaharian sehari-harinya. Berapa banyak wartawan media cetak, editor, dan staff lain di perusahaan media cetak yang juga kehilangan pekerjaannya karena perusahaan yang satu persatu gulung tikar.
Waktu kecil, ayah saya selalu bilang begini, “Kalau sudah besar, anak perempuan itu jadi guru atau perawat saja, ya. Syukur-syukur kalau ada rezeki bisa jadi dokter. Tapi syukuri saja jika gaji kecil namun kamu PNS. Kalau kerja di swasta, gajinya memang besar, tapi masa tuamu belum tentu terjamin, lagipula kalau perusahaan itu akan rawan gulung tikar.”
Sekarang, kemungkinan sangat besar saya tidak akan jadi PNS guru bahkan PNS perawat sekalipun, apalagi PNS dokter. Namun, jika ada kesempatan dan keinginan saya pasti akan mengejar PNS walau itu mungkin di perpusnas, badan bahasa, atau jika beruntung bisa jadi PNS dosen. Saya tahu mungkin keinginan ini bertolak belakang dengan kakak saya satu-satunya yang harus meninggalkan PNS-nya di BPK setelah 7 tahun mengabdi. Namun, saya pernah merasakan panas dinginnya bekerja di perusahaan swasta sekalipun perusahaan cukup besar. Isu perusahaan yang sedang goyah cukup sering terdengar dan itu akan membuat ngeri saya yang masih anak bawang di perusahaan apalagi yang sudah senior.
Inilah efek dunia digital yang semakin pesat. Ketika media cetak mulai tergantikan media daring, buku-buku hampir tergantikan e-book, tayangan televisi biasa akan tergantikan tayangan televisi berlangganan bahkan mudah diakses via streaming atau rekaman youtube, ketika radio, kaset, compact disk berisi rekaman lagu sudah mulai tergantikan lagu-lagu di soundcloud. Ah, entahlah. Kelak, akan berapa orang manusia yang kalian temui tiap harinya? Apakah akan masih tetap ada di dunia serba digital ini? Sama seperti ketika saat ini, saya yang amat jarang bertemu dan bercengkrama langsung dengan tukang koran atau sama seperti adik-adik saya yang mulai asyik mengunduh ebook dibanding membeli bukunya dalam bentuk fisik. Bahkan sadarkah jika makan siang saja saat ini bisa dipesan via jasa digital yang nantinya hanya akan bertemu dengan satu orang si pengantar makanan saja, tidak perlu susah-susah kamu pergi dengan angkot bahkan taksi, memesan menu pada pelayan, membayar di kasir, duduk berdekatan dengan pembeli lain.
Kelak, entah akan berapa banyak lagi industri kreatif yang mati perlahan hingga tidak ada lagi sisa kehidupan di dalamnya, hanya puing-puing peradaban yang kelak akan dikenang dan diceritakan bahwa media cetak pernah ada di zaman ibu atau nenek buyutnya. Kelak, anak buyut kita mungkin akan mendengar bahwa nenek dan kakek buyutnya pernah bekerja di perusahaan yang tidak lagi tersisa di zaman cicit-cicitnya.