Jadi waktu itu, aku buka pintu kamar, akupun duduk di bangku meja belajar yang berada tepat di depan lemari. Kubuka jendela yang berada tepat di sampingku. Hujan yang begitu deras tak berhenti menemaniku saat itu. Sekejap langsung masuk udara dingin dari luar dan bergantian keluar masuk dengan udara dalam kamar.
Kutarik dan kuhembuskan nafas secara tenang. Udara dingin terasa begitu menyegarkan, meski kegiatan pondok bahkan kampus bukan berarti tak ada. Temperatur bulan November masih terlalu dingin untuk tubuh selembar yang kupunya, namun kubiarkan angin menampar wajahku. Tak butuh waktu lama agar suasana itu menghipnotisku untuk berada dalam posisi duduk demikian bermenit-menit.
Ya beginilah, disini bagiku tempat yang penuh dengan kearifan selalu memberi tanpa disadari, nyaman karena lingkungan bernuansa sakral, meski hidung menarik nafas seperti biasa, kaki tetap kuat menapak berjam-jam, pergerakanku tak pernah berhenti walau rasa sepi, cemas tanpa sebab itu yang telah kucoba perangi berhari-hari terasa beda hari itu.
Pikirku 5 tahun bertahan sekaligus membuka tahun pertama kami merasakan rasanya dipisahkan. Namun, apalah daya kami, manusia yang tak bisa banyak berbuat karena Tuhan yang menghendaki, kami hanya bisa bersandar pada sebuah sabar dan doa yang slalu kami langitkan. Walau kami tak tahu doa siapa yang dikabulkan.
Aku berpikir, bagaimana bisa seseorang bertahan menyandarkan pada sebuah perasaan untuk personal yang titiknya saja belum jelas? Bagaimana bisa seseorang bertahan karena dipisahkan jarak dan waktu? Bagaimana bisa sebuah hubungan bisa berjalan seperti biasa tanpa pasti ketika disaat yang satu sedang terlelap, yang satu lagi sedang berjuang menantang hari? Kompromi seperti apa yang bisa muncul untuk saling memuaskan rasa cemas dan rindu?
Ada beberapa kawan maupun sahabat yang telah lebih dahulu melalui hal yang sama. Kebanyakan dari mereka memberikan solusi yang tak jauh berbeda. Berpisah jalan. Mereka mengalah pada kuasa jarak dan waktu yang begitu kejam. Beberapa mencoba, sebisa mereka. Namun, Terkadang ada salah satu yang mundur karena memenuhi perasaannya yg relative. layaknya jam pasir, beberapa nyatanya hanya menunggu sampai titik pasir terakhir jatuh dan tidak menyisakan apapun. Bisakah kami?
Kalupun itu tidak bisa, kan kututurkan doa, kupanjatkan dan sandarkan pada scenario