Ingat Kamu
Duduk aku di singgasana yang nyaman dan aman. Aku menyandarkan punggung pada dinding itu, merenung pada sebuah foto. Foto sepasang sahabat, yang tersenyum tegang saat menaiki wahana di salah satu tempat hiburan. Aku memandanginya dengan senyum simpul. “Hai.” Suaraku penuh sesak. Aku membawa foto itu ke dalam dekapanku, sambil memejamkan mata dan menengadah ke atas.
Kegiatan ini sudah biasa aku lakukan, di kala rindu datang dengan mengeroyok. Itu hal yang wajar saat kita merindukan sahabat dari kecil, apalagi terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Akan menjadi hal yang tidak wajar, jika hanya terpisah rumah dan beda komplek. Sahabatku dan aku, kami telah terpisah oleh jarak yang bahkan teknologi pun tak bisa mencapainya. Tidak akan ada lagi, saling berbincang menanyakan kabar ataupun bersenda gurau. Air mataku menetes, mengingat momen itu. Saat kami berbicara melalui benda itu, tetapi untuk sekarang. Aku hanya berbicara melalui angin yang berhembus dengan harap, pesan itu akan tersampaikan ke padanya. “Padanya.” Aku menghembuskan napas lirih, aku ingat waktu dia pergi jauh. Saat itu... .
****
Kriinggg… kringg…
Aku mencari dimana sumber suara yang kian berbunyi keras, mengacaukan mimpiku. Meraba tempat tidur dengan mata terpejam. Setelah dapat aku pun mematikan alarm, lalu mengecek jam seperti biasa.
“Gawat!!!!” pekikku saat tau itu pukul berapa. Pukul 07.00 WIB. Oke, aku kesiangan!! Ini bukan kali pertama, tentu saja. Aku dengan jantung yang berpacu cepat, loncat dari kasur yang menggoda, lalu menuju kamar mandi. Malaksanakan kewajiban yang hampir termakan oleh sunnah.
Ini hari Minggu, yang berarti waktunya “me time”. Mengingat kalau aku emang sudah libur kuliah, ahh… senangnya. Aku sudah merencanakan kegiatan di Minggu pagiku ini. Mulai dari kegiatan yang wajib dilakukan, lalu sarapan dengan segelas teh hangat, membeli kue di warung sarapan, menonton tv, lalu membereskan kos, dan hal lainnya. Ya… aku ngekos tentu saja, aku belum memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.
Aku bersiap untuk pergi ke warung, menggunakan motor yang selalu menemaniku kemana pun. Setidaknya, aku punya dia yang selalu setia padaku. Tak membutuhkan waktu lama, aku kembali ke kos. Aku memasuki kos setelah menguncinya kembali, hanya berjaga-jaga. Hingga saat itu ponsel ku berdering pertanda panggilan masuk, saat akan menjawabnya, tetapi sudah terputus. Sejak keluar tadi, aku memang tidak membawanya, malas. Buat apa juga, wong ke luar sebentar. Tertera di layar ponsel adalah nama sahabatku, Zain. Aku sedikit mengabaikannya karena aku akan membuat teh terlebih dahulu, baru saja akan beranjak. Ponselku kembali berdering, Zain memanggilku lagi. Aku menggeser tombol hijau itu.
“Assalamu'alaikum, kenapa Zain?”
“Wa'alaikumussalam Warahmatullah, kelen itu kemana aja sih? Susah kali dihubungi!”
Ia langsung marah saat aku mengangkatnya, aku mendengar dari nadanya seperti bergetar dan serius. “Iya aku tadi keluar, gak bawa hp, kenapa Zain?”
“Yuli meninggal Far.. Yuli meninggal…”
Aku mengerjapkan mata beberapa kali, mencerna apa yang barusan aku dengar, Yuli? Yulia? Sahabat kami? “Ngomong apasih Zain! Jangan bercanda Zain!”
“Aku serius Far.. aku dari tadi hubungi kalian! Ula gak angkat, Rahma gak aktif, Isna juga!”
Mataku mulai berlinang, cairan dimataku sudah meberontak ingin terjun bebas di pipiku ini. Terlalu banyak, aku tidak bisa menhan akhirnya kubiarkan mereka lepas. “Zain.. serius.. jangan bercanda loh! Yuli.. Zain. Yuli… gak lucu loh!”
Aku tahu, Zain tidak akan berbohong, memangnya siapa yang akan berani berbohong menyangkut kematian seseorang? Hanya saja, aku sangat terguncang.
“Ngapain aku bohong hah?!” Dia menangis.
Kakiku lemas, aku langsung luruh ke bawah, menyandar pada dinding, dengan ponsel yang masih digenggamanku. Zain memutuskan panggilan, setelah pamit tadi, ia akan mencoba menghubungi sahabat kami yang lain, dan memberitahu di grup sekolah dulu.
Aku menangis sejadi-jadinya, meringkuk memeluk lutut. Aku melepaskan segala sesak di dada yang sejak tadi kurasakan. Aku meraih bantal yang ada didekat ku, mendekapnya dengan erat. Perkataan Zain terus mengiang, bayangan Yuli juga ikut menghampiri. Rasa sesal menyelinap di hati. Lama aku dalam posisi seperti ini, menghapus air mata, tetapi keluar lagi. Ku coba untuk berhenti, namun gagal.
Aku mengecek pesan di WA, ternyata Zain sudah mengabari. Aku ingat, bahwa sebelum aku keluar, memang ada pesan masuk dari grup kami, lalu kuabaikan, karena aku pikir chat obrolan biasa. BODOH!! Iya aku sangat BODOH!!
****
Sejak saat itu.. aku sudah tidak bisa mengabaikan grup chat kami. Tidak! Aku tidak bisa. Ada rasa penyesalan yang sering kali hinggap. Aku sering mengabaikan mereka, beranggapan bahwa ada banyak waktu untuk sekadar berbicara. Bahkan dengan 'dia’ aku pun melakukan hal yang sama. Sekarang, aku begitu menyadari bahwa waktu ini begitu singkat. Aku mulai menikmatinya, menikmati waktu dengan mereka yang tersisa.
‘Hey, kamu? Apa kamu mendengarku? Jika iya, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku, meminta maaf dari dasar hatiku. Aku minta maaf karna mengabaikan pesanmu, tidak berbicara banyak denganmu, dan menyembunyikan sesuatu darimu. Tadinya aku akan menceritakannya kala bertemu. Namun, semesta seolah menyadarkanku satu hal. Jangan suka menunda nunda sesuatu yang kelak kau akan menyesal. Dan, aku mengalaminya. Jadi, apa kamu mau memaafkanku?’














