Dari Teman Sharing ke Teman Seumur Hidup: Kisah Cinta yang Dimulai Tanpa Rasa
Kadang cinta itu datang bukan dengan kembang api, bukan juga dengan drama seperti di film. Kadang ia datang pelan-pelan, lewat obrolan biasa yang awalnya terasa sangat biasa saja.
Begitulah awal kisah mengenal suamiku.
Awalnya, kami hanya teman sharing. Tidak lebih. Obrolannya ringan, kadang tentang kehidupan, kadang tentang mimpi, kadang juga tentang hal-hal sederhana yang mungkin kalau dipikir sekarang terasa sepele. Tidak ada rasa berbunga-bunga, tidak ada bayangan akan masa depan bersama. Dia hanya salah satu teman yang nyaman diajak ngobrol.
Dan jujur saja, saat itu aku tidak pernah berpikir bahwa percakapan-percakapan kecil itu sedang menuliskan cerita yang jauh lebih besar.
Waktu berjalan. Hari berganti bulan. Tanpa terasa, sudah hampir satu tahun kami saling mengenal. Beberapa bulan kita lost kontak juga.
Sampai suatu hari, dia mengatakan sesuatu yang benar-benar di luar dugaan.
Dia mengajakku menikah. Dan langsung memintanya kepada orangtua ku.
Yang membuat semuanya terasa semakin tidak masuk akal adalah satu fakta sederhana: kami belum pernah bertemu secara langsung. Hanya ngobrol lewat WhatsApp.
Aku ingat betul bagaimana perasaan saat itu. Campur aduk. Kaget, bingung, bahkan sempat berpikir, “Serius ini?”
Bukan karena aku tidak menghargai niat baiknya, tapi keputusan menikah adalah hal yang besar. Apalagi dengan seseorang yang belum pernah aku temui secara langsung.
Di titik itu, aku sadar bahwa logika saja tidak cukup untuk menjawab semuanya. Maka aku melakukan satu hal yang sejak awal selalu diajarkan: meminta petunjuk dari Allah.
Aku melakukan salat istikharah.
Dalam doa yang sederhana itu, aku hanya meminta satu hal: jika dia memang yang terbaik, dekatkan. Jika bukan, jauhkan dengan cara yang baik.
Aneh rasanya menjelaskan, tapi setelah istikharah, hatiku justru menjadi jauh lebih tenang. Keraguan yang sebelumnya begitu ramai di kepala perlahan mereda. Tidak ada tanda-tanda yang dramatis, tidak ada mimpi aneh, hanya satu perasaan yang sangat jelas: hati terasa mantap walaupun ketika itu ada serangan dari luar tetapi hati ku tetap mantap memilihnya.
Dan dari situlah aku mengambil keputusan.
Aku menerima lamaran itu.
Kadang kalau dipikir-pikir sekarang, perjalanan ini terasa unik. Kami memulai semuanya bukan dari rasa cinta yang besar, tapi dari percakapan, kepercayaan, dan doa.
Mungkin memang benar, tidak semua kisah cinta dimulai dari rasa suka yang meledak-ledak. Ada juga yang dimulai dari ketenangan, dari keyakinan yang tumbuh perlahan, dan dari keberanian untuk percaya pada petunjuk Allah.
Dan dari seorang teman sharing, dia akhirnya menjadi teman seumur hidupku.
Siapa sangka, kan?
AMZ
Selasa, 17 Maret 2026









