Memoritmo: Fix You dan Rumah
Konon katanya, saya yang berzodiak cancer memang ditakdirkan sebagai manusia yang sangat rumahan. Itu ramalan sih. Nyatanya? Yaps, berasa juga sih kalau memang demikian adanya. Dari dulu, saat saya masih pitik dan rumah orangtua tak terlalu lebar untuk saya dan keempat saudara-saudara saya, saya selalu senang berlama-lama di kamar yang sempit dan apek. Berbagi kamar dengan ketiga saudara perempuan lainnya pun terasa tak masalah bagi saya. Saya pikir, saat itu kamar dan rumah adalah tempat ternyaman seantero jagad (karena memang saya belum keliling dunia, wajar sih! hehehe).. Itu saya rasakan ketika masih sangat kecil.
Setelah beranjak dewasa dan makin senang bermain-main di luar, melebarkan sayap pengalaman belajar dan mengeksplornya dari terminal, halte, jalan raya, pos ronda, sekolah, pasar, mall, museum, gunung, air terjun, hutan, lembah, puncak, rumah Onay, pantai, rumah Imron, lapangan segitiga, lapangan basket, pesantren, mushollah, masjid, gereja, vihara, dan banyak tempat lainnya, saya tetap menyukai tempat ini; rumah. Bukan karena saat ini rumah saya terbebas dari tikus dan kecoa. Atau karena ayah kami membangun rumah yang sedikit lebih besar yang memungkinkan kami memiliki satu kamar berdua saja. Bukan. Bukan karena itu semua. Perasaan ini adalah perasaan dimana saya memang sangat mencintai rumah dan seisinya. Lengkap dengan berbagai cerita, pertengkaran dan perselisihan antar saudara. Lengkap dengan ocehan membosankan dan menakjubakan dari ibu saya atau nasihat-nasihat bijak ayah saya. Atau sekadar memori minum kopi dan menonton melodrama bareng ibu. Atau ingatan tentang diskusi pertandingan tinju dengan ayah. Atau cerita tentang apapun didalamnya. Perasaan ini yang selalu menghampiri saya di setiap langkah, di setiap perjalanan.
Bagi saya, rumah adalah tempat dimana kita merasa nyaman menjadi diri sendiri. Melepas beban dari terpaan kepura-puraan atau kenisbian yang ditawarkan dunia. Memang, dunia di luar rumah sana sangatlah indah. Saya juga senang menjelajah dunia luar rumah. Tapi, saya toh akhirnya selalu rindu untuk pulang. Ya, rumah adalah titik awal dan akhir sebuah perjalanan. Seperti halnya titik awal, di sanalah saya memulai niat menjalani hari. Dan juga sebagai titik akhir, di sana pulalah saya melabuhkan segala niat, menemukan perhentian tujuannya. Saya suka rumah karena di dalamnya saya bebas menjadi manusia yang apa adanya.
Dan lagu yang merangkum itu semua ada dalam memoritmo sebuah Fix You karya Coldplay. Entah ini lagu keberapa yang paling saya sukai dari Coldplay. Dan entah kenapa saya tetap mengasosiasikan lagu ini pada makna terdalam tentang rumah meskipun kawan saya bilang lagu ini menggambarkan kegalauan seseorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Yaps, saya setuju juga dengan pendapat kawan saya ini. Tapi, ketika saya sedang dikunjungi oleh makhluk bernama kegagalan dan masalah, selalu, ada suara-suara misterius untuk kembali ke rumah. Lagu ini seakan memanggil-manggil saya untuk membenahi saya dengan nyuruh saya pulang. Ke rumah.
Jika sebgian besar orang memaknai lagu ini pada titik klimaksnya di lirik ini:
Tears stream down your face When you lose something you cannot replace Tears stream down your face And I
Tears stream down your face I promise you I will learn from my mistakes Tears stream down your face And I
Saya justru berpikir bahwa lirik ini :
When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse
And the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
Could it be worse?
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
adalah klimaks dan antiklimaksnya.
Ketika mendengarkan Chris Martin mengalunkan lirik di atas, slide film hidup saya yang terekam dalam memori seakan mengajak berjalan-jalan pada peristiwa gagal S-2 padahal udah packing rapi, atau pada kejadian batal meraih juara, tak jadi mendapat standing applaus dalam kegiatan yang saya organize, atau saat mengecewakan murid-murid saya, saat merasa gagal menjadi guru yang baik, saat merasa semua sia-sia... Ya... home will fix you, pada akhirnya. Semua kejadian itu selalu direcovery di rumah. Ibu, ayah, saudara-saudara saya seakan merentangkan tangannya, menerima semua kegagalan dan ketidakjadian segala rencana yang berbalut harap pada diri saya. Mereka seakan berkata "kamu tetap gadis kecil kami yang terbaik", "kamulah kakak terkeren", atau "kamulah adik terhebat" dan semua memang selalu akan baik-baik saja.
Kemudian saya yakin saat itulah Chris Martin bilang soal light will guide you home...
Selalu ada cahaya yang membimbing saya untuk kembali ke rumah...