Seperti yang kita ketahui, saat ini media online sudah menjadi aspek penting bagi kebanyakan orang dalam melakukan berbagai macam aktivitas. Sering kita temui bahwa perempuan menjadi bahan gunjingan di dunia maya. Terkadang komen-komen yang tertera (yang ditujukan untuk perempuan) suka mengandung ancaman-ancaman dan sexual harrasment. Akibat dari komen-komen tersebut, tidak sedikit perempuan dalam menyampaikan opini melalui media online untuk berpikir dua kali.
Kita sebagai perempuan tidak perlu merasa takut atau insecure. Kita bisa mencontoh respon dari seorang perempuan yang terdapat dalam video di bawah ini jika kalian mendapatkan komen-komen yang tidak diinginkan.
Olimpiade 2016 memiliki cukup banyak kontroversi, yaitu terdapatnya seksisme terhadap atlet perempuan.
Bukan membahas kemenangan para atlet ini, yang difokuskan malah status pernikahan, perbandingan dengan atlet laki-laki, berjasanya suaminya yang juga atlet lain atau suaminya merupakan pelatihnya, pakaian yang dikenakan, bahkan ada yang membahas kutek yang digunakan?!
Perbedaan kata terhadap performa ataupun prestasi antara atlet laki-laki dan perempuan juga sangat berbeda. Olimpiade 2016 merupakan salah satu bukti nyata sexism baik melalui media online ataupun offline.
When women write about politics or technology, or when they pursue an education in a traditionally male field like law, they arereminded of their secondary status through sexualized insults, rape threats, and beauty contests- Blogging While Female: How Internet Misogyny Parallels "Real-World" Harassment
Apa yang kalian pikirkan ketika kalian melihat sorang atlit? Memiliki tubuh yang kuat, berotot dan biasanya diprankan oleh laki-laki. Namun tahukah kamu, di zaman yang modern ini perempuan juga dapat menjadi atlit atau berkecimpung di dunia keolahragaan. Salah satunya adalah Yahya Milutinovic, seorang fitness model. Ia sering menggunggah foto-foto ketika ia sedang berolahraga dan juga bentuk tubuhnya hasil olahraga. Ia bercerita bahwa ketika ia mengunggah fotonya dengan perut sixpack di Instagram ia mendapat komentar jahat yang membuatnya sedih, dalam video tersebut dijelaskan bahwa untuk mendapatkan bentuk badan sehat tersebut ia berusaha sangat keras
Pada jurnal yang berjudul Blogging While Female: How Internet Misogyny Parallels "Real-World" Harassment dijelaskan bahwa ketika perempuan melakukan kegiatan atau pekerjaan yang biasanya dijalani oleh laki-laki mereka cendeung mengalami pelecehan, yang dikomentari justru kecantikan, fisik nya dan lain-lain sehingga permpaun cenderung diremehkan. ketika perempuan berusaha untuk
Berikut beberapa video komersil yang mengangkat tema tentang wanita, dalam video tersebut terdapat beberapa wanita yang memiliki pekerjaan yang “tidk biasa” dan bagaimana masyarakat yang ada di sekitar menaggapinya
Referensi:
Filipovic, Jill. 2007. Blogging While Female: How Internet Misogyny Parallels "Real-World" Harassment. Yale Journal of Law & Feminism: Volume 19
Beberapa bulan yang lalu, dunia sempat dikagetkan oleh kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden di Amerika Serikat. Bagaimana tidak? Pelantun “Make America Great Again” tersebut dikenal sebagai sosok yang kontroversial dalam membuat keputusan salah satunya dalam konteks SARA. Seakan ini menjadi sebuah hal yang plot twist dimana di media sosial banyak sekali dukungan yang diberikan kepada Clinton. Bahkan beberapa media massa di Amerika menyatakan keberpihakannya pada Clinton. Hmmm.. tapi bukan itu fokus dari posting-an ini.
Rupanya, kemenangan Trump yang tak terduga berimplikasi terhadap istrinya hingga tersebarlah meme seperti di atas. Meme tersebut menyinggung latar belakang seorang Melania Trump yang masih belum diketahui secara pasti alasan ia menikah dengan suaminya. Hal tersebut tentu merupakan tindakan cyberbullying dimana rumor tersebut bersangkutan dengan nama baik Melania Trump. Korban cyberbullying tidak hanya terfokus pada feminis saja melainkan perempuan, itu sebabnya Melania ikut-ikutan dibully.
Video tersebut menunjukkan sikap laki-laki yang cenderung agresif ketika terjadi penolakan oleh kaum wanita pada online dating. Kemudian, sikap-sikap yang ditunjukkan tersebut diberi komentar oleh wanita yang menjadi pembawa acara dalam video tersebut. Hal yang muncul adalah mengapa para laki-laki selalu bersikap agresif dan insult the woman. Wanita tersebut pun mengarahkan para laki-laki untuk memberikan penjelasan mengapa mereka bertindak seperti itu. Hal yang mengejutkan adalah respon yang diberikan oleh salah satu akun yang identitasnya dipalsukan. Misogyny pun berlangsung.
Oleh Vir Risky Kustiani, 1506756311
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=7fn67Zjs4Iw
See? Bagaimana media memperlakukan perempuan? Dilihat dari judulnya saja menunjukan bahwa seolah-olah yang salah adalah korbannya atau 'blame the victim'. Kejadian semacam ini tidak hanya terjadi di dunia maya, tetapi di kehidupan sesungguhnya. Masih banyak orang yang menyalahkan perempuan dalam kasus-kasus pelecehan seksual. Dan menjadi perdebatan hingga sekarang. Perempuan dalam ranah maya tidak hanya erat kaitannya dengan perilaku bully-membully tapi bagaimana pandangan media khususnya online media terhadap perempuan. Imam Maulana 1506686305
Munculnya budaya partisipasi aktif pada dunia online di masa kini ternyata memberikan pengaruh negatif pula pada kehidupan masyarakat yang salah satunya adalah meningkatnya online abuse terutama pada perempuan oleh kaum laki-laki. Hal tersebut bisa terjadi dalam berbagai macam jenis (seperti pelecehan seksual, sexist, dan lain sebagainya) dan dalam berbagai bentuk. Seringkali para abuser tersebut melakukannya secara anonymous, namun ada pula yang berani menunjukkan identitas asli mereka.
Foto diatas adalah salah satu contoh di saat seorang aktris dari Amerika bernama Ashley Judd mengalami berbagai pelecehan seksual, menjadi sasaran pemerkosaan dan kematian di internet. Beberapa pelecehan yang terparah yang ia terima tersebut terjadi setelah dia mempertimbangkan tentang sebuah game Kentucky Wildcats.
People are applauding Lamyaa's dad, but they also point out that he and his ideals are a 'minority'.
Sepuluh tahun yang lalu, Jill Filipovic mempublikasikan artikel “Blogging While Female: How Internet Misogyny Parallels Real-World Harassment”. Sady Doyle memperkenalkan hashtag #mencallmethings pertama kali pada tahun 2011. Apa yang dilakukan keduanya kurang lebih adalah menunjukkan perlakuan buruk yang harus dihadapi oleh para perempuan yang menggunakan platform online untuk bersuara.
Di tahun 2017 ini, hal serupa masih terjadi. Salah satunya adalah pada Lamyaa, seorang remaja keturunan Arab yang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat. Seperti kebanyakan anak muda saat ini, ia cukup aktif dalam media sosial. Ketika sedang berdiskusi dalam group chat tentang kebijakan-kebijakan politik Trump, Lamyaa pun mengutarakan pendapat tegas dari sudut pandang perempuan Muslim. Yang terjadi justru salah satu anggota group chat menyerang Lamyaa.
“Stop defending Islam B***h shut up you couldn’t take that scarf off or your dad would beat your ass.”
Untuk membuktikan stereotipe yang salah tentang Islam, Lamyaa segera mengirim pesan singkat kepada sang ayah, yang kemudian membuat kejadian ini viral.
Sementara portal berita lebih banyak menekankan pada percakapan antara Lamyaa dan ayahnya tentang kewajiban ber-hijab, sebenarnya poin yang cukup penting juga di sini adalah bagaimana Lamyaa (dan masih banyak orang lain di luar sana) mengalami kebebasan berpendapat semu di Internet, opini dan pemikiran yang mereka sampaikan seakan tertutup dengan identitas mereka sebagai minoritas, baik dilihat dari gender, seksualitas, ras, dan/atau agama.