Mulut pot pet pot pet biler suruh kemas... #EzzadDanni #2yrs #takpaham #mengomel

seen from United States

seen from Thailand
seen from United States
seen from Thailand

seen from United Kingdom
seen from Maldives

seen from Germany

seen from United States
seen from Canada
seen from Russia
seen from China

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Canada
seen from Netherlands
seen from Spain
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from Yemen
Mulut pot pet pot pet biler suruh kemas... #EzzadDanni #2yrs #takpaham #mengomel
Tindakan dan Tindakan
[Sebuah Re-Post dari tulisan Prie GS di Facebook]
Judul kolom ini sangat saya sukai, Tindakan dan Tindakan. Kenapa? Karena biasanya banyak tindakan disertai omelan. Padahal jika energi ngomel itu dialokasikan untuk menambah tindakan, hasilnya tentu lebih baik. Walau, mengomel tapi tetap bertindak tetaplah lebih baik ketimbang mengomel tapi tidak bertindak.
Saya sendiri tak bebas dari rasa mengomel itu. Malah kalau dituruti, godaan untuk mengomel itu besar sekali. Sumber omelan itu rasanya ada di mana-mana. Di jalan, di pekerjaan sampai di rumah sendiri. Di mana-mana rasanya ada kekeliruan. Ada saja pengendara yang serampangan, ada atasan dan bawahan yang menyebalkan, ada anak-anak yang selalu menempatkan barang secara serampangan. Begitu banyak daftarnya karena di mana-mana banyak sekali ditemui kekeliruan. Banyaknya kekeliruan itu membuat kita terpaku kepadanya hingga lupa pada kekeliruan saya sendiri. Saya baru sadar, bahwa mengomel tentang seluruh kekeliruan itu ternyata adalah sebuah kekeliruan. Keliru pertama: kita menyangka dengan mengomel yang keliru itu akan berhenti. Nyatanya tidak. Keliru kedua: kita menyangka dengan mengomel keadaan akan menjadi lebih baik. Padahal tidak. Omelan selalu membuat keadaan lebih buruk.
Sungguh, setelah saya amati, omelan ternyata hanya mengurangi tindakan. Siapa saja yang mengomel ternyata cenderung tidak bertindak. Anak saya yang kehilangan alat sekolahnya cenderung ngomel ketimbang berpikir menyiapkan tindakan yang harus diambil kalau barang itu benar-benar hilang. Istri saya yang karena pembantu kesiangan sibuk ngomel ketimbang langsung mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Saya yang karena sopir telambat datang sibuk uring-uringan ketimbang langsung mengeluarkan mobil sendiri toh itu juga soal yang mudah saya kerjakan.
Kini, setiap ada dorongan mengomel saya segera mengubahnya menjadi tindakan. Agak berat pada awalnya, tapi segera saya yakini, bahwa berat itu.hanya selalu awalan Setelah ia menjadi kebiasaan yang berat itu menjadi biasa-biasa saja. Kalau sopir terlambat saya buka gerbang sendiri dan segera mengerjakan soal-soal yang sebaiknya segera dikerjakan. Hasilnya pekerjaan tetap berjalan dan pak sopir yang karena tak enak hati berubah makin rajin dan makin hati-hati.
Dari hari ke hari makin saya yakini bahwa hanya tindakan yang mengubah keadaan, bukan omelan.
Omelan tentang perayaan tahun baru.
Saya bukan termasuk orang yang gemar merayakan pergantian tahun baru dengan gegap gempita. Teman-teman, tiupan terompet, dan kembang api (walaupun saya sangat senang melihat kembang api) bagi saya itu hanya ritual aneh yang membuat saya terheran-heran.
Ramai orang-orang keluar rumah dan turun memenuhi setiap sudut jalan raya. Katanya mereka merayakan tahun yang berganti. Padahal pergantian tahun adalah sebuah keniscayaan, itu suatu hal yang pasti terjadi. Lalu apa yang dirayakan? kalau ternyata keesokan harinya orang-orang terlambat bangun pagi padahal Tuhan menebarkan rezeki dan keberkahan pada pagi hari, sampah-sampah menumpuk berserakan membuat kotor jalanan, dan ratusan juta dana yang dikeluarkan pemerintah kota untuk menghibur warganya padahal masih banyak warga miskin yang pada esok harinya, bulan berikutnya dalam keadaan lapar.
Kita hidup dalam banyak aktivitas tanpa esensi -makna dan manfaat-, dalam sebuah kesenangan semu. (Oh, saya berharap kalau saya bukanlah orang yang terlalu serius dan kaku menanggapi apa yang dilakukan banyak orang semalam). Jadi apa yang baru kalau diri kita tak lantas menjadi dewasa dengan berpikir mana hal yang esensi dan mana yang tidak? dan jangan bilang kalau kita tak punya sederet rencana untuk satu tahun yang baru ini!
" Meski waktu adalah pedang, tak pernah kita punya perasaan bahwa sewaktu-waktu kita bisa terpenggal. Kita masih banyak menjalani waktu tanpa rencana, tanpa kesadaran mencipta sejarah. Padahal kita tak pernah diajarkan untuk menjalani hidup apa adanya. - Herry Nurdi dalam buku 'Living Islam' "