Beberapa hari ke belakang, saya terkena exposure (lagi, dan pasti akan terjadi lagi) terhadap konten yang mengatakan bahwa secara ilmiah Tuhan tidak/belum bisa dibuktikan (maka yang mengklaim adanya Tuhan-lah yang harus membuktikannya) dan bahwa ketika kita berdoa, sebenarnya kita bukan berdoa kepada Tuhan, melainkan kepada subconsciousness (alam bawah sadar).
Awalnya saya anggap angin lalu saja. Tapi, karena sudah beberapa kali, seperti biasa, saya jadi “gatal”..
Bagaimana bisa kita menjadi satu-satunya “binatang” dengan kesadaran diri?
Justru saya tidak mengerti dengan orang yang yakin sekali bahwa Tuhan itu tidak ada. Bahwa Dia hanya konstruksi pikiran kita.
Kira-kira premis dasarnya adalah semesta terjadi akibat rangkaian "kebetulan" yang kompleks dalam milyaran tahun, dan karenanya kita hanyalah binatang yang super pintar--bukan makhluk spesial yang diciptakan suatu kekuatan yang "Maha".
Begini. Kalau kita hanyalah “binatang” yang pintar, bagaimana bisa jarak kepintaran antara manusia dengan binatang manapun sebegitu jauhnya sehingga hanya manusia makhluk yang mampu mengolah bumi ini?
Makhluk terpintar setelah manusia paling simpanse dan lumba-lumba. Dengan segala kehebatannya (echolocation, sistem komunitas), bagaimanapun kecerdasan mereka masih jauh di bawah kecerdasan manusia.
Dari ratusan ribu tahun manusia dan binatang-binatang lain hidup, mengapa hanya manusia yang bisa mengembangkan kehidupannya menjadi peradaban? Mengapa simpanse tidak mengakumulasikan pelajaran mereka dan memiliki semacam peradaban yang mendekati manusia?
Jika self-awareness, consciousness, adalah proses yang terjadi dengan sendirinya, tanpa didesain, diatur siapapun, mengapa terjadi disparitas yang sebegitu jauhnya? Dalam soal fisik saja, misalnya, ada kemiripan antara manusia dengan primata. Mengapa dalam hal self-awareness itu tidak terjadi?
Bagaimana disparitas yang signifikan ini tercipta dengan spontanitas, kebetulan? Bagaimana kamu menjelaskannya, protein-protein tertentu “tidak sengaja” bertemu lalu memunculkan consciousness, begitu? Jadi kalau kita bisa mereplikasi organ atau senyawa yang menghasilkan “kesadaran” atau akal, kita bisa membuat makhluk baru yang mampu mempertanyakan dirinya sendiri dan alam semesta?
Ilmu pengetahuan mengajarkan skeptisisme, kecuali untuk skeptis terhadap kemampuan ilmu pengetahuan sendiri
Saya jauh dari kata ilmuwan, tapi common sense saya berkata: anggapan bahwa kesadaran kita sendiri adalah sesuatu yang “tidak sengaja” tercipta dalam proses evolusi alam semesta, tanpa desain dan perintah siapapun, itu ganjil. Too good, too perfect, to be true.
Memang tidak ada manusia yang bisa membuktikan--dalam kacamata ilmu pengetahuan yang hari ini kita pahami (bisa diindera), bahwa Tuhan itu ada. Tapi, apakah framework ilmu pengetahuan itu sebegitu sempurnanya sampai bisa membuktikan apapun yang tidak bisa kita pahami? Jadi, ketika sesuatu tidak bisa dibuktikan secara ilmiah (lagi-lagi, versi ilmu pengetahuan hari ini), maka BISA DIPASTIKAN sesuatu itu tidak valid, tidak ada?
Mengapa bahkan kita tidak bertanya tentang kemampuan ilmu pengetahuan itu sendiri dalam mengungkap kebenaran? Mengapa kita tidak skeptis terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri dalam memahami seluruh aspek tentang alam semesta?
Jangankan bicara wujud Tuhan, memahami apa itu “infinity” saja kita tidak mampu. Ya, secara literal kita bisa sekadar bilang “tidak terbatas”, tapi coba kamu benar-benar bayangkan suatu ketidakterbatasan. Misalnya, sesuatu yang besarnya tidak terbatas. Ayo, coba.
Kamu lihat bumi yang besar ini setelah di zoom out ternyata ada batasnya. Lalu lihat ruang angkasa, ini saja kita belum tahu apakah ada batasnya atau tidak (ilmu pengetahuan hari ini mengenal konsep observable universe dan unobservable universe--ini benar-benar di luar jangkauan “penglihatan” manusia), tapi katakanlah ada ujungnya meski terus berekspansi.
Sekarang coba bayangkan “sesuatu” yang mengklaim dirinya “Maha”, infinitely, Besar. Kamu zoom out sejauh apapun tidak ketemu ujungnya. Nah, wujud keseluruhannya seperti apa, pikiran kamu bisa comprehend (memahaminya, menguasainya) ngga? Bisa bayangkan ngga seperti apa “tempat” yang bisa meng-contain, memuat, "sesuatu” yang besarnya tidak terbatas itu? Atau coba bayangkan deh, sebuah "area” tanpa ruang dan waktu.
Hahaha, apa itu ruang dan waktu saja kita masih belum benar-benar paham. Tapi begitu yakinnya bahwa Tuhan itu cuma konstruksi pikiran kita, hasil evolusi untuk menjelaskan berbagai fenomena yang tidak kita pahami (hujan, sakit, siang, malam, mati, dll) dahulu kala. Lalu, di era modern setelah kita memahami berbagai fenomena alam, kenapa banyak orang yang masih bertanya tentang kenapa dia diciptakan, apa tujuan hidupnya? Dari mana itu datang? Kira-kira, simpanse dan lumba-luma mampu mempertanyakan hal seperti itu lalu melakukan pencarian? Lalu “mengarang” konsep Tuhan?
Kita sering dinasihati untuk "tidak terlalu kritis" dalam beragama, takutnya jadi tidak percaya Tuhan lagi. Menurut saya, justru cara terbaik memahami diri sendiri, agama, dan Tuhan adalah dengan berpikir. Keraguan bahkan penolakan terhadap eksistensi Tuhan sekalipun bisa kita tanggapi dengan santai, tanpa perlu cemas dan malah jadi agresif, karena kita menapaki proses mencapai keyakinan kita secara organik.
Jadi, buat rekan-rekanku yang percaya akan adanya Tuhan, jangan takut berpikir. Jangan takut bertanya. Jangan khawatir bahwa berpikir kritis tentang diri sendiri, alam semesta, bahkan Tuhan, akan membawa kita ke jalan yang sesat. Justru berani berpikir dengan otentik, dengan tulus, dengan benar, akan membuat kita semakin yakin akan kebenaran (yang mungkin awalnya kita terima for granted).
Pendapat saya, kita menjadi tersesat ketika kita begitu yakin bahwa kita sudah tahu kebenaran dari sesuatu secara menyeluruh (completely exhaustive), lalu titik, selesai, menutup kesimpulan. Kita tersesat ketika kita begitu yakin tidak ada lagi yang lebih benar dari tools dan proses yang kita jalani, sehingga tidak ada lagi hasil yang lebih benar dari yang kita dapat. Kita menjadi tersesat ketika kita tidak menerima bahwa lebih banyak hal yang belum dan tidak bisa kita mengerti daripada hal yang sudah dan bisa kita mengerti dengan otak kecil kita ini.
Berpikir adalah jalan kita menemukan kebenaran alam semesta, menemukan Tuhan. Secara khusus, bagi saya pribadi, Islam adalah “tawaran paket memahami alam semesta dan Tuhan” yang paling kompatibel dengan akal. Dan saya percaya, untuk benar-benar meng-install-nya dalam diri kita, kita perlu berinteraksi dengannya dengan berpikir. Bukan memperlakukannya sesederhana daftar instruksi tentang do’s and dont’s (halal, haram, halal haram).
Afalaa yatafakkaruun, afalaa yatadabbaruun, afalaa ta’qilun.
Tidakkah mereka memikirkan? Tidakkah mereka merenungkannya? Tidakkah kamu menggunakan akal?
Catatan: Ketulusan dan kebenaran dalam berpikir membawa kita berhati-hati dalam memahami apapun. Membuat kita mengerti bahwa banyak hal yang tidak kita mengerti. Jadi, mestinya ini tidak membuat kita jadi belagu untuk menafsirkan Al-Quran dengan pikiran kita sendiri berbekal terjemahan.