Baskara’s
Cerita ini adalah seri ikut-ikutan susah move on dari teleseri Kesempurnaan Cinta di Net 😄 +++
“Bundaaa, lihat buku tulis aku yang sampulnya warna biru ngga?” Raffa memulai paginya dengan membuat kerusuhan, mondar-mandir ke sana ke mari.
“Adeek, kebiasaan deh kamu sejak bunda Ren jadi bunda kita kamu apa-apa ngandelin Bunda. Cari sendiri dong, kamu kan udah gede.” Yasmin menyahuti kesal dengan sikap adiknya belakangan ini.
Raffa mengerucutkan bibir, “ Gak apa-apa dong Kak. Aku kan seneng sekarang kita diurusin sama bunda. Lagiaaan…”
“Hayooo… lagian apa? Kayanya ayah tau nih kenapa adek Raffa jadi rewel gini sekarang.” Satria yang sedari tadi tertawa-tawa mendengar keributan anak-anaknya mulai menyahuti dengan jahil.
“Adek Raffa takut kesaing ya sama adik barunya? Iya sayang ya? Nih bukunya, ternyata keselip di tumpukan buku-bukunya ayah.” Renata datang dengan perutnya yang mulai buncit.
Kehamilan Renata sudah memasuki usia 33 minggu, jadwalnya melahirkan kurang lebih tinggal satu bulan lagi. Satria, Yasmin, dan Raffa masih sering meributkan nama yang akan mereka berikan untuk calon penghuni baru rumah mereka. Satria dan Renata sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin anaknya, “Biar anak ini bikin kejutan buat kita semua, Bun.” Jawab Satria saat Renata menanyakan alas an Satria memberi tahu dokter untuk tidak menyebutkan jenis kelamin anak mereka. Dokter hanya manggut-manggut sambil tersenyum melihat dua pasangan yang menurutnya manis sekali sejak awal pemeriksaan kehamilan 7 bulan yang lalu.
“Loh..loh.. Bunda kenapa?” Raffa panik melihat bunda barunya meringis-ringis kesekitan.
“Bun. Kenapa bun? Kita ke rumah sakit sekarang ya?”
Renata sudah tidak sanggup menjawab. Perutnya terasa sakit sekali. Seperti mau melahirkan, tapi jadwalnya masih satu bulan lagi pikirnya. Satria tanpa pikir panjang langsung menggendong Renata ke dalam mobil, anak-anaknya menyusul sambil menelepon kakek, nenek, dan eyangnya.
+++
“Tapi dok, harusnya kan masih satu bulan lagi? Apa ini tidak bahaya untuk istri dan anak saya?” Satria panik setelah dokter menyatakan Renata harus melahirkan saat ini juga.
“Bapak berdoa saja, kami tim dokter akan melakukan yang terbaik, yang saat ini Ibu Renata butuhkan adalah dukungan dari Anda sebagai suami dan dukungan dari keluarganya.”
+++
“Eyang, Bunda Ren akan baik-baik aja kan? Bunda Ren ngga akan ninggalin kita kaya Bunda Rahma dulu kan?” Yasmin terus menangis sambil memeluk eyangnya. Satria sudah ada di dalam ruangan bersalin menemani Renata berjuang.
“Kakak ngga boleh bicara begitu dong, Sayang. Bunda Ren pasti kuat, dan akan semakin kuat kalau kita mendoakannya dari luar. Kakak doain aja bundanya ya, ajak adek Raffa berdoa buat bunda juga ya Kak.”
Yasmin mengangguk.
Setelah menunggu dua jam di luar ruang bersalin, terdengar suara bayi menangis bersautan. Semua keluarga yang menunggu tersenyum setengah lega sambil menantikan kabar baik dari dalam ruangan. Dokter keluar dengan senyuman membawa kabar baik, dan meminta keluarga bersabar menunggu untuk bertemu Renata sampai dipindahkan ke ruang rawat inap.
“Ayaah, Bunda, mana adik Raffa?” Raffa yang pertama kali membuka pintu ruangan Renata di rawat, setelah berlari penuh semangat.
“Kok adiknya aja sih yang ditanyain Dek? Bundanya ngga? Oh iya, sekarang bukan adek Raffa lagi ya? Kakak Raffa?” Renata pura-pura cemburu.
“Eh iya Bunda? Bunda gimana keadaannya? Sehat ngga? Seru ngga Bunda lahirannya tadi?”
Semua tertawa mendengar pertanyaan Raffa. Adiknya yang baru saja lahir masih di ruangan inkubator, karena mereka lahir lebih cepat, walaupun keadaannya baik-baik saja.
Setelah mengobrol banyak dengan Renata, semua keluarga yang datang, diantar Satria melihat anaknya yang baru lahir dari luar ruangan bayi. Semua terkejut karena ada dua kotak bayi yang nama belakangnya Baskara.
“Ayah, adik aku yang baru ada dua Yah? Adik aku kembar?” Yasmin antusias sekali.
+++
“Jadi siapa nama adik-adik kalian, Raffa, Yasmin?” Tanya Hanna yang menjenguk Renata setelah keluarga baru itu dibolehkan kembali ke rumah.
“Yang cowok namanya Aldi Anugrah Baskara, yang cewek namanya Dhini Yasamin Baskara, Tante. Bagus kan? Yang cewek aku yang bikin namanya.” Yasmin menjawab dengan antusias. Renata dan Satria tersenyum melihat Yasmin dan Raffa bahagia dengan kehadiran adik-adik barunya, mengingat Raffa yang sempat khawatir perhatian Renata teralihkan dengan adik-adik barunya. Kenyataannya Satria memang tidak salah menjadikan Renata istrinya. Renata tetap menyanyangi, mengurus dengan baik dirinya, Yasmin, Raffa, juga dengan Aldi dan Dhini.
“Iya Mbak Hana. Nama Dhini Yasamin Baskara itu Kak Yasmin yang pilihin, dia seneng banget waktu tau adiknya ada yang perempuan.” Sahut Renata sambil menggendong Dhini, sementara Satria memangku Aldi di gendongannya.
“Aku bahagia banget lihat keluarga kalian sekarang Ren,” ucap Hana dengan tulus.
“aku juga bawa kabar bahagia. Kehadiran kalian pasti akan bikin acara kami jadi ramai ya. Keluarga besar.” Lanjut Hana sambil memberikan undangan pernikahannya dengan Willy satu bulan lagi.
+++









