Hari itu, hari Jumat di siang hari setelah jam makan siang. Aku membuka pintu, memasuki cafe yang namanya terkenal seantero jagat raya. Aku langsung melihatnya, sedang duduk di pojok, bersandar ke tembok sambil memainkan smartphone. Dia melihat ke arah pintu, melihatku. Masih dalam posisi bersandar seolah sedang malas, dia tersenyum kepadaku. Dia, adalah atasanku. Aku membuat janji wawancara dengannya untuk bahan penulisan tesisku.
Namanya Made, usianya terpaut 5 tahun lebih tua dariku. Menjabat sebagai COO yang juga adalah Wakil Direktur, sahabat owner. Mendirikan, membangun, dan menjalankan perusahaan bersama-sama. Sebagai COO, dia pintar dan berwawasan luas dalam bidangnya, serta tahu keputusan apa yang harus diambil secara cepat dan tepat di situasi tertentu yang mendesak. Kepemimpinannya cenderung santai namun sebenarnya dia perfeksionis dalam hal detail, tapi pada dasarnya tetap mementingkan hasil. Cukup berkarisma untuk menjadi pakbos muda di perusahaan startup. Belum menikah, tapi setahuku dia punya pasangan. Meski workaholic, dia termasuk bos muda yang asik, bisa bercanda dengan karyawan-karyawan Gen Z-nya. Hanya saja, semua sifat baiknya yang orang tahu, hanya bagian dari persona yang dia ciptakan. Hampir 3 tahun aku mengenalnya, bekerja di bawah arahannya langsung membuatku banyak berinteraksi dengannya, memahami karakternya, menemukan sifat aslinya yang tak ia tampilkan dalam persona.
Aku membalas senyumannya, menghampiri, dan duduk di depannya.
"Panas banget." ku bilang (sambil kipas-kipas), membuka percakapan.
"Panas banget ya di luar? Tapi lama-lama di sini dingin kok." ucapnya yang tidak ramah dengan suhu ruangan dingin.
"Pak, makasih ya udah dateng buat wawancara tesis saya." ucapku lagi. Aku memanggilnya 'Bapak', meski di awal proses rekrutmen aku sempat memanggilnya 'Mas'.
"Iya, abis S2 mau ngapain? Lanjut S3? Apa mau nikah? Udah ada cowok belum? Hm?" tanya dia usil dan bertubi-tubi, salah satu hal yang biasa dia lakukan kepadaku.
"Pak Made sendiri kapan mau nikah?" aku membalasnya, ketus.
"Hahaha, salah ya saya nanya. Jadi boomerang ke saya. Nanti saya nikah kalo mba mau saya poligami jadi istri kedua." ujarnya mulai bercanda kurang ajar, juga salah satu hal yang biasa dia lakukan denganku. Dia memanggilku dengan sebutan 'Mbak'.
"Gak masalah sih pak, bapak juga bakal jadi suami kedua saya." jawabku yang tidak pernah mau kalah darinya.
"Oh, haha bisa gitu ya? Oke, deal?" dia mengajakku salaman, aku mengabaikannya.
Aku lalu mulai membuka tas, mengambil laptop dan perangkat lainnya. Aku menyalakan laptop dan bertanya, "pak, password wifi-nya apa?"
"Coba aja langsung konekin, biasanya langsung bisa tanpa password." jawabnya, dan langsung kucoba.
"Gak bisa pak, gak konek. Mungkin harus tetep masukkin password."
"Pake punya saya aja kalo gitu" dia menunjuk modem kecil tanpa kabel yang selalu dibawanya kemana-mana.
"Passwordnya apa pak? Made imoet ya?" tanyaku iseng menggodanya, dia tertawa kecil.
"Passwordnya I love you" dia membalas leluconku, tapi tidak lucu.
"Hurufnya gede kecil gak pak?" kubalas dengan tidak menggubris bercandaannya. Dia kemudian memberiku password wifi-nya yang adalah serangkaian angka dan huruf random. Aku berterima kasih.
Kemudian dia bertanya "di sini dingin banget, mau tukeran tempat duduk gak?" padahal keringatku belum sepenuhnya kering.
"Yaudah pak, saya di situ" jawabku mengiyakan. Kita bertukar posisi, aku di pojok dekat tembok, dia di depanku, yang padahal posisi tempat dudukku lebih dingin karena terpapar AC langsung.
Aku melihat smartphonenya yang sedang diisi ulang tiba-tiba menyala karena muncul notifikasi dari aplikasi yang terkenal untuk mencari jodoh "you have one notification from Timber". Hampir saja terucap di ujung bibirku yang gatal ini "pak, ada notif dari Timber".
Dia mengambil smartphonenya dan memberikan barang-barangku yang ada di kursi sebelahnya. "Oh, di sini malah lebih dingin ya", ujarnya.
"Trus gimana pak? Mau pindah lagi?" aku sedikit kesal.
"Pindah ke situ aja yuk" dia menunjuk kursi di sudut ujung, dekat meja kasir. Aku menuruti kemauannya yang kadang cukup banyak dan ribet.
Kita pindah ke kursi ujung, aku tetap di posisi dekat tembok, dia di depanku. Kita memulai wawancara, aku merekam percakapan kita.
"Enggak pak, santai aja."
Aku memberinya 10 pertanyaan yang berdasar dengan analisis 5W1H, sisanya pertanyaan terbuka untuk mendapatkan gambaran dan pendapat darinya secara luas. Sesuai ekspektasiku, dia bisa memberikan penjabaran yang sangat baik dan kaya akan informasi. Setiap penjelasannya mengandung isi, walau beberapa kali diulang-ulang. Skill komunikasi dan analytical thinkingnya tidak perlu diragukan. Dia memberiku banyak bahan analisis untukku yang sedang stuck, bingung akan menulis apa lagi di bab 4. Setiap jawaban yang ia lontarkan seolah kata-kata yang keluar dari ChatGPT ketika kita mengetik satu pertanyaan.
"Oke sekarang pertanyaan terakhir ya pak"
"Oh udah terakhir? Cepet banget, ada pertanyaan lagi gak?" dia sedikit terkejut, menantangku.
Tentu saja ada pertanyaan-pertanyaan lagi, namun pertanyaan tambahan kutanyakan dari sisiku sebagai HRD, bukan sebagai mahasiswa Magister semester akhir yang sedang menyusun tesis.
"Saya cek dulu rekamannya ya pak, kalo gak kedengeran, kita ulang." kataku bercanda.
"Haha, tahu gitu saya rekam sendiri aja pake hp saya." jawabnya, sedikit kesal. Aku tertawa, senang membuatnya kesal.
Aku berhenti merekam, mengecek apakah rekamannya terdengar dengan jelas. Dia masih berbicara terkait topik tesisku yang sebenarnya kuambil dan kukembangkan dari tugas khusus yang dia berikan kepadaku. Tentu saja aku tidak mendengarnya dengan jelas, aku sedang mendengarkan rekaman, dan dia sadar itu.
"Jelas pak" aku mengangguk puas, aman.
Kita lalu lanjut berdiskusi terkait tugas-tugas pekerjaan, isu-isu di kantor, review untuk para subordinate lain yang bekerja di bawah arahannya. Aku melihat gelas es kopinya sudah mulai kosong, aku bertanya "pak Made mau minum lagi? biar saya pesenin."
"Gausah mba. Mba aja silakan kalo mau pesen minum." dia menolak dengan gengsi. Padahal paham betul aku memboykot produk yang dijual cafe ini. Satu-satunya alasanku datang ke cafe ini di cabang manapun, tentu saja karena memenuhi permintaannya yang hobi meeting di cafe ini. Sudah jadi cafe favoritenya.
Dia memegang kedua lengannya, memperlihatkan gestur kedinginan. "Kok masih dingin aja ya, di sini juga."
"Masih kedinginan pak?? Nih mau pake jaket saya?" geregetan, kutawarkan jaket jeansku yang tergeletak ke luar dari tas.
"Gausah. Nanti wanginya nempel, kebayang-bayang sampe mau tidur." jawabnya meledek, tersenyum usil. Tidak kurespon, kuteringat lirik lagu Bernadya 'kuyakin masih ada sisa wangiku di bajumu'.
Kita lanjut berdiskusi, di tengah-tengah penjelasannya, dia tiba-tiba berkata "mba, pengen boker". Jujur, laki-laki memang tidak bisa ditebak, terlepas dari konteks pekerjaannya dan apa yang sedang ia kerjakan.
"Yaudah sana boker pak, jangan di sini" aku mengomel.
"Hari ini saya belum boker, kalo di rumah susah. Sukanya di luar" dia tiba-tiba curhat, salah satu kebiasaannya juga yang suka ia lakukan denganku.
"Ohh hahaha gak betah di rumah ya?" aku menertawakannya.
"Kadang saya kepikiran apa harus beli toilet yang luxury ya biar nyaman boker di rumah"
"Hahahaha!" aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia lalu pergi ke toilet dengan tidak nyaman, sepertinya AC cafe membuatnya masuk angin. Aku sering mengejeknya "gak bisa tinggal di Eropa dong pak, kalo gak kuat dingin" "iya, kalo di tempat dingin saya menciut, mengecil" jawabnya membuat ku tertawa membayangkannya.
Sekembalinya dia, aku bertanya "udah?". Dia menggeleng, "toiletnya jelek". Aku tertawa tak habis pikir.
Dia duduk di sampingku, kebetulan kursi sebelah kami kosong. Kita lanjut berdiskusi, tidak terasa waktu Ashar tiba. Aku izin sholat sebentar.
"Saya sholat dulu ya pak, titip barang-barang."
"Iya, nanti saya jual semua."
Setelah ku kembali, dia masih duduk di samping kursiku, sambil mengerjakan sesuatu di tabnya.
Aku duduk di tempatku, kembali menawarkan jika dia mau pesan minuman lagi, kembali dia menolak. Kemudian kita lanjut berdiskusi.
Kita sedang membicarakan kebutuhan onboarding employee, aku bilang "pak, kita butuh ini" sambil menunjuk id card-ku. Dia melihat id card-ku dengan sedikit bingung, "kok beda?".
Aku memakai dua id card, id card kantor sebagai kartu akses gedung dan id card yang kubuat sendiri dengan logo personal brand yang kubuat untuk usaha kecil-kecilan pada masa pandemi, sebagai kartu penyimpanan saldo digital untuk naik transport publik.
"Ini company saya, kalo ini company bapak" kataku dengan santai, sambil membolak-balik id card yang kukalungkan.
"Wihh, punya double job?? Mana sini, coba liat!" terkejut dan penuh rasa penasaran, dia memaksa untuk melihat id card-ku. Meski postur tubuhnya kurus, tenaganya kuat untuk memaksaku memperlihatkan id card yang kupakai. Aku tidak mau kalah, aku belum percaya diri mengenalkan personal brand-ku kepadanya. Aku menahan tangannya sekuat tenaga yang sudah memegang kartuku, bersikeras menolak untuk memperlihatkannya. Aku bisa merasakan kita membuat sedikit kehebohan. Jika terpantau dari kamera CCTV, mungkin kami berdua seperti pasangan yang perempuannya ketahuan selingkuh, dan laki-lakinya penasaran mau lihat siapa si selingkuhan itu dari smartphone perempuannya.
Dia akhirnya mengalah, melepaskan kartuku. Aku melepas tangannya.
"Saya cari sendiri aja di Google." ucapnya, seraya mengambil smartphone, ternyata belum menyerah.
"Enggak ada pak." susah payah kucoba meraih smartphonenya, dia memegang tanganku, menahan.
Pencariannya tidak berhasil, dia malah menemukan brand-brand orang lain yang namanya sama denganku. Aku menghembuskan napas lega. Kita lalu kembali ke mode serius, melanjutkan diskusi.
Masih di posisi duduk yang sama, dia di sampingku tapi kali ini posisinya lebih merapat. Dia bercerita tentang review training yang dijalani subordinatenya, berkata bahwa materi training dari lembaga tersebut mirip seperti assessment yang pernah ia berikan kepada si subordinate pada awal periode pengangkatan. Dia bercerita penuh bangga, aku meledeknya "jie..." dia salah tingkah, mencubit lenganku sambil tertawa kecil.
Hari menjelang petang, senja di luar jendela mulai menampakkan warnanya. Hawa semakin dingin. Persoalan suhu ini belum selesai-selesai.
"Sumpah makin dingin." dia bicara pelan.
"Jujur pak, saya juga ngerasa dingin." kali ini aku mengiyakan. Menjelang malam, angin di luar lumayan kencang.
Dia mendekat dan berbisik kepadaku "gimana kalo kita saling menghangatkan diri...?"
"Enggak mau." langsung kurespon dengan ketus, dia tertawa. Entah apa di pikirannya, laki-laki memang susah ditebak, dan kalau ini adalah isyarat, aku tidak mau mengerti.
Aku melihat petugas cafe mulai menutup jendela-jendela, menandakan cafe sebentar lagi akan tutup. Aku baru menyadari tamu hanya tinggal kita berdua, ditambah dua orang lain yang baru saja beranjak keluar. Cafe ini berada di dalam gedung perkantoran, sehingga tidak heran bila jam operasionalnya mengikuti jam kerja kantor 09.00-18.00.
Aku sedikit panik, mengingat harus mengumpulkan dokumentasi untuk lampiran wawancara ini.
"Pak, kita foto dulu boleh ya?"
"Lampiran wawancara. Boleh ya pak?"
Dia bergegas berdiri dan memberikan smartphonenya ke petugas cafe. Aku terperangah heran. Kenapa dia menggunakan smartphonenya? Ini kan untuk kepentinganku, keperluan tesisku. Ya, aku tahu kamera smartphonenya memang bagus. Tapi, bukankah itu berarti dia juga akan punya foto kita tersimpan di smartphonenya? Kecuali dia menghapusnya nanti.
Tak sempat ku berkata, petugas cafe yang sudah memegang smartphonenya bertanya "fotonya mau landscape atau portrait ya kak?"
"Dua-duanya boleh mba? Fotonya on-cam sama off-cam ya mba." aku menjawab.
"Banyak ya requestnya." dia meledek. Dia yang kumaksud bukan petugas cafe.
Dia kemudian berpindah duduk di depanku, di kursi asalnya. Sambil membuka tabnya, aku berpura-pura mengetik di laptopku.
"Pak, gimmick ya. Ceritanya bapak lagi jelasin, saya ngetik" perintahku, kita berdua tertawa, tapi dia menurut.
Petugas cafe ternyata sudah mulai ambil foto, tanpa kita berdua tahu.
"Pak, gimmick tangannya dong, kayak lagi ngejelasin gitu."
Sambil menahan tawa, dia memainkan tangannya bergaya seolah sedang menjelaskan sesuatu. Petugas cafe selesai mengambil foto kami, memberikan smartphone pak Made kepadaku.
"Boleh dicek dulu kak hasilnya."
Kupikir petugas cafe hanya mengambil empat foto saja, on-cam dan off-cam masing-masing dua. Kugeser layar ke tiga foto lainnya, cukup puas dengan hasil fotonya. Setelahnya pak Made mengambil smartphonenya untuk melihat juga hasil fotonya seperti apa.
"Kok saya lemes banget ya mukanya." katanya.
Aku tertawa, "lemes kayak gabisa boker gitu ya pak?" dia juga ikut tertawa. Dia lalu mengirimkan foto-fotonya kepadaku dan setelah kulihat, ternyata ada lebih dari empat foto yang diambil. Kebanyakan foto off-cam kita yang sedang gimmick sambil menahan tawa. Aku berharap penuh dia akan menghapus foto-foto itu dari smartphonenya.
Waktu menunjukkan pukul 17.30, jam kerjaku selesai, waktunya pulang. Hari Jumat adalah waktuku pulang ke rumah. Bekerja di luar kota membuatku menyewa kos dan pulang ke rumah hanya seminggu sekali setiap hari Jumat.
"Jam 17.30 pak, ayo kita pulang." ucapku semangat. Tapi dia masih menahanku dengan pertanyaan bertubi-tubinya terkait diskusi pekerjaan. Sampai di titik aku tidak lagi menjawab pertanyaannya, aku sibuk mengakses aplikasi ojek online untuk mengecek berapa tarif perjalanan dari cafe ke pool travel.
Aku ingat dua pertanyaan terakhirnya, "kalian seneng gak sih kerja di kantor? Apa kalian merasa kurang diperhatiin sama bos-bos?". Sudah malas aku membahas topik ini, sekalipun mau dibahas tidak akan cukup waktunya, dan aku sudah mau pulang.
"Pak, kalo pesen ojol dari sini, keluarnya dari pintu mana ya?" tanyaku tanpa menggubris pertanyaannya. Untungnya dia merespon pertanyaanku, diskusi pekerjaan berakhir di situ.
Aku terkejut melihat nominal tarif perjalanan yang tinggi, jauh lebih tinggi dari tarif hari Jumat biasanya. Mungkin karena lokasi cafe lebih jauh daripada lokasi kantor ke pool travel.
"Mau bareng saya?" dia menawarkan.
"Emang bapak mau kemana?"
"Saya kan ke arah sana juga, tapi saya mau ambil mobil sewa dulu di deket kantor." dia bercerita besok adiknya wisuda, orangtuanya yang dari luar pulau datang untuk ikut acara besok. Itulah alasan kenapa dia sewa mobil.
"Lama gak ya pak?" tanyaku khawatir, mengingat mobil travel yang kunaiki terakhir berangkat jam 20.00.
"Enggak sih, tinggal ngambil aja. Paling nanti isi bensin dulu ke pom." dia meyakinkanku.
"Oke kalo gitu." aku sudah setuju, meski dalam hati masih ragu.
"Kita berangkat habis Magrib aja ya, saya sholat dulu di masjid seberang." katanya sambil mengecek estimasi lama perjalanan dari titik berangkat sampai tujuan.
Aku mulai ragu lagi, "pak, yakin ya jam 20.00 kita udah sampe sana?"
"Kalo jam 20.00 kita belum sampe sana gimana pak?"
"Saya anter sampe rumah." responnya asal.
"Bener ya pak??" aku bertanya walaupun yakin 100% dia tidak serius.
"Gila kali ya..." ujarnya, ketidakseriusannya terbukti. Dia lalu keluar dan berdiri di depan pintu cafe, aku masih bersiap merapikan barang-barangku, absen pulang melalui aplikasi HRIS, sambil memikirkan gimana kalau nanti jam 20.00 aku belum sampai di pool dan ketinggalan travel.
Seperti dejavu, aku ingat kira-kira setahun yang lalu aku pernah pulang bareng dengannya karena memang rumahnya searah dengan pool travelku. Namun karena rush hour, macet, dan dia lewat rute yang biasa dia lalui ke rumahnya, bukan rute yang biasa kulalui ke pool, kita masih stuck di kemacetan, dan perjalanan belum separuhnya. Aku memaksakan diri untuk turun duluan dan lanjut naik ojol sampai pool. Ternyata mobil terakhir sudah berangkat, jauh-jauh aku kembali ke kos.
Pada waktu itu dia menyesal, meminta maaf padaku dan memaksaku untuk mengganti biaya ojol yang jatuhnya dua kali lipat kukeluarkan dari perjalanan pulang biasanya. Aku menolak. Dia menawarkan untuk memesan makanan untukku, aku juga menolak, karena waktu itu aku baru saja beli makan. Dia menawarkan untuk memesan dessert, seolah masih berusaha mendapatkan simpatiku. Tapi aku juga kembali menolak.
Tidak mau kejadian itu terulang lagi, aku memutuskan untuk menolak tawarannya, pamit pulang duluan.
"Pak, saya naik ojol dari sini aja." aku menghampirinya keluar dari cafe.
"Oh gajadi? Jadinya naik ojol?" tanyanya seperti ada sedikit nada kekecewaan. Aku mengangguk.
"Yaudah yuk, jalannya lewat sini." kita berdua jalan menuju pintu keluar pejalan kaki. Angin berhembus kencang, menembus jaket jeans yang kukenakan.
Masih sambil memesan ojol, aku bertanya sekali lagi, "pintunya yang ini kan pak?". Dia tidak menjawab tapi langsung mengambil smartphone dari genggamanku.
"Iya, betul di sini." dia mengklik pesan, lalu mengembalikan smartphoneku.
"Habis ini kapan sidangnya mba?" sambil berjalan berdua, dia bertanya.
"Abis ini saya ngerampungin bab 4 dan 5, terus bimbingan, acc, terus sidang di awal Desember. Inshaallah Februari wisuda pak. Terus selesai. Mohon doanya ya pak."
"Oh gitu, iya semangat ya."
"Makasih pak. Selamat wisuda buat adiknya besok."
"Oh iyaa, makasih. Saya nyebrang di sini ya, hati-hati pulangnya." kita berpisah di depan tangga penyebrangan.
"Iya, thank you pak Made." aku melambaikan tangan padanya. Pertemuan kita hari itu berakhir.
Tiap kali kita bertemu, selalu banyak cerita yang kudapat darinya, dengannya. Semua persona yang ia ciptakan di kantor, hanya sebagian kecil dari dirinya.
Sifat baikmu yang orang tau, itu personamu.
Sifat aslimu yang mungkin hanya ditunjukkan ke segelintir orang di dekatmu, setelah aku membuat cerita tentang ini, kini mereka tahu.