Menghitung Mundur
Sebulan lagi tugas pengabdian ini akan tuntas. Rasanya sungguh campur aduk. Ada rasa haru karena aku ternyata bisa bertahan dan melalui kondisi berat yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Ada rasa sendu, karena rompi hijau ini dalam hitungan hari akan kupensiunkan. Ada hal-hal yang akan selalu kukenang; teriakan anak-anak yang riuh ketika mereka melihatku, sapaan hangat warga dan pintu yang selalu terbuka menerima kehadiranku. Masakan guru-guru sekolah yang selalu mengenyangkan perutku walau di tanah rantau. Juga berbagai tantangan dan pembelajaran yang memaksaku menjadi dewasa.
Momen pengabdian ini membuatku begitu banyak berpikir, merasa, mengenal diri lebih jauh. Ada kalanya aku merasa begitu rapuh, harus beradaptasi dengan cepat seorang diri tinggal di tempat yang asing, dengan budaya yang begitu berbeda. Namun aku percaya Allah selalu Ada di sisiku, ada doa-doa orang yang menyayangiku mengiringi langkah kakiku, juga teman-teman seperjuangan PM di berbagai tempat lainnya ikut menguatkanku secara tak langsung.
Tempat ini yang awalnya sangat asing, yang aku harus mengumpulkan energi dan mengalahkan overthinkingku supaya bisa berinteraksi dengan mereka.. kini mereka memberikan rasa nyaman, dan membuatku berat meninggalkan tempat ini.
Dahulu aku selalu bertanya, bagaimana ya rasanya hari ke tigaratus? Hari dimana aku beradaptasi dengan baik.. Tapi yang tak pernah terbayangkan, ternyata muncul juga rasa sedih harus meninggalkan tempat ini di kemudian hari. Akan kunikmati detik demi detik yang terlewati, karena ku tahu momen ini tak akan terulang lagi seumur hidupku.












