menulis lagi
menulis. sebelumnya, menulis hanya saya lakukan ketika hati saya kurang nyaman atas suatu kejadian. tapi mungkin saya keliru, ketika mengira menulis hanya berfungsi sebagai healing bagi saya. karena nyatanya, ada banyak waktu di mana ketika terjadi hal-hal yang menyenangkan atau bahkan biasa saja sekalipun —saya tetap menjadi seseorang yang merindukan momen-momen ketika menulis.
setelah dipikir-pikir dan diingat-ingat, dulu saya memperoleh banyak link pertemanan dari menulis; lalu apa yang sempat membuat saya berhenti? rasa takut. entah sejak kapan, tapi saya punya ketakutan tersendiri terhadap ekspektasi, dari manapun asalnya. ekspektasi bahwa saya dianggap cukup baik soal itu, atau sebaliknya, ekspektasi bahwa saya dianggap bisa menulis lebih baik dari sekarang. tetapi yang paling menakutkan bagi saya adalah; bayangan, jika suatu hari orang lain yang biasa saja atau mungkin memang menyukai tulisan saya, sedang kecewa terhadap saya —lantas membandingkan apa yang saya lakukan atau katakan saat itu dengan apa yang pernah saya tulis di ruang pribadi saya seperti ini. jujur saja, pikiran semacam itu bukan sekali dua kali terbersit menjadi ketakutan dalam diri saya. terlebih, di zaman sekarang, di mana seolah setiap orang bebas menghakimi tulisan orang lain dan membandingkannya dengan kekecewaan mereka yang tercermin dalam pribadi seseorang. wkwkwk, ribet yak. membayangkan banyak hal yang belum tentu terjadi di masa depan; entah karena usia atau karena kondisi yang berbeda.
lalu akhirnya pada suatu waktu saya tersadar, pada intinya, ya menulis saja. karena saya menulis bukan tentang siapapun, atau untuk siapapun, melainkan untuk diri saya sendiri dan untuk merasa berbahagia. begitulah. jadi saya mulai menulis (lagi); pelan-pelan dan sedikit-sedikit saja.









