ähm yeah that’s not really usual for me.. drawing stuff like that 🙈 i’m sorry this looks wierd xD.. but anyway happyii birth dayyii @positivelyamazonian

seen from Singapore

seen from Czechia
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from United States

seen from Singapore

seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from Brazil
seen from Brazil
seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from Israel
seen from Brazil
seen from China

seen from United States
seen from United States
ähm yeah that’s not really usual for me.. drawing stuff like that 🙈 i’m sorry this looks wierd xD.. but anyway happyii birth dayyii @positivelyamazonian
Mi IP
Cual es mi IP
https://miip.co/
Bergabung Dalam IIP
Apa sih IIP?
Aku terheran membaca tulisan beberapa orang diakhiri dengan hastag IIP. Aku pun mencari tau dan bertemulah dengan sebuah komunitas bernama Institut Ibu Profesional. Alhamdulillah, Allah melancarkan segalanya hingga sampailah aku di titik ini. Kelas Matrikulasi.
Harapanku tak cukup besar ketika bergabung, saat itu yang kutahu hanyalah Institut Ibu Profesional (yang selanjutnya akan kusingkat dengan IIP) adalah sebuah ruang belajar yang bersifat virtual. Namun, satu-dua diskusi terlewati, rasa penasaran dan tertarik itu semakin menguat hingga tibalah hari di mana seluruh mahasiswi IIP (ya, di sini kami menyebutnya mahasiswi, keren, kan?), dari seluruh Indonesia bergabung dalam satu wadah, Studium Generale.
Dua hari sudah aku menyaksikan inspirator-inspirator IIP berbagi cerita. Maa Syaa Allah, tak hanya ‘sekedar’ kuliah whatsapp. IIP sungguh luar biasa. IIP dapat menelurkan alumni-alumni yang dengan membaca kisah mereka, membuatku merasa sangat kecil dan sangat minim akan ilmu.
Ada satu yang menarik pada acara malam ke-2, dalam sharingnya, bunda ratih menekankan kalimat,
“Taat tanpa tapi kepada suami”
Aduh, aku merasa tersentil. Sungguh, egoisme dalam diri ini masih bergejolak. Saat ini aku berada dalam sebuah hubungan pernikahan jarak jauh, tak kurang dari 10.000km aku dan suamiku berjarak. Namun, yang kuyakini, jarak itu semu, karena dalam doa kami selalu dekat. Perihal ketaatan, merupakan hal yang amat perlu aku evaluasi pada diri ini dan diriku semakin merasa berada dalam wadah yang tepat untuk mengembangkan diri menjadi seorang istri shalehah dan ibu profesional dalam waktu bersamaan. Karena menjadi Istri shalehah dalam sebuah long distance marriage adalah tidak mudah.
Ah ya, melihat silabus pembelajarannya, semakin terasa saja rasa haus untuk mendapatkan tetes demi tetes ilmunya. Dan tulisan ini, kami menyebutnya Aliran Rasa. Kalau kata Mbak Anis, “Ayo, Alirkan rasamu”. Sempat bingung, tapi setelah menelaah kata Aliran Rasa... Ah, ya, inilah cara terbaikku mengalirkan rasa.
Menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan atau sekedar kodrat wanita yang bisa dijalani dengan tanpa bekal ilmu apapun. Bukan sekedar kamu menikah, lalu Allah amanahi anak, lalu taraaa.. jadilah kamu seorang ibu. Bukan pula ketika Allah menghendakimu tidak memiliki keturunan dari rahimmu sendiri, lalu kamu tidak akan pernah menjadi seorang ibu seumur hidupmu. . Aisyah ra. seorang istri Rasul yang termuda, terpintar dan tercantik, Allah takdirkan tidak memiliki anak yang lahir langsung dari rahimnya. Apakah berkurang kemuliaanya? Wallahi tidak sedikitpun. Ia adalah ummul mukminin, ibunya orang-orang mukmin. Betapa ia adalah seorang ibu ideologis bagi banyak kaum muslimin. Ia dengan ketinggian ilmunya, mendidik generasi muslim. Begitu banyak pertanyaan yang akhirnya bermuara di kedalaman ilmunya. . Maryam binti Imron, seorang wanita suci tak memiliki suami, tapi Allah takdirkan ia mengandung lalu melahirkan dan membesarkan putranya, Isa as. Seorang wanita yang seakan tanpa persiapan menjadi seorang ibu, bahkan ia tidak memiliki suami. Tapi apakah Isa menjadi anak yang terlantar? Wallahi tidak, bahkan Isa as. adalah seorang nabi yang digelari ulul azmi. . Ibu adalah pencetak peradaban. Bukan bilangan bulan apalagi hari, butuh waktu dan kesungguhan belajar untuk bisa mencetak para ibu yang sadar akan peran peradabannya. Mendidik 1 ibu berarti mendidik 1 generasi . Waktu 3 bulan yang singkat yang justru mendorong banyak tanya akan banyak hal. Betapa masih jauh ilmu yang dimiliki untuk menjalankan sebuah peran sebagai seorang ibu. Karena sejatinya belajar menjadi seorang ibu adalah proses belajar yang tak pernah henti. . Terimakasih kepada tim matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #4. Semoga ilmu yang disebarkan, menjadi amal jariyah sebagai ilmu yang senantiasa bermanfaat melahirkan seorang ibu bagi peradaban.Betapa semua yang saya dapatkan selama matrikulasi, seperti menemukan kepingan puzzle. Menata asa menjadi lebih terarah. Asa sebagai seorang ibu bagi anak-anak pembangun peradaban. . #IIP #MIIP #batch4 #SJS
KOMITMEN DAN KONSISTEN
Bismillahirahmanirrahim.
Jawaban NHW (Nice Homework) saya, tidak saya lampirkan disini ya hehehe cukup untuk diri sendiri, karena saya buat bentuk tabel pula jadi tak bisa di submit ya :)
Here there are review nice homework #2 dari kelas institut ibu profesional .
-------------------------------------------------------------------------------------------
Komitmen dan Konsisten. Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme (pr NHW #2). Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya.
Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusun “DEEP HABIT” yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita.
Selama ini disadari atau tidak banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas “Shallow Work”, yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.
Selama ini status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti Facebook (FB) ditambah puluhan notifikasi whatsapp (WA) sering membuat kita terjebak dalam “shallow activities”, kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnya tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.
Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses “peningkatan kualitas diri” kita sebagai perempuan, istri dan ibu, meski kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita, Sehinga bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori “SHALLOW WORK” menjadi “DEEP WORK” (aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).
Untuk itu mari kita lihat kembali Checklist kita :
🍀1.Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat "akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah" akan lebih baik anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan Gadget hours selama 2 jam.
🍀2.Apakah kalimat-kalimat di checklist sudah terukur? misal "Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga", akan lebih baik kalau diganti dengan " Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga"
🍀3.Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan? ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya.
Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan.
Kembali ke istilah jawa ini namanya "gayuk...gayuk tuna" (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses)
🍀4. Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari? misal anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online. Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan yang ada selama ini.
🍀5. Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan Juni. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai Juni 2017.
Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya.
Silakan teman-teman lihat kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.
Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari.
Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita.
Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.
--------------------------------------------------------------
Makjleb dan nyesss banget yaa reviewnya :))
Salah satu tahapan untuk menjadi ibu professional adalah ibunda cekatan. Dalam diskusi sebelumnya untuk calon ibunda seperti saya ini, (dalam tahap memepersiapkan diri, memantaskan diri menjadi istri yang insyaAllah kelak menjadi ibunda) tahapan bunda cekatan adalah tahap pertama yang menjadi target sebelum ke tahap ibunda sayang dan ibunda sholihah. Saya jauh dari kata cekatan, masih meye-meye dalam mengerjakan sesuatu, apalagi jika dihadapkan pada pilihan pekerjaan yang tampaknya semuanya deadline, sulit menentukan fokus, jadi pusing dan stress sendiri.. waduh mana duluan yang dikerjakan yaaahhh. Semangat untuk komitmen dan konsisten giit!! PR saya selanjutnya adalah terampil mengontrol emosi sehingga dapat menentukan skala prioritas dengan pikiran yang tenang, sehingga setiap pekerjaan yang telah disusun sesuai skala prioritas dapat dilaksanakan dengan fokus dan baik. Saya juga masih moody Seharusnya tidak ada kata moody jika sesuatu itu sudah kita tekadkan tuntuk dikerjakan yaa. Dalam mengerjakan NHW ini saya berkomitmen untuk tidak hanya sekedar membuat ceklist saja tetapi langsung saya praktikan agar menjadi list indikator yang menjadi acuan diri sendiri untuk kedepannya, supaya menjadi pribadi yang terus berkembang lebih baik. Perubahan lebih baik itu kan harus terukur, dan tugas ini sangat membantu saya dalam “memaksa” diri saya untuk lebih disiplin terhadap diri sendiri.
Selesai mengerjakan list untuk diri sendiri, lanjut ke bagian mengandai andai cita-cita kelak ketika menjadi istri dan ibunda. MasyaAllah…. ternyata butuh ekstra pemikiran! Tidak mudah untuk menuliskan yang terbayang-bayang dipikiran! Hmm…Jika kita gagal merencanakan, hampir saja kita merencanakan kegagalan. Naudzubillah. Ya Rabb, bimbinglah kami ke jalan lusrus-Mu. Bagaimana ceritanya jika semuanya belum disiapkan, tetiba terjun, ibaratnya terdampar di hutan belantara tanpa bekal. How to survive? Yaa, yang membuat kita semaangat dalam berikhtiar yaitu visi kedepan. Semaangaat menuliskan visi kedepan! Visi dunia dan akhirat. Visi utamanya akhirat, dan misi-misinya kita laksanakan di dunia ini, membangun jembatan didunia untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak. QS. (66:6) Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Terimakasih IIP, telah membantu saya sedikit demi sedikit membangun cita, yang tidak hanya dibayangkan, karena ternyata ketika diminta dituliskan tidak semudah itu, Alhamdulillah semuanya jadi tersusun lebih rapi dan sistematis, seiring proses tinggal di update sambil berjalan yaa. Seemaangaat karena Allah :)
Risky Arinda Surya_NHW#2
Nice Homework 2 pada program Matrikulasi Intitusi Ibu Profesional kali ini unik, karena di tugas ini ada sesi diskusi dengan suami dan anak-anak (saya sih masih diskusi dengan suami saja hehe). Berhubung saya sekarang sedang LDR-an dengan suami (T-T) jadi sesi diskusi kami lakukan via platform Whatsapp.
Sedikit curhat, saat saya bertanya pada suami,”Istri yang seperti apa yang bisa bikin ayang bahagia?” pertanyaan yang menurut saya simple itu saya ajukan sejak 2 hari yang lalu. Namun suami tak kunjung member jawaban. Panik juga ini deadline tugas sebentar lagi, saya tanya tiap pagi siang sore malam belum juga suami mau menjawab.
Sempat terbersit,”Sesusah apa sih jawab kriteria istri idaman?”
Sampai pada akhirnya suami menjawab pagi ini. Suami bercerita bagaimana beliau ini cukup kesulitan memikirkan jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan. Saya tertegun juga mendengar jawaban yang dijabarkan olehnya, betapa suami saya memikirkan dengan serius jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan. Suami bercerita bahwa beliau semalaman memikirkan jawaban, serta sempat membuat list istri dan ibu seperti apa yang bisa membuatnya bahagia. Namun list tersebut urung diberikan kepada saya.
Sebagai gantinya, suami mengutarakan isi hatinya selama menjalani masa pernikahan kami, yang mungkin bisa saya sebut digital love letter. Intinya daripada terpaku pada list yang urung diberikannya pada saya, suami lebih memilih dan memercayakan saya untuk menjadi diri saya sendiri dan mengembangkan potensi saya (sebagai individu, istri, dan kelak ibu) karena menurutnya setiap orang dilahirkan unik.
Hal yang saya syukuri dari tugas ini adalah adanya komunikasi yang kemudian meningkat menjadi curahan hati suami saya dan saya, dan mungkin juga terjadi pada ibu-ibu lain yang juga mengerjakan tugas ini :)
“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN” a. Sebagai individu b. Sebagai istri c. Sebagai ibu
Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.
Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, “andaikata kelak aku menjadi ibu”, apa yang harus aku lakukan. Kita belajar membuat "Indikator" untuk diri sendiri.
Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu: - SPECIFIC (unik/detil) - MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar) - ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah) - REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari) - TIMEBOND ( Berikan batas waktu)
Jawaban saya:
a. Sebagai individu
Membaca dan memahami sirah Nabawi Rasulullah saw (minimal seminggu 1x)
Sholat tepat pada waktunya (setiap hari, 5 waktu, di awal waktu)
Sholat Dhuha (setiap hari, minimal 2 rakaat)
Membaca buku popular (minimal 1 buku, dalam sebulan)
Membaca berita harian
Membaca Al-Qur’an (setiap hari, minimal 1 halaman)
Menanam bibit tanaman (minimal 1 minggu sekali)
Merawat bibit dan tanaman yang sudah ditanaman (setiap pagi)
Mempelajari berbagai hal soal kehamilan, kelahiran, dan merawat bayi
Olahraga (minimal seminggu 1x)
Makan makanan sehat (setiap hari)
Menulis
Terlibat aktivitas di lingkungan rumah (minimal seminggu 3x)
Berpikiran positif
b. Sebagai istri
Menjadi partner diskusi dan ngobrol suami (setiap hari)
Meminta ijin suami setiap kali berkegiatan di luar rumah (setiap bepergian tanpa suami)
Quality time (seminggu 3x, jika suami sedang tidak bertugas lapangan)
Merapikan rumah (setiap hari)
Berdandan dan berpakaian rapi jika suami di rumah
Memasak (minimal 4x seminggu)
Mengevaluasi target dan cita-cita yang sudah direncanakan (sebulan 2x)
c. Sebagai ibu (jangka pendek, asumsi anak 0-2 tahun)
Memberikan ASI eksklusif (setiap anak lapar)
Memberikan MPASI setelah anak 6 bulan
Menjemur anak di pagi hari (minimal seminggu 4x)
Mulai membacakan dongeng (minimal seminggu 1x)
Membiasakan anak melihat orangtua beribadah
Mengajak anak berkomunikasi (setiap hari)
Memenuhi hak imunisasi anak (sesuai jadwal)
Membentuk bonding antara ayah-anak
Menjadi ibu adalah pekerjaan yang paling menuntut keprofesionalan, karena berkaitan langsung dengan generasi kehidupan dan Yang Maha Memberi Hidup. Profesion...
Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2
Senin, 23 Mei 2017
MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA
🍀 APA ITU IBU PROFESIONAL?
Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota;
Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --; Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :
a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.
🍀APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?
Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.
🍀MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya. 2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul. 3. .Meningkatkan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya 4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.
🍀VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL
Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.
🍀BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?
Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu : a. Bunda Sayang Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya
b. Bunda Cekatan Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
c. Bunda Produktif Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
d. Bunda Shaleha Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.
🍀APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?
“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”
Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.
Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :
BUNDA SAYANG a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya? b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi? c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini? d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?
BUNDA CEKATAN a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik? b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”. c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini? d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga
BUNDA PRODUKTIF a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita? b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut? c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini? d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?
BUNDA SHALEHA a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini? b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada? c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus? d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?
Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan
Seperti pesan pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb: “Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto
Salam Ibu Profesional
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
📚SUMBER BACAAN: Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008 Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012 Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013 Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014 Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015