#kudunulis #maridibaca . Rasian (Part.03) . Sinar matahari hanya menyisakan bayangan kami yang memanjang di atas tanah mengarah ke timur. Suara derit ayunan mengikuti irama papan yang sedang kami duduki. Hanya duduk santai saja. Kaki kami pun tetap bertumpu pada tanah. Tidak melayang-layang seperti anak-anak kecil yang ku lihat tadi pagi. . "Sudah seminggu aku di sini. Maaf jika ku merepotkan kalian semua." Aku memulai obrolan. . "Asalkan kamu mau membantu kami di sini. Kamu boleh tinggal di sini sampai kapanpun." Ia menoleh sejenak padaku dan melemparkan senyumannya. . "Tidak...Aku rasa aku harus pergi lagi. Aku tidak ingin kalian ikut terlibat dalam peristiwa ini. Aku sangat berterima kasih telah ditolong oleh kalian semua." . "Tunggu sampai kamu benar-benar merasa pulih. Jangan buru-buru. Aku sudah tahu apa yang terjadi di pusat kota sana. Aku sudah melihatnya di tv. Dan wajahmu dipampang sebagai buronan yang bertanggung jawab atas kekacauan itu." Ku pandangi wajahnya. Pandangannya terus melihat ke arah depan. Tak ada ekspresi takut atau kecewa akan kehadiranku di sampingnya. . "Aku...Aku bisa menjelaskan semuanya ke kamu. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya ingat bahwa aku melihat kejadian yang sangat aneh. Mungkin kamu tidak akan percaya jika kuceritakan. Bahkan aku sendiri juga tidak percaya. Aku berharap ini hanya mimpi." Aku menghentikan dudukan ayunan tersebut. Sunyi. . "Tentang video tikus dan buaya itu? Aku juga sudah menontonnya. Videonya sudah tersebar. Tapi aku rasa itu nyata bukan mimpi. Jika mimpi, kamu tidak akan bertemu denganku di sini." Ia lalu berdiri dihadapanku dan memperlihatkan video amatir hasil rekamanku. Ya...Aku yang pertama kali merekam video itu dan berakibat pada kekacauan yang terjadi saat ini di kota. Entah dimana ku berada saat ini. Kenapa di sini begitu tenang dan tidak ricuh seperti di kota. . (besok lagi aja ya ceritanya) . #mimpikusemalam #rasian #rasianku












