#kudunulis #maridibaca . NOL DISKRIMINASI (Part.00-end) . ” Tak satupun manusia dilahirkan untuk membenci orang lain karena perbedaan warna kulit, latar belakang, ataupun agamanya. Orang harus belajar untuk membenci, dan karena itu pula mereka bisa belajar untuk mencintai, karena mencintai lebih alamiah bagi hati manusia daripada sebaliknya.” (Nelson Mandela) . Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mengajak masyarakat dunia untuk menghargai keberagaman dan tidak mendiskriminasi sesama. Oleh karena itu, UNAIDS (program PBB untuk gerakan global terkait HIV dan AIDS), mendeklarasikan setiap 1 Maret sebagai Hari Tanpa Diskriminasi (Zero Discrimination Day) sejak tahun 2014. Pada awalnya, UNAIDS mencanangkan Zero Discrimination Day sebagai hari untuk menghapus diskriminasi terhadap mereka yang menderita HIV dan AIDS. Namun seiring pergantian tahun, setiap 1 Maret diperingati tidak hanya untuk mengampanyekan penghilangan diskriminasi terhadap penderita HIV dan AIDS saja, melainkan diskriminasi dalam bentuk apapun dan sebagai perayaan keberagaman. Diskriminasi didapat ketika seseorang atau sekelompok orang diberikan perlakuan berbeda, pengecualian, dan pelarangan terhadap suatu hal dengan alasan adanya perbedaan di diri mereka. Perbedaan tersebut berupa gender, etnis, kewarganegaraan, agama, disabilitas, orientasi seksual, kelas sosial, umur, status pernikahan/tanggung jawab dalam keluarga, dan kondisi/kategori lainnya. (Sumber : rappler.com) . Catatan : Setelah sempat vakum posting dan nulis cerita selama bulan Februari alias bulan untuk berhibernasi hohoho. So, mulai Maret ini, berencana akan mulai rajin posting dan menulis lagi hohoho. Semoga tidak wacana. Aamiin. Untuk hari ini, postingannya kutipan artikel gapapalah yak. Coz mata udah ngantuk, tapi ingat tentang niat posting tulisan sehari sekali seperti waktu ikutan #30HBC18 @30haribercerita di bulan Januari lalu. . #NolDiskriminasi #ZeroDiscrimination @unaids.id @unaidsglobal (at Semarang, Indonesia)










