Merajut Kebahagiaan di Atas Bibir
[Masih] Palangkaraya, saat Gentar hampir lulus SD
Suasana di alam Borneo memang tiada duanya saat aku masih berseragam putih merah. Dulu belum banyak orang yang punya mobil kecuali pejabat kelas elit, bahkan ayah hanya dibekali satu unit mobil dinas dari kantor, yang suara ban nya sudah seperti gerobak sampah, karena setiap hampir seminggu sekali dipakai dinas ke luar kota. Sederhana memang, jika teman-teman mendengar istilah dinas ke luar kota. Namun di Kalimantan tidak semewah yang kalian bayangkan... untuk akses antar daerah, mungkin setingkat kota lah, teman-teman harus menghabiskan durasi lebih dari 5 jam dengan jarak yang kurang dari 150 km, karena teman-teman tidak bisa mengendalikan mobil dengan akselerasi tinggi, yah paling cuma 40-60 km/jam, jalanan yang kondisinya hanya dipenuhi batu kerikil dan pasir yang kasar membuat mobil tak bisa berlari kencang, akhirnya mobil hanya bisa dipacu sangat lambat untuk perjalanan jarak jauh seperti ini, mending naik sepeda roda tiga deh. Nah, ceritanya hari ini ayah menjalani yang namanya detasir, dimana ayah ditempatkan di Banjarmasin, 162 km dari rumah, hayo masih inget nggak tadi rata-rata waktu tempuhnya berapa? hehehe. Ayahku akan bekerja disana selama 3 minggu, untuk mengisi kekosongan bagian kepala bidang yang dipindahtugaskan ke Sumatera, kebetulan posisi yang kosong setara dengan pangkat ayahku. Dan terpaksa aku harus tinggal bersama ibu dan adikku, Rifani. Oh iya, aku kenalkan, adikku perempuan dan sekarang ia duduk di kelas 2 SD, tapi untungnya dia tidak banyak makan seperti aku, jadi aku punya porsi makan lebih besar setiap hari. Rifani paling dekat dengan aku dan ayahku, tampaknya dia memang senang curhat dengan kaum adam, menurutnya, lelaki paling bisa menyelesaikan solusi pribadi. Memang sih anak kecil berusia 8 tahun masalahnya nggak seberapa, diejek temen, dikompasin anak-anak cowok di sekolah, bahkan sampai digodain pak bon, tukang kebun di SD tempat aku dan Rifani bersekolah, ada-ada saja. Dan kini akulah yang harus berjuang sendirian, untuk setiap hari mendengar anak satu ini ceriwis menceritakan apa yang dialami di sekolah, selama ayah tak ada di rumah. Kalo udah ngomong, Rifani bagaikan motor Yamaha yang dikemudikan Valentino Rossi, susah banget berhentinya.
Brak! Rifani pulang dari sekolah dan melontarkan sepatu dari kakinya hingga strike keduanya bertengger diatas rak, walau posisinya tidak karuan. Rifani memang pulang lebih sore dari aku, karena kelas 2 SD masih mempunyai kewajiban untuk kegiatan pramuka. Sementara aku yang sudah kelas 6 sudah lulus dari kegiatan kepramukaan di sekolahku, sudah tinggal menunggu ujian saja yang datang sekitar dua bulan ke depan.
"Kak Gentar... Kak Gentar... sini deh Rifa punya berita bagus, kakak pasti suka...", ujar Rifani penuh semangat.
"Apa sih dek, nggak assalamu'alaikum udah langsung nyolot aja kamu... siapa lagi yang bikin kamu nangis hari ini? Pak Hamid (satpam sekolah, red)? Pak Gepeng (tukang becak yang nganterin Rifa pulang, red)? atau Pak Unang (pak bon, red)?", tanyaku sambil menahan tawa.
"Ah rese' ah, nih!!", Rifani melemparkan sebuah brosur, hmm terlalu besar untuk disebut brosur, ini tampaknya poster yang secara diam-diam dicabut dari papan pengumuman oleh adikku.
LOMBA BACA PUISI BERKELOMPOK TINGKAT SD
"Pahlawan Tak Dikenal" karya Toto Sudarto Bachtiar
Hadiah Trofi Gubernur dan Uang Pembinaan
Wah, tampaknya adikku baik banget hari ini, dia tau kalau kakaknya doyan banget baca puisi. Sejak kelas 4 SD, aku sering diikutsertakan dalam lomba baca puisi dengan berbagai macam tingkat. Dan tampaknya lomba spesial hari pendidikan nasional ini akan diadakan untuk tingkat provinsi. Aku harus ikut, pikirku. Ini kesempatan yang tidak akan aku sia-siakan sebelum aku masuk ke bangku SMP. Tapi siapa ya yang bisa menemaniku dalam lomba ini? Teman-teman di kelasku nggak ada yang suaranya bagus. Buang angin saja suaranya fals nggak enak didengerin. Dan setelah lama berpikir, akhirnya ide brilian pun muncul dari otakku. Geng Amoeba!! Alam, Naga, Sheryl dan Tasya pasti bisa deh. Untuk urusan aksi panggung dan gesture aku akan bisa mengajarkan mereka. Dan untuk nada membaca dan pembawaan, Tasya pasti pinter deh, dia kan punya dasar penjiwaan yang bagus. Langsung deh aku lapor ke bos Alam, memohon kepada Den Baguse untuk bisa mengundang teman-teman kumpul di lapangan bermain, ceritanya rapat mendadak.
"... Bagaimana teman-teman, kalian siap?", saat semua berkumpul di taman aku langsung bercerita dan menanyakan kesanggupan mereka.
"Oke coooooyyyy, dengan kekuatan bulan, Naga siap membantu!", sahut Naga yang mulai berimajinasi dengan miniatur superhero di rumahnya. Tapi entah mengapa hari ini ia memilih Sailor Moon.
Dengan semangat, kami terus berlatih selama dua minggu lamanya. Tentu saja ini menambah jadwal ronda yang kami lakukan dari rumah ke rumah. Kami harus bener-bener menjunjung tinggi totalitas agar geng kami bisa terkenal di mata pemerhati sastra se-Kalimantan Tengah, membuktikan bahwa kami adalah kumpulan geng yang berjiwa seni tinggi. Untuk latihan, Geng Amoeba juga kuajak berkunjung setiap hari ke rumah guru bahasa Indonesia-ku, Pak Susilo. Kami berguru tentang bagaimana caranya bisa menyerap setiap kata dalam puisi dan menuangkannya dalam penjiwaan yang menyentuh. Latihan demi latihan terus kami lakukan, sampai-sampai di warung bakso saat kami makan siang bersama, kamipun tampil di hadapan pembeli-pembeli lain yang menyaksikan kami dengan seksama, hingga lupa kalau bakso di hadapan mereka masih utuh dan sudah tidak panas lagi.
Sepuluh hari sebelum hari perlombaan, tampaknya inilah awal dari petaka yang kualami. Saat hendak berlatih ke rumah Pak Susilo, seperti biasa, aku berboncengan dengan Naga dan teman-teman lain menaiki sepedanya masing-masing. Tiba-tiba Naga hilang keseimbangan dan menabrak sudut trotoar. Aku yang berdiri di atas ban belakang terpental dan terhempas ke aspal. Tampaknya luka di mukaku cukup serius, hingga dapat perawatan di unit gawat darurat. Lima buah jahitan akhirnya dirajut dengan indah di bibirku yang menawan ini. Oh tidak, musibah ini tampaknya datang di waktu yang tidak tepat, aku hanya bisa beristirahat di rumah selama satu minggu, dan tentu saja, 50 persen wajahku sebelah kanan penuh dengan koreng bekas luka, dan perban masih harus dipasang pada bibirku yang bengkak. Aku tak bisa latihan lagi. Impianku akan terhenti hari ini juga untuk menambah koleksi pialaku. Namun yang namanya Tasya nggak pernah kehabisan ide. Beberapa hari kemudian saat Geng Amoeba menjengukku yang sudah hampir sembuh, ia memberi saran pada kami semua.
"Eh teman-teman, kalian masih inget nggak puisi kita tentang apa?", tanya Tasya sambil udah nggak sabar ingin menyalurkan idenya.
"Pahlawan tak dikenal. Tentang sosok pahlawan yang tertembak oleh peluru, terbaring kaku, namun sama sekali tak ada yang menganggapnya sebagai makhluk berjasa...", jawab Alam dengan puitis.
"Nah, pahlawan kan? Tertembak kan? Terluka kan? gimana kalau kita dandan aja jadi pahlawan yang terluka, kita seimbangkan penampilan kita sama Gentar yang lagi bengkak-bengkak ini. Besok aku sama Sheryl mau pesan kostum di persewaan wardrobe dekat SD kita. Pokoknya kita harus tetap manggung dan berkompetisi, oke?", Tasya pun memberi solusi yang sangat sulit untuk kami tolak.
"OKE COOOOYYYYY!!", jargon ala Naga pun kami teriakkan bersama. Kami akhirnya latihan lagi, walau aku melakukannya di atas tempat tidur, bibirku masih terlalu nyeri untuk kupakai bergerak. Hanya bisa berbicara seadanya sambil berbaring.
Hari perlombaan pun tiba. Kebetulan, ayah sudah pulang dari kegiatannya di Banjarmasin. Ia bersama ibu dan Rifani menyaksikan kami berlomba dari bangku penonton. Tak bisa dipungkiri, ayah sangat mengkhawatirkan kondisiku saat ini, yang kemungkinan akan mengurangi semangatku dalam berlomba. Namun yang namanya motivasi akan berubah jadi energi. Aku harus kuat hadapi semua ini. Penjiwaan! Totalitas! itu adalah komitmen yang telah kami lafalkan bersama ketika awal mempersiapkan lomba ini. Saat giliran kami tiba, kamipun beraksi di atas panggung.
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur, sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Itulah kutipan puisi yang kami pentaskan dihadapan tiga dewan juri dan ratusan penonton. Tak disangka-sangka, riuh rendah standing ovation terlontar dari seluruh hadirin yang ada di lokasi lomba. Kami berhasil! di tengah kondisi yang sangat darurat ini, kami sukses mencari rahasia kemudahan di dalamnya. Sungguh teman, apabila dirimu dalam kesulitan yang teramat sangat, janganlah pernah berhenti untuk terus mencari solusi. Karena sesungguhnya di dasar gurun pasir nan tandus akan kau raih limpahan sumber mata air, hanya apabila engkau bersedia untuk menggali sedalam-dalamnya. Dan untuk lomba kali ini, walaupun tak sepenuhnya berhasil, kami mendapatkan juara ketiga, dan tentunya tetap mendapatkan trofi dan uang pembinaan. Prestasi yang lebih dari cukup untuk geng murahan sekelas Amoeba. Istimewa!