Aku selalu mengira menulis adalah perkara melepaskan.
Menurunkan kata-kata yang terlalu lama tinggal di kepala, lalu membiarkannya pergi.
Sebab setelah sebuah tulisan selesai, selalu ada seseorang yang diam-diam ingin kutemui di ujung halaman.
Hanya untuk memastikan bahwa kata-kata itu tidak jatuh ke tempat yang sepi.
Aku bisa mengingat orang-orang tertentu jauh lebih lama.
Bukan karena mereka luar biasa.
Justru karena mereka hadir tanpa gemuruh, tanpa pengumuman, tanpa niat untuk tinggal.
Suatu hari, beberapa kalimat yang kutulis seperti diam-diam berjalan ke tempat yang sama.
Dan anehnya, aku membiarkannya.
Ada kebahagiaan kecil yang sulit dijelaskan saat seseorang menemukan bagian yang nyaris terlewat oleh penulisnya sendiri.
Kadang kebahagiaan itu datang dalam bentuk yang sangat sederhana.
Atau sebuah pesan yang muncul setelah beberapa waktu kutunggu-tunggu tanpa berani kuakui.
Kadang aku bahkan membuka halaman yang sama berulang kali, seolah ada sesuatu yang sedang kutunggu datang.
Seolah-olah ia menunjuk satu kalimat yang nyaris kulewatkan sendiri, lalu berkata,
Barangkali setiap tulisan memang mencari pembacanya.
Sebagaimana setiap cerita diam-diam mencari rumahnya.
Ada orang-orang tertentu yang tidak banyak melakukan apa-apa, tapi tetap tinggal di antara paragraf, di sela jeda, dan di ruang yang tidak pernah sengaja kita sediakan.
Mereka tidak meminta dituliskan.
Tetapi ketika mereka melintas di kepala, selalu ada halaman yang ingin dibuka kembali.
Pada akhirnya, mungkin itulah bentuk kekaguman yang paling tenang.
Bukan keinginan untuk memiliki.
Melainkan keinginan agar seseorang tetap ada.
Di suatu tempat yang selalu bisa dikunjungi kembali.