Business Model Vs Business Plan (Part 3)
Aplikasi Konsep Model Bisnis
Pada umumnya banyak mahasiswa belum mengenal konsep business model, dikarenakan adanya kebingungan di dalam membedakan konsep business dan business plan. Kedua konsep ini merupakan dua konsep yang berbeda satu sama lainnya. Business model merupakan langkah awal bagi calon entrepreneur untuk menganalisis lebih lanjut mengenai konsep bisnisnya yaitu business plan.
Business model, merupakan suatu alat yang dapat digunakan oleh calon entrepreneur untuk dapat melakukan inovasi-inovasi dalam bisnis. Permasalahan yang sering terjadi bagi calon entrepreneur adalah kesulitan untuk mengidentifikasi bisnisnya dan adanya ketakutan untuk menghadapi risiko kegagalan di dalam menjalankan bisnisnya. Permasalahan untuk mengidentifikasi bisnis, dapat terilihat dari adanya banyaknya bisnis baru yang mengalami kesulitan di dalam menghadapi persaingan dengan perusahaan yang telah mapan. Sebagai contoh, sekarang ini banyak bermunculan rumah makan yang menawar berbagai macam makanan. Permasalahan yang muncul dari kasus ini adalah, jika seorang calon entrepreneur akan memasukkan bisnisnya pada industri bisnisnya, maka yang menjadi pertanyaan adalah, apakah bisnisnya akan mampu bertahan dalam persaingan bisnis yang ada?, dan faktor apakah yang harapkan supaya bisnisnya dapat bertahan dan memenangkan persaingan bisnis yang telah ada? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan sulit di jawab jika kita masih menggunakan analisis business plan. Jika kita menggunakan pola pemikiran dalam business plan, maka ide bisnis yang akan dijalankan oleh seorang calon entrepreneur akan terkesan “ala kadarnya”, tanpa memperhitungkan strategi-strategi apa yang diperhitungkan didalam menciptakan suatu ide bisnis. Pola pemikiran pada analisis business plan lebih kuat pada tahapan operasional, akan tetapi analisis ini lemah pada tahapan konseptual. Seorang calon entrepreneur yang hanya mengandalkan pada analisis business plan, maka risiko kegagalan pada bisnis yang baru akan cenderung lebih tinggi. Risiko kegagalan yang sering di alami oleh entrepreneur-entrepreneur sebelumnya inilah, yang menyebabkan para masyarakat (sebagai calon entrepreneur) akan cenderung untuk enggan untuk berwirausaha.
Kata kunci pada paragraf sebelumnya ada penciptaan ide bisnis. Secara teoritis, untuk menciptakan ide suatu bisnis, harus didasarkan pada dua hal, yaitu: a) permasalahan yang ada di masyarakat [pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat], dan b) menciptakan hal baru pada masyarakat [dalam hal ini adalah menciptakan kebutuhan baru bagi masyarakat]. Penciptaan ide bisnis, pada umumnya, diciptakan berdasarkan untuk menyelesaikan permasalahan yang di masyarakat, yakni bagaimana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang komplek. Sebagai contoh, salah satu kebutuhan pokok manusia adalah makanan. Untuk memenuhi kebutuhan pokok tersebut, maka pelaku bisnis berlomba-lomba untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara mendirikan atau membuat tempat makan (warung makan, restoran, lesehan, dll). Penciptaan ide bisnis dengan menggunakan cara ini, lebih dikenal sebagai “follower”, yakni penciptaan ide bisnis hanya mengikuti ide bisnis yang sudah ada. Contoh dari tipe penciptaan ide bisnis sebagai “follower” adalah pelaku bisnis yang bergerak di bidang pemenuhan kebutuhan pokok manusia, yakni makanan. Ide penciptaan bisnis penyediaan makanan ini sudah ada sejak lama, dan pelaku bisnis yang ada sekarang hanya mengikuti pola bisnis yang sudah ada. Pelaku bisnis yang hanya bisa sebagai “follower”, maka bisnisnya akan sulit bersaing dan memenangkan persaingan bisnis terhadap pelaku bisnis yang telah mapan.
Untuk bisa bersaing di dalam industri ini, maka pelaku bisnis harus bisa menonjolkan “value proposition” yang ditawarkan dalam produk. Value proposition dari produk yang ditawarkan kepada masyarakat merupakan produk yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Untuk menganalisis “value proposition” dari produk yang ditawarkan, maka analisis yang relative dapat menjangkaunya adalah business model dibandingkan dengan business plan. Analisis value proposition tidak bisa langsung secara otomatis ditepatkan pada bisnis yang akan dijalankan. Seiring dengan analisis yang dilakukan, value proposition awal yang telah ditetapkan, akan dapat mengalami perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan kondisi riil yang ada. Adanya sifat yang lebih fleksibel dari business model, maka analisis dengan menggunakan business model dapat mengakomodasi penyesuaian-penyesuaian yang ada. Hal ini di dalam analisis business model di kenal dengan nama “pivot”. Berbeda dengan analisis business plan, value proposition telah ditetapkan sejak awal dan tidak akan mengalami perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan kondisi riil yang ada.
Untuk membahas mengenai konsep business model dan business plan, akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian berikut.
Perbedaan antara Business Plan dan Business Model
Business plan: Konsep untuk merumuskan atau mendeskripsikan urutan bisnis seperti deskripsi bisnis, jenis pelanggan, persaingan dan fasilitas diperlukan untuk menjalankan suatu bisnis.
Business model: Konsep yang menyederhanakan suatu konsep bisnis yang digambarkan dalam satu lembar kertas kerja yaitu Business model canvas. Business model canvas terdiri dari sembilan (9) elemen yaitu Customer Segments, Customer Relationship, Channels, Value Propositions, Key Activities, Key Resource
Business plan: Lebih susah melakukan penyesuaian di bandingkan dengan business model.
Business model: Lebih mudah melakukan penyesuaian di bandingkan dengan business plan.
Business plan: Memfokuskan untuk menjelaskan aspek: pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, produksi, secara mendetail
Business model: Memfokuskan pada aspek strategi, sehingga penjelasan mengenai aspek: pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, produksi adalah tidak mendetail.