Menjadi seorang ayah bukan cuma soal mencari nafkah. Tapi juga soal menuruti kemauan anak, meskipun kemauan itu sering kali datang di hari yang salah. Seperti pagi ini, hari Minggu, ketika aku ingin rebahan lebih lama, anakku, Zura, datang dengan semangat berapi-api.
"Ayah! Ayo kita ke Monas naik motor!"
Aku menatapnya dengan mata masih sepertiga terbuka. "Kenapa Monas? Kenapa naik motor? Kenapa harus hari ini?"
"Karena ini hari Minggu, Ayah! Nanti kalau hari Senin, aku sekolah. Kalau Selasa, juga sekolah. Rabu juga. Pokoknya, ini hari terbaik!"
Dari semua argumen yang aku pernah dengar di dunia ini, argumen Zura adalah yang paling sulit dibantah. Aku menoleh ke istriku, Puy, berharap dia punya alasan untuk menolak.
"Iya, Yah. Kasian Zura. Katanya udah lama mau ke Monas. Sekalian olahraga," kata Puy, tanpa rasa bersalah.
Aku menghela napas. Ini bukan pertarungan yang bisa aku menangkan.
Setengah jam kemudian, aku sudah duduk di atas motorku, dengan Zura di belakang, dan Puy melambaikan tangan di depan rumah, seperti seorang ratu yang melepas pasukannya ke medan perang.
"Ati-ati ya, Yah. Jangan kebut-kebutan!"
"Iya, Mah. Aku ini sarjana Teknik Sipil, bukan pembalap MotoGP."
Kami pun melaju ke Monas, dengan kecepatan yang cukup aman bagi seorang ayah yang sadar diri bahwa motornya bukan motor gede, melainkan motor hemat bensin yang kalau dipaksa ngebut, bisa tiba-tiba berubah jadi sepeda.
Di jalan, aku merasakan sensasi yang hanya dimiliki oleh seorang ayah yang naik motor bersama anaknya: tangannya memeluk pinggangku erat-erat, suaranya yang tak berhenti bertanya, dan kaki kecilnya yang sesekali menendang-nendang.
"Yah, kenapa angin kena muka kita kalau naik motor?"
"Karena kita bergerak lebih cepat dari angin, Nak."
"Kalau kita berhenti, anginnya berhenti juga?"
"Nggak, anginnya tetap jalan, kita aja yang berhenti."
Zura terdiam sejenak. Lalu dia bertanya lagi.
"Jadi kalau kita nggak naik motor, kita tetap kena angin?"
Aku mulai merasa diceramahi oleh seorang profesor kecil.
"Iya, Zura. Pokoknya angin itu nggak peduli kita naik motor atau nggak, dia tetap jalan. Sama kayak Mama. Mau kita nurut atau nggak, dia tetap benar."
Zura tertawa, dan aku lega karena berhasil mengalihkan pikirannya dari diskusi fisika yang berpotensi menguji batas pemikiranku sebagai sarjana Teknik Sipil.
Sesampainya di Monas, aku merasa seperti pahlawan yang baru menaklukkan medan perang. Bukan karena perjalanan yang berat, tapi karena aku berhasil tiba di sini dengan selamat tanpa pertanyaan jebakan lain dari Zura.
Kami parkir motor dan berjalan menuju taman sekitar Monas. Zura langsung berlari kecil dengan energi tak terbatasnya.
"Yah! Lihat tuh! Burung merpati! Boleh nggak kita bawa pulang satu?"
"Zura, itu bukan suvenir. Itu burung liar."
"Tapi kan di film-film ada orang yang punya burung merpati peliharaan."
Aku mengelus dada. Film memang sering membuat hidup tampak lebih mudah daripada kenyataannya.
Kami lalu duduk di bawah pohon rindang. Aku membeli es teh, sementara Zura memilih es krim yang entah kenapa lebih banyak menempel di pipinya daripada masuk ke mulut.
"Yah, kapan kita naik ke atas Monas?"
Aku melihat antrean panjang menuju lift yang akan membawa kami ke puncak Monas.
"Kayaknya kita harus antre lama, Nak."
"Berapa lama?"
Aku melirik antrean dan mencoba menebak.
"Sekitar… 45 menit."
Zura tampak berpikir keras. Lalu dia berkata, "Yah, aku kan masih kecil. Masa hidupku baru empat tahun. Itu berarti aku baru hidup sekitar dua juta seratus ribu menit. Jadi kalau kita harus antre 45 menit dari itu, kayaknya nggak masalah."
Aku terdiam. Bukan karena aku terpukau oleh cara berpikirnya, tapi karena aku baru sadar, mungkin anakku lebih pintar dari aku.
Kami akhirnya naik ke atas Monas setelah antre cukup lama. Saat sudah sampai di puncak, Zura berdiri di dekat pagar sambil memandang kota Jakarta yang terbentang luas.
"Yah, lihat! Jakarta kayak semut dari sini!"
Aku tertawa. "Iya, Nak. Kalau kita makin tinggi lagi, mungkin Jakarta bisa jadi kayak pasir."
"Kalau lebih tinggi lagi?"
"Jadi titik."
"Kalau lebih tinggi lagi?"
Aku menatap Zura dengan senyum. "Kalau lebih tinggi lagi, berarti kita udah sampai di angkasa, Nak. Dan saat itu, mungkin kita nggak akan peduli lagi Jakarta kelihatan kayak apa. Karena kita akan sibuk melihat bintang-bintang."
Zura tersenyum. Aku tahu dia belum benar-benar mengerti. Tapi suatu hari nanti, dia akan mengingat kata-kataku ini, dan semoga dia akan memahami bahwa perspektif bisa mengubah segalanya.
Kami turun dari Monas dan berjalan kembali ke parkiran motor. Aku mengeluarkan kunci dan bersiap untuk pulang.
"Yah, kapan kita ke sini lagi?"
Aku menatapnya dan tersenyum. "Kalau Ayah dapet jatah main game seharian dari Mama, kita nggak cuma ke Monas, Nak. Kita bakal ke Mars sekalian, naik motor, sambil makan nasi padang."
Zura tertawa dan memelukku dari belakang saat aku menyalakan motor.
Perjalanan pulang kami lebih tenang. Mungkin karena Zura lelah, atau mungkin karena dia sudah puas dengan petualangan hari ini. Yang jelas, di tengah perjalanan, dia tertidur sambil memeluk pinggangku erat-erat.
Dan saat itu, aku merasa menjadi seorang ayah adalah hal paling luar biasa di dunia. Bahkan lebih luar biasa daripada menemukan tukang bakso pas lagi lapar-laparnya. Karena tidak ada yang lebih membahagiakan daripada anak kecil yang tertidur di punggung kita, percaya bahwa ayahnya bisa membawa mereka pulang ke rumah dengan selamat.
Mardi is French for Tuesday, and Tuesday means Mona's.
Mona's bartender and chief instigator Aidan poses for a pre-music selfie with Tama. The decorations were by Aidan, the food was by Aidan, the music scene is curated and egged on by Aidan. He's also a world-class photographer who doesn't need to crap up his work with cartooning software.
The second line came in, and the party started.
The house band was Jared Engel on bass, Dennis on reeds, Ben Polcer, in from New Orleans, on trumpet, and the impressive Sam Chess on trombone. Not shown, but appreciatively heard, Bill Malchow on piano and Ahmed Johnson on percussion.
Another reason why I like Mona's.
Kayla Lewis' singing and brother Kerry's bass were the highlight of the second set for me.