Türkiye NPC diyalogları yine şaşırtmadı.
Cehalet özgüvenle birleşince ortaya böyle röportajlar çıkıyor… 🎤🙂
Gülmek serbest, düşünmek şart.
seen from China
seen from China

seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Martinique

seen from Germany
seen from United States

seen from United States
seen from Italy

seen from Romania

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from Canada
seen from China
Türkiye NPC diyalogları yine şaşırtmadı.
Cehalet özgüvenle birleşince ortaya böyle röportajlar çıkıyor… 🎤🙂
Gülmek serbest, düşünmek şart.
Adın ne senin 😄 🎼
Eyvah eyvah eyvah.....🤭🤣🤣
Yandın oğlum sen....🤣🤣
Hayır sadece kediler her zaman haklıdır.
Manusia memang begitu suka menjuluki dirinya makhluk berakal, namun jarang yang benar-benar berpikir.
Mereka hanya mengulang-ulang gema pemikiran yang terdengar aman, yang tidak menggoyahkan, yang tidak mengusik. Kita tumbuh dalam sebuah peradaban yang memuja kepintaran namun gemetar di hadapan kebebasan berpikir.
Inovasi didengungkan di mana-mana, sementara keberbedaan dicap sebagai ancaman yang mesti dijinakkan.
Lihatlah bagaimana anak-anak kita ditempa. Mereka dilatih melontarkan jawaban dengan patuh, bukan merangkai pertanyaan dengan tangguh. Mereka diukur dari kepiawaian meniru teladan, bukan dari keberanian menggugat kemapanan. Maka lahirlah generasi yang penuh orang pandai, namun betapa sedikit yang sungguh merdeka, yang jiwanya tidak terbelenggu oleh rantai tak kasat mata.
Masyarakat kita gemar menertawakan kebodohan sesama tanpa menyadari bahwa diri kita sendiri jauh lebih bodoh.
Sebuah kebodohan bernama kepatuhan buta, kebiasaan mengikuti arus tanpa pernah bertanya ke mana sesungguhnya air itu akan membawa kita; apakah ia membawa berkat atau bencana. Kita menyembah hierarki dengan nama tata krama, padahal seringkali ia tak lebih dari selubung halus agar yang berkuasa tetap nyaman di singgasananya.
Di tengah segala kemunafikan ini, terbentuklah sosok manusia yang nampak begitu santun, begitu teratur. Namun sayangnya, ia telah kehilangan kemampuan paling hakiki yang dimiliki manusia bahwa kejujuran ada pada suara batinnya. Ia membungkuk bukan rasa hormat benar-benar bersemayam dalam benaknya, melainkan ia sudah terlampau lama lupa bagaimana rasanya menggunakan akal.