Dari Bangunan Kita belajar Kejujuran.
Belakangan ini saya suka jengkel, kesal, dongkol, ingin protes. Pasalnya setiap hari ketika menyusuri jalan-jalan menuju tempat berburu dollar saya harus menyiapkan mental untuk menghadapi kemacetan yang klasik, belum lagi jalan bergelombang yang ternyata itu adalah salah satu penyebab kemacetan terjadi.
Seminggu, dua minggu, dan masuk hitungan bulan bahkan mungkin juga sudah hitungan tahun belum juga ada perubahan, entah apa yang terjadi dengan pihak yang seharusnya memberikan perhatian? mau protes juga siapa gue? Mau ikutan nyumbang perbaikan jalan juga bukan orang kaya? So, jadilah saya sebagai orang yang selemah-lemahnya iman alias hanya bisa mendo’akan semoga besok ada perubahan, begitu seterusnya.
Kalo dipikir-pikir sih saya sebagai masyarakat umum merasa sudah berkontribusi melalui pajak yang setiap bulan dibayarkan, *walau kadang telat si, belum lagi sumber pungutan pajak lainnya yang masuk ke pendapatan daerah maupun pusat, dan rasanya itu lebih dari cukup untuk membiayai pembangunan, termasuk membangun dan memperbaiki jalan-jalan yang rusak.
Dan sebenernya Anggaran untuk memperbaiki jalan selalu lah besar disetiap kota. Tapi ya gitu, dana sebesar itu yang sampe puluhan milyar tuh kemana larinya? Mandek dimana? Ngendok dimana? Mangkring dimana? Astaghfirullah tidak seharusnya saya suudzon kepada pejabat negara yg berusaha menyejahterakan rakyat kecil seperti saya ini (janjinya si). Berpikir positip aja, siapa tau uangnya dipake buat bayar cicilin rumah mewah dan mobil mewahnya. Eh.
Tapi saya pribadi tetap bersyukur sih, seenggaknya pemerintah masih punya itikad baik untuk memperbaiki jalan. Meskipun ketika datang musim hujan sedikit demi sedikit kembali rusak ‘lagi’ bahkan terkadang menyisakan material yang berbahaya, belum lagi kurangnya pemahaman pengendara kendaraan yang melintas terutama truk-truk overweight yang seharusnya tidak boleh melintas tapi tetap juga kekeuh lewat. Lengkap sudah penderitaan kita sebagai pengguna jalan karena harus menunggu antrean yang panjang seperti saat mengantri buat beli tiket konser Selena Gomes di Jakarta waktu lalu. Saya jadi teringat kutipan ceramah da’i kondang KH.Zainuddin MZ yang dulu cukup menggelitik,
bahwa tabiat rakusnya manusia itu mudah terlihat, nah apa saja bisa dia makan, aspal dimakan, semen dimakan, pasir dimakan, dlsb.
dan ternyata sampai sekarangpun masih hobby makan yang itu-itu juga bahkan bisa lebih parah dari itu.
Sempat terlintas dipikiran saya sebuah tanya, “mengapa ketika terjadi bencana Masjid tidak hancur ? dan kenapa rumah ibadah lainnya seperti gereja, vihara, klenteng, candi tetap berdiri kokoh meski diterpa hujan badai, cuaca ekstrim atau bangunan-bangunan yang dibangun oleh pemerintah Belanda dinegara kita sangat kokoh hingga sekarang??
Lalu setelah saya berdiskusi dengan arwah Laksama Ceng Ho terkait dengan SDM dan material bangunan yang berkualitas, ditambah wangsit dari Allah SWT, kesimpulan akhir yang dapat saya simpulkan adalah bahwa bangunan itu kokoh karena dibangun dengan sebuah “Kejujuran”. Saya ulangi sekali lagi, “KEJUJURAN”. Dapat dipastikan setiap orang yang terlibat dalam panitia pembangunan masjid, akan takut jika melakukan penyelewengan didalamnya, apalagi ini menyangkut langsung dengan yang namanya ibadah, jadi kalo ga mau langsung dikasih peringatan sama Alloh ya berjalan lurus-lurus saja ga usah neko-neko. Begitu juga dengan tempat ibadah lainnya seperti vihara, gereja, candi, atau bangunan peninggalan Belanda. Pada saat pembangunannya ketika itu pastilah dilakukan pengawasan yang ketat dan takaran material yang benar dan akurat, ditambah lagi mental dari para pekerjanya yang profesional dan terpercaya, maka jadilah hasilnya mantap, karena tidak ada bagian yang dikurangi dan semuanya sesuai porsi.
Seharusnya sih saat pembangunan jalan juga demikian. Andai dibangun dengan kejujuran pastilah akan terbangun struktur jalan yang kokoh, meskipun dilintasi berbagai macam kendaraan, walaupun diterpa hujan badai 7 hari 7 malam, pasti akan tetap kuat dan memiliki massa yang panjang. Lalu sumber daya manusia yang jujur, akan pula melahirkan sosok pribadi yang kokoh, tak akan tergoda oleh kesenangan sesaat, meskipun didepan mata tersaji berbagai kesempatan untuk memperkaya diri, pantang baginya menggadaikan nurani.
Saat ini kita memang sedang menghadapi krisis Kejujuran, tema “kebohongan” sedang hangat-hangatnya dinegara kita, semua orang angkat bicara, mulai dari Ulama, pemerintah, orang pintar, orang awam, hingga orang awam yang sok pintar kek saya pun ikutan. Ya! Tentu tidak ada didunia ini yang sempurna, sebagai manusia biasa pastilah kita pernah berbohong, saya pribadi juga sering bohong kok, sama pacar. Misal, doi tanya :
Pacar : yank kamu lagi apa?
Gw : Lagi belajar. Padahal lagi maen game.
Pacar : Yank kamu lagi dimana? Lagi ditoko buku cari buku buat materi besok. Padahal ditoko buku cari komik. Atau,
Pacar : inget lo yank, jangan minum kopi. Iya sayang engga kok. Padahal lagi nongkrong di Starbucks pesen double espresso (decaf)
dan bohong-bohong lainnya. Jangan ditiru yah. Karna salah satu faktor suksesnya sebuah Relationship ialah kejujuran. Kalau dari hal kecil dan sepele aja udah bohong gimana nanti kedepannya? *Lah. Yang penting bohongnya tidak berlebihan dan keseringan juga, karena akibatnya kurang baik untuk kesehatan, terutama jantung.
Bangunan memang benda mati yang bisu, tapi sesungguhnya dia (bangunan) adalah cermin dari apa yang telah kita lakukan terhadapnya, dia akan kokoh apabila sumber daya manusia pembangunnya adalah pribadi-pribadi yang jujur, namun dia akan mudah ambruk dan hancur jika sumber daya manusia pembangunnya adalah pribadi-pribadi yang rapuh dan tidak jujur.
Makassar, 29 September 2017
Ps : @karenapuisiituindah