“Mau pesan apa kak?”, ucap mbak-mbak waiters.
“Kak, mau pesan apa??”, ucapnya sekali lagi.
“Kakk, helloo kaaak”, ucapnya kali ini dengan suara yang agak keras.
“Eh, iya mbak”, jawabku kaget. Lamunanku tiba-tiba terpecah oleh suara mbak-mbak waiters disalah satu cafe kekinian di daerah Makassar. Tempat aku berada di penghujung hari ini.
“Maaf kak, mengagetkan”, ucapnya pelan.
“Ohh iya mbak. Gapapa. Ada apa mbak?”, tanyaku.
“Kakak mau pesan apa ya?”, tanyanya dengan senyum.
“Espresso aja mbak”, jawabku singkat.
“Espresso aja ya kak?”, tanya nya.
“iya mbak. Double shot ya mbak”, tambahku.
“Baik, ditunggu ya kak”. lalu mbak-mbak waiters itu pergi.
Terakhir kali aku mendatangi cafe ini 4 bulan yang lalu. Padahal sebelumnya hampir settiap minggu aku tak pernah absen mengunjungi cafe ini. Dulu. Iya dulu ketika aku masih bersama kamu. Namun kini, setelah 4 bulan sejak kepergianmu, untuk pertama kalinya aku mengunjungi tempat ini lagi. Yah, anggap saja aku sedang ziarah mengunjungi kenangan bersamamu.
Entah kenapa kamu begitu suka dengan cafe ini. Bahkan dulu aku sempat menanyakan alasan-nya kepadamu, tapi yang kudapat hanya jawaban “hehehe ya pokoknya suka ajah” ditambah efek senyum. Meski aku tidak mengerti alasan konkrit kenapa dia begitu suka dengan cafe ini, aku tetap berusaha memahami. Toh, seperti kata orang, tidak semua hal yang kita sukai harus mempunyai alasan. Jatuh cinta misalnya.
Cafe dengan desain vintage, dan agak klasik ini menghadap ke bahu jalan. Tempat dimana para pengunjung dapat melihat kondisi Jalan di Makassar yang-entah-mau-disebut-apa karena saya pribadi sudah muak dengan kondisi jalanannya. Hampir 2 tahun mencari peruntungan disini, membuat saya sadar dan mengerti akan derita para warga yang ada di Jakarta.
Pengendara motor di trotoar. Tempat yang harusnya menjadi tempat bagi pejalan kaki. Pengendara mobil yang mau saya bilang bodoh, karena membunyikan klakson disaat keadaan macet. Atau, pengendara motor yang sibuk misuh dan ngomel-ngomel karena bagian belakang motornya ditabrak motor yang ada dibelakangnya, dan tetekbengek lainnya.
“Maaf kak, ini pesanannya”, dia senyum sambil menaruh pesananku di meja.
“Makasih mbak”, jawabku dengan senyum.
“Ooiya kak, kok tumben baru keliatan lagi? Biasanya tiap minggu hampir sellau kesini kan sama pacarnya hehe”, tanya mbak-mbak waiters itu sambil nyengir.
“Dia lagi pergi mbak”, ucapku.
“Pergi kemana kak, kalau boleh tau?”, tanyanya kepo.
“Pergi mencari Dragon Ball mbak”, jawabku singkat.
“Hahaha bisa aja kak”, dia ketawa.
“Dia pergi dengan orang yang ‘tepat’ mbak.. dan bukan aku”, jelasku.
“Owhh gitu. maaf ya kak”, ucapnya merasa nggak enak.
“Haha santai aja kali mbak, gapapa kok”, aku senyum.
“Iya kak. Btw nggak usah galau gitu kak. Di dunia ini cewek banyak banget kak, ga cuman dia ajah”, ucapnya sambil ketawa lalu dia pergi.
Memang betul apa yang dikatakan mbak waiters itu tadi. Cewek itu banyak banget, tapi masalahnya yang mau sama aku itu ada kah?, ucapku dalam hati
“Aku mau putus”, ucapnya tiba-tiba.
“Putus?! Taa.. Tapi kenapa?, aku kaget.
“Gapapa. Aku merasa tidak lagi cocok denganmu”, jawabnya pelan.
“Tidak cocok?!!, Maksudnya?, aku bingung.
“Sudahlah! Kamu selalu sibuk dengan dunia mu. Bahkan hampir selalu tak punya waktu untukku”, jelasnya.
“Sibuk??!! Aku sibuk karena sedang berusaha untuk membahagiakanmu. Kalau aku tak bekerja, kapan aku bisa mengumpulkan uang untuk menikahimu?”, jawabku setenang mungkin.
“Aku ingin menjalin sebuah ikatan yang serius (Pernikahan) dengan kamu. Tak hanya sebatas pacaran kek gini”, aku menegaskan.
“Kamu pernah mengucapkan kalimat yang sama 2 bulan yang lalu”, sanggahnya.
“Iyaaa tapikan….”, belum selesai aku bicara dia langsung memotong.
“Sudah Adit, aku tak kuat lagi menjalani hubungan ini denganmu. Aku capek selalu jadi prioritas -entah-keberapa dalam hidupmu”, ucapnya.
“Tapi Ris, aku melakukan ini semua untukmu. Aku bekerja dari pagi bahkan sampai larut malam semata-mata untuk mewujudkan impian kita. Menjalin sebuah hubungan rumah tangga”, aku mencoba menjelaskan kembali.
“Aku paham dan aku juga sudah berusaha mengerti. Tapi maaf, aku telah sampai di ujung batas pengertianku. Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Aku ingin diperlakukan seperti wanita lainnya, Dit. Aku ingin mendapatkan hal yang sama seperti yang wanita lain dapatkan dari kekasihnya”, ucapnya dengan raut wajah sedih.
“Riskaa..”, aku pegang tangannya.
“Maafkan aku, Dit. Terima kasih untuk semuanya”, ucapnya lirih.
“Sayangg..”, kutatap matanya dalam-dalam.
“Adit! aku pergi dulu. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan lupa jaga kesehatan, dan jangan terlalu banyak minum kopi. Ingat! Asam lambungmu”, dia lepaskan genggaman tanganku lalu dia pergi.
Heyy Ris, aku masih ingat betul kalimat terakhir yang kamu ucapkan ketika mengakhiri hubungan kita. Bahkan sampai raut wajahmu, tatapan matamu, aroma tubuh khasmu, aku ingat betul. Sampai pelukan hangat disertai cumbuan mesra yang kita curi-curi agar tak ketahuan pengunjung lain.
Tangisan air mata kesedihan, saat kamu ceritakan segala masalah yang menghampiri hidupmu yang membuat bajuku basah karena air matamu. Yang membuat mata-mata orang yang melihatnya seperti aku tokoh antagonis di ftv-ftv. Lalu air mata kebahagiaan, saat aku mengganti kue ultahmu dengan 1 lusin donut jco lengkap dengan sepasang kaos kaki sebagai hadiahnya. Semuanya itu kini tersimpan rapi di dalam ingatanku, Ris.
Tak ada niatan untuk kuhapus. Sungguh. Biarkan semuanya mengendap, menusuk hingga kedalam ingatanku. Dan jika aku sedang ingin ‘ber-ziarah’ mengunjungi kamu dan kenangan(bersama)mu. Cafe ini adalah tempatnya.