Kesepian Paling Menyebalkan
“Kau tahu Ra, kesepian paling menyebalkan itu apa?” tanya seseorang di sampingku, saatku menunggu keberangkatan ke rantau tempo hari tentu bersamanya, si rajin menemaniku, menjemputku, dan bersamaku selama aku pulang ke kampung halaman.
“Semua rasa kesepian itu menyebalkan, Di. Tidak ada yang tidak.” jawabku, entah.
“Ada yang paling di antara semua Ra.” sanggahnya menandakan jawabanku tidak sepenuhnya benar.
“Apa ya Di? Tidak tahu juga ya. Bagiku semua sama.” jawabku lagi.
“Kesepian yang meraja beberapa waktu setelah perpisahan, entah kesepian itu sebelumnya berperan sebagai yang meninggalkan atau bahkan yang ditinggalkan. Keduanya sama-sama kesepian yang menyebalkan.” pandangan matanya beralih pada sudut lain bandara, enggan menatapku. Sesendu ini, baru kali ini aku melihatnya. Aldi teman kecilku tak pernah sebegininya, tumben sekali.
“Kamu merasakannya saat kita berpisah, setiap kali aku pergi lagi dari kota ini?” aku menengok ke arahnya.
“Tentu Ra, berkali-kali. Tak terhingga, sampai-sampai rasanya mulai terbiasa, tapi tetap menyebalkan saja.” ucapnya lagi.
“Maka ganti menyebalkan menjadi menyenangkan Di” ucapku lagi.
Ia menengokku heran, “Caranya?”
Aku menatapnya, “Ganti perasaan kehilanganmu menjadi keyakinan, bahwa aku akan selalu pulang.” ... pada dekapmu yang serupa rumah, batinku. Tak cukup berani aku menyempurnakan kalimatku, biar kutuntaskan sisanya di dalam hati.
Detik berikutnya waktu keberangkatanku, kutinggalkan Aldi dengan perasaan bingungnya.
Pict source: @karenapuisiituindah