Pertengahan januari tahun lalu kuberanikan diri memberikan senyuman pada dia. Meskipun saat itu aku dan dia belum saling mengenal. Senyumanku itu dia balas. “Eh dia ramah juga.” Gumamku.
Semudah itu membuatku tertarik padanya. Murah. Namanya juga usaha, ucapku.
Dan setelah pertemuan itu, aku tidak memikirkannya. Karena tidak ada juga yang perlu dipikirkan. Hidupku berjalan normal.
Sampai suatu ketika, entah bagaimana cara Tuhan dan semesta mempertemukan kami kembali dalam suatu project. Dari sanalah, rasa ini mulai muncul. Namun ku tutup rapat. Sangat rapat.
Semuanya berjalan biasa. Eh salah. Kubuat biasa. Setiap kali diharuskan berdiskusi, beberapa menit sebelum dia datang, aku mulai memperbaiki make up ku meskipun hanya sekedar bedak tabur dan lipstik. Ah, wanita aneh. Ucapku sambil memasukkan lipstik ke dalam pouch kecil.
Harusnya saat itu aku hubungi saja dia via WhatsApp. Tapi kuurungkan.
Wah ternyata dia telah siap di mejaku dengan pulpen dan kertas berisikan konsep-konsep untuk project ini. Maafkan aku yang sedari tadi sibuk dengan diriku sendiri depan cermin toilet lantai 2.
Setiap kali menemui jalan buntu. Kuputuskan diam. Lalu kubiarkan dia berbicara. Aku suka mendengarkan dia berbicara. Setiap kata yang dia ucapkan seolah mewakili apa yanh sebenarnya ingin kuucapkan. Aku hanya mengangguk.
Ah bodoh banget sih aku ini. Rasanya aku belum mengeluarkan ide-ide yang telah kupikirkan semalaman.
“Ta, menurutmu bagaimana? Aku pikir jika paragraf ini sedikit diperbaiki hasilnya akan lebih mudah dipahami oleh pembaca.” ucap Rafy.
Itulah namanya. Muhammad Rafy. Tapi aku lebih senang memangginya, Mufy.
“Iya sih, jika dirubah dengan kalimat yang lebih sederhana, pembaca akan mudah memahami. Tapi Fy, kita tidak bisa langsung mengubahnya. Harus ada persetujuan tim editor.”
Dia menaikkan satu alisnya yang tebal.
“Tenang Ta. Itu bisa aku urus malam ini.”
Ah, Fy kamu selalu bisa membuatku merasa terselamatkan. Oh tidak. Mengapa aku merasa dia berbeda. Ada yang salah dari diriku. Mengapa setiap yang dia lakukan terlihat mengagumkan.
Setelah project itu, pertemuan dengan dia di lorong kampus selalu kuharapkan dan menjadi candu. Meskipun tidak pernah ada percakapan panjang, aku selalu berusaha menyapanya dengan senyum merekah.
Dan Mufy pun begitu. Dia bisa saja tiba-tiba muncul dibelakangku. Memanggilku meskipun untuk sekedar mengejek apa yang aku tulis di sosial mediaku.
“Eh dia baca apa yang aku tulis semalam? Aaaaahhh aku harus gimana.” Gumamku setengah berlari masuk ke dalam kelas.
Setiap kali aku tertarik pada seseorang, aku membayangkan dialah yang menjadi pendampingku nantinya. Namun, untuk Mufy berbeda. Aku tidak berani melanjutkan khayalanku. Aku langsung sadar apa yang aku bayangkan. Berusaha menampar diriku. Meyakinkan bahwa itu hanya khayalan.
Satu-satunya cara yang kulakukan adalah mengadu pada Tuhan di sepertiga malam. Aku sebut namanya untuk bilang pada Pencipta bahwa aku tertarik. Namun kupasrahkan saja padaNya akan memberikan kejutan apa padaku.
Kali ini berbada Fy. Aku tidak ingin terjebak pada kekagumanku sendiri. Aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi nanti jika kamu tahu aku tertarik padamu, Fy.