seen from United States
seen from China
seen from Japan

seen from Germany

seen from China

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Spain
seen from Türkiye

seen from Austria

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Australia

seen from United States

seen from United States
seen from Canada

seen from Germany
seen from Ukraine
PROVINSIALISME
Herbet Spencer, ahli filsafat ternama mengatakan bahwa manusia itu pada hakikatnya bersifat kuno. Hatinya sering terikat oleh kebiasaan, perasaannya berat kepada yang lama. Itulah sebabnya orang tak mudah membuang yang lama dan menerima yang baru. Demikianlah juga dalam pergaulan, orang sangat terikat pada tempatnya yang lama, bahkan tempat tumpah darahnya.
Memang filosofi kehidupan ini kita alami setiap hari. Apalagi orang tani sangat melekat hatinya kepada tanah yang dikerjakannya, kepada pada pekarangan yang didiaminya, apapula kalau tanah itu diperoleh sebagai pusaka nenek moyang, turun temurun dari buyut sampai ke kakek, dari kakek sampai ke bapak, dari bapak turun ke anak, dari anak turun ke cucu, dan selanjutnya.
Sifat itulah yang menjadi sendi perasaan provinsialisme yang menjadi halangan kepada maju nya cita – cita persatuan bangsa, Itulah sebabnya persatuan bangsa lambat timbul dari agrarian, yang penduduknya terutama hidup daripada pertanian, dimana satu sama lain jarang berhubungan tukar menukar.
Cita – cita persatuan lekas timbul dalam dunia industri, dimana rakyatnya yang membunuh terlepas dari ikatan tanah dan tempat melainkan disusun bersatu oleh pabrik dan disiplin pekerjaan.
Masih banyak diantara kita yang bernama atau menamakan diri nasionalis Indonesia, akan tetapi pergaulannya dan semangatnya masih amat terikat kepada daerah dan tempat Ia dilahirkan. Hatinya berat meninggalkan tanah tumpah darahnya, bercerai dengan pekarangan tempat buainnya tergantung. Apalagi kalau Ia terpaksa meninggalkan kota nya yang ramai dengan tiada kemauannya sendiri, kalau Ia ditempatkan disuatu daerah yang sunyi, yang adat dan lembaganya berlainan daripada yang dipakainya. Dimana timbul pilu dalam hatinya, teringatlah Ia kepada kampung dan lupalah Ia kepada Indonesia, yang daerahnya jauh lebih luas daripada kampung dan halaman si musafir tadi.
Siapakah yang masih berperasaan begitu bukanlah Ia anak Indonesia, melainkan tak lebih dari anak provinsial.
Itulah sebabnya pergerakan kemerdekaan kita bermula menuju hilangnya perasaan provinsialisme. TIdak sedikit tempo yang dipergunakan untuk propaganda supaya orang batak menghilangkan perasaan ke-batak-annya, supaya orang Minangkabau meninggalkan ke-Minangkabau-annya, supaya orang sunda, jawa dan Madura melepaskan diri masing – masing daripada perasaan kebangsaan yang picik. Bagaimana juga tiap – tiap daerah dan kaum terikat oleh bahasa yang sama dan agama yang serupa, melainkan oleh kemauan untuk bersatu. Dimana ada kemauan untuk bersatu dalam perikatan yang bernama bangsa, diwaktu itu timbullah kebangsaan Indonesia.
Dikutip dari otobiografi Muhammad Hatta
Ditulis ulang oleh : Abu Al karim
Semarang, 10 November 2016
,