Citamu, Citaku
15/03/2018
Allah yang Maha Membolak-balikkan Hati, Raja Diraja yang Maha Merajai seluruh alam semesta, yang selalu menggerakkan hati hamba-Nya untuk berlabuh, mencari hikmah kehidupan, yang selalu menjadi pengingat insan kecil yang menggantungkan pada-Nya segala pengharapan.
Sore itu, dilabuhkan (lagi) raga ini ke cahaya inspirasi semesta, Mas Mabrur. Seorang sosok tukang cukur rambut (my brother semua, jalan Jatimulyo) yang begitu kaya ini. Sesosok berperawakan kurus namun gemuk (ilmu) ini selalu bercerita bahwa, ia tak pernah sedetikpun merasakan bagaimana kerasnya kursi sekolah, riuhnya suasana kelas, dan berseraknya tatanan meja belajar.
Namun ternyata benar, bahwa "school of life" adalah sekolah yang benar-benar nyata. Kala output yang diharapkan dari seorang yang berpendidikan adalah sebuah kemampuan berpikir dan kebijaksanaan tiada didapat di jaman sekarang, namun Pak Mabrur ini ku pikir (terkadang) berpendidikan lebih tinggi dibanding para manusia bertoga.
Hidup di lantai penuh bebatuan, kapak cangkul menjadi bekal kala ia belajar. Menjadi anak tani yang membuat kakinya selalu terlumat lumpur menjadi sesehariannya. Dengan ketangkasan perkakas dan kecakapan dalam bergaul, membuat ia menyisihkan beberapa jenak waktu untuk membuat karya dari kayu dan rotan. Sempat menjadi andalan pula kala menjadi tukang pembuat gitar bersama lelaki yang ia panggil, 'pakde'.
Citamu, citaku. Sesungguhnya dalam hidup, kita memiliki tujuan yang sama, yang kita sebut, kebahagiaan. Kebahagiaan yang kita dapat sebagai reward atas ketundukan kita terhadap tatanan dunia Sang Pencipta. Kebahagiaan di dunia, dan akhirat.
"Alhamdulillah, belum mas", adalah jawaban kala ku tanya apakah hari ini sudah mendapatkan pelanggan atau belum, atau job panggilan cukur di tempat lain yang sering ia dapat. Kalimat itu menurutku begitu dalam maknanya. Tak mudah walaupun hanya berkata seperti itu. Coba saja rasakan sendiri, pasti selalu lebih banyak pembelaan dan 'ngedumel' marah kenapa nggak ada pelanggan. Benar bukan? Saya juga.
Seringkali dia mendapatkan pelanggan dari para pejabat negeri, dan tak jarang pula ia mendapatkan pertanyaan, "Mas Mabrur nggak pengen kaya apa?", maksudnya adalah terkadang ia berkali-kali ditawari berbagai macam harta yang begitu menggiurkan dari mereka. Dan beliau memilih diam dan tersenyum ketika ditanya seperti itu. Beliau berkata, "Pertanyaan seperti itu menurut saya tidak perlu dijawab mas. Sudah jelas kan jawabannya? Namun balik lagi, kekayaan untuk apa jika kita tidak mencapai tujuan hidup kita?".
Kala kata 'kaya' selalu didefinisikan dalam bentuk materi. Kala kata 'kaya' menurutnya saya sudah begitu lekat tersemat dalam dirinya, Mas Mabrur.
Kaya 'hati' adalah yang aku lihat darinya. Begitu bijaksana dalam menghadapi berbagai masalah. Begitu santun dalam tata krama, sederhananya, kita dapat melihat kemuliaan seseorang dalam bagaimana cara seseorang menjamu tamunya.
Ia selalu memberikan studi kasus dari keluarganya, tak menjelekkan orang lain. Misal, kala sang istri dengan berbagai kekurangan, dengan begitu sabar ia luluhkan hingga terbentuk, "Dulu gak bisa senyum loh mas, gak bisa ramah sama siapapun. Sekarang Alhamdulillah lebih baik. Liat aja tadi pas ketemu Mas Azka". Dan berbagai cerita lainnya.
Kala sebuah cita dipandang dalam sudut sebuah harta dan tahta. Namun yang sering terlewatkan adalah, kualitas diri jarang dijadikan sebagai cita. Toh, kebahagiaan adalah ujungnya, fid-Dunya wal Aakhiroh.
Bukan berarti, kaya harta juga tahta tidak boleh. Namun janganlah kita fana terhadapnya. Kadang dia menjadi kabut yang begitu mengelabui. Padahal, kita masih jauh 'tuk berlabuh. Dan citamu, citaku, adalah sama, adalah satu. Perspektif memandangi nya lah yang membuatnya berbeda.
“Jadikan setiap yang kita miliki sebagai kendaraan untuk mencapainya. Bukankah akan sangat terasa indah jika kita mampu menggapai-nya bersama.”
Serasa menikmati gugusan senja pantai itu bersamamu. Hehe.
Jadi, apakah kamu sudah siap merasakan senja itu bersamaku?













