WISATA KOTA SEMARANG #1 Satu Hari Menjelajah Tempat Wisata Historical Ambarawa
Gambar 1.1. Tiket Kereta Api Pasar Senen - Semarang Tawang (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Kamis, 24 September 2015 dengan tiket yang terlampir diatas saya berangkat ke Semarang dari Stasiun Pasar Senen. Kereta Menoreh berangkat tepat waktu sesuai dengan jam keberangkatan yang tertera pada tiket. Perjalanan dari Jakarta ke Semarang membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam.
Tepat pukul 13:43 WIB saya sampai di Stasiun Semarang Tawang. Sesampainya di Stasiun saya langsung menghubungi teman saya yang rumahnya akan saya tumpangi untuk tinggal selama di Semarang, untuk menanyakan kendaraan apa yang harus saya tumpangi untuk menuju ke rumahnya. Kebetulan rumah teman saya ini letaknya bukan di Kota Semarangnya, tapi di Ambarawanya. Mengapa saya tidak menginap di Semarangnya? Karena teman-teman saya yang tinggal di Semarang sedang tidak berada di kotanya, kebanyakan sedang di luar kota, alhasil saya numpang di tempat teman saya yang di Ambarawa ini, nama teman saya yang telah baik hati mengizinkan orang paling oke ini untuk menginap di rumahnya adalah Ayun.
Setelah mendapat informasi dari Ayun ini yang ternyata manusianya masih perjalanan dari Jogja ke Ambarawa, saya pun menunggu kendaraan umum yang apapun dengan tujuan Terminal Bawen Ambarawa. Sekitar 2 jam saya menunggu di luar stasiun sampai akhirnya lewatlah bis berwarna hijau-kuning arah Semarang-Ambarawa di tempat saya menunggu. Setelah memberhentikan dan memastikan bahwa bis ini lewat Terminal Bawen, saya pun naik dan duduk. Biaya bis dari Stasiun Semarang Tawang ke Ambarawa adalah Rp 13.000,-, perjalanan memakan waktu sekitar 1 1/2 jam. Karena perjalanan yang cukup lama dan melelahkan, saya pun tertidur di kursi bis, tidak kuat menahan kantuk. Alhasil saya pun kelewatan tempat dimana harusnya saya turun, harusnya saya turun di Terminal Bawen (karena akan dijemput disitu oleh pacarnya Ayun) jadinya saya harus turun di tempat pemberhentian terakhir yaitu di depan Monumen Angkatan Darat Palagan, hehe maklum. Kemudian langsung saya menghubungi nomor pacarnya yang diberikan oleh Ayun sendiri untuk memberitahukan bahwa posisi penjemputan berubah. Untungnya jarak dari Terminal Bawen ke Palagan itu tidak terlalu jauh, tidak berapa lama pacarnya Ayun datang dengan motornya, saya pun naik dan langsung diantarkan ke rumah Ayun yang terletak di daerah Pasar Projo Ambarawa.
Jalan menuju rumah Ayun cukup menanjak, karena ternyata posisinya berada di daerah perbukitan Ambarawa. Gila kalau awalnya saya tetap kekeuh dengan rencana saya untuk berjalan kaki saja dari depan Pasar Ambarawa itu sampai rumahnya, apalagi kondisi saya membawa barang-barang bawaan ini. Kalau mengendari motor hanya butuh waktu 10 menit dan akhirnya sampai di rumah Ayun.
Sesampainya di rumahnya, saya disambut teman saya itu dan kemudian langsung diajak masuk serta dikenalkan dengan kedua orang tuanya dan kedua adiknya. Orang tua Ayun adalah pribadi yang ramah, hanya saja sang Ibu lebih cerewet sedangkan Ayahnya cenderung lebih sedikit bicara. Setelah bersalaman dengan kedua orang tuanya, saya dipersilakan untuk beristirahat. Hari pertama sampai di Ambarawa, saya memilih untuk beristirahat dulu dikarenakan hari sampainya saya yang sudah sore dan karena hari itu bertepatan dengan perayaan Lebaran Idul Fitri, takut nanti jalanan terlalu ramai jika pergi-pergi, jadi mari beristirahat.
Jumat, 25 September 2015. Saya bangun pagi-pagi, sekitar jam 5 dan ternyata orang tua Ayun terbangun lebih pagi dari saya dan mereka sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja. Ketika saya terbangun, ibu Ayun langsung menawarkan saya berbagai macam minuman hangat dan makanan untuk sarapan, saya mengucapkan terimakasih dan berkata tidak usah repot-repot. Keluarga ini memang super ramah terhadap tamu atau teman-teman anaknya. Ayun sendiri belum bangun dari peraduan, maka sambil menunggu saya memilih untuk mandi terlebih dahulu agar badan segar. Tidak usah ditanya bagaimana rasa airnya, dingin abisss!! Selesai mandi, ternyata Ayun sudah bangun dan kami pun sarapan dahulu sambil membicarakan rencana hari ini. Kami berencana hari ini tujuan utama perjalanan kami adalah area Ambarawa dahulu yaitu Candi Gedong Songo & Goa Maria Ambarawa.
Sekitar pukul 9 lebih, setelah kami selesai sarapan dan Ayun selesai bersiap serta yang momong adik Ayun yang terakhir datang pun kami segera berangkat. Kami berjalan kaki dari rumah Ayun sampai pada gang depan dimana merupakan jalan masuk menuju daerah rumah Ayun. Awalnya saya pikir akan melelahkan, karena membayangkan jalan yang menanjak dan jauh, tapi setelah merasakannya langsung ternyata biasa saja, karena kami berjalan dengan santai. Perjalanan dari rumah Ayun menuju gang depan dengan berjalan santai memakan waktu sekitar 15 menit saja. Sampai depan gang Pasar Projo, kami pun menaiki angkutan umum yang sudah mangkal di depan gang dengan arah tujuan ke Polin, warna angkutan umum ketika itu adalah putih-pink. Perjalanan kami menuju ke Polin ini tidak sampai 10 menit dengan biaya Rp 3.000,-. Sampai di Polin kami turun dan menyebrang untuk menaiki mobil elf dengan trek Ambarawa- Candi Gedong Songo yang berwarna hijau rumput. Ketika kami naik, penumpang yang naik kendaraan ini baru sedikit, sehingga supir elf tidak mau berangkat sebelum semua kursi penuh, alhasil kami baru beranjak dari tempat mangkal itu sekitar 30 menit setelahnya. Sebelum berangkat kami membayar biaya angkut dengan harga Rp 5.000,-. Perjalanan dari Ambarawa menuju ke gerbang depan Candi Gedong Songo memakan waktu sekitar 30-45 menit, sepanjang perjalanan saya menyadari ternyata penduduk Ambarawa ketika menaiki angkutan umum lebih gila dibandingkan dengan penduduk Jakarta. Anak-anak SD yang masih kecil-kecil lebih memilih bergelantungan diluar ketimbang duduk santai di dalam, karena ketika kami para orang dewasa memberikan mereka tempat duduk, mereka tidak mau dan malah tetap bergelayutan, bahkan sampai anak-anak perempuannya. Amazing !! Sepanjang perjalanan juga saya melihat kami melewati pasar Ambarawa yang entah kenapa saya tergiur dengan buah kelengkengnya yang katanya khas Ambarawa. Setelah melewati pasar tersebut, tidak lama kami pun sampai di gerbang menuju Candi Gedong Songo, candi ini terletak di Kabupaten Bandungan dan betapa terkejut karena jalanan menuju wisata Candi Gedong Songo nya sendiri pun sangat menanjak. Saya membayangkan jikalau saya tetap kekeuh ingin berjalan saja, betapa gempornya kaki saya ini atau pun jika saya mengiyakan untuk menggunakan motor ayahnya/ pacarnya Ayun saya tidak tahu apa saya bisa membawa motor itu dan Ayun dengan selamat. Karena jujur saya walaupun saya telah mengendarai motor selama 4 tahun, tapi kalau dihadapkan tanjakan super ini tetap saja saya ngeri. Hehehe. Untungnya di dekat situ ada pangkalan ojeg, maka kami memilih untuk membayar tukang ojeg hanya dengan harga Rp 10.000,-/ motor untuk melewati tanjakan gila itu daripada gambling jalan kaki. Motor yang digunakan untuk mengantar kami pun motor kopling Honda RX King jaman dulu, 2 tak yang memang kuat untuk tanjakan seperti ini. Hmm...
Sekitar 20 menitan yang menegangkan kami pun sampai pada gerbang masuk tempat wisata Candi Gedong Songo tersebut. Setelah membayar biaya ojeg, kami pun segera pergi ke loket untuk membeli tiket masuk. Tiket masuk per orang adalah Rp 7.500,-, sebelum melewati pos pengecekan tiket kami berbelok ke kanan ke sebuah warung yang menjual makanan dan minuman ringan serta terdapat toilet umum. Kami pun membeli beberapa makanan dan minuman ringan untuk persediaan perjalanan kami yang kata Ayun akan sangat melelahkan karena jalannya yang menanjak cukup terjal. Selesai membeli makan, kami pun pergi ke toilet umum dulu untuk buang air kecil, untuk biaya buang air kecil disitu hanya dikenakan Rp 2.000,-. Setelah selesai dengan segala persiapan, kami pun pergi ke pos pengecekan tiket dan setelah itu masuk. Jujur saya agak deg-degan, karena saya melihat tanjakannya yang cukup rupawan dan saya pesimis bahwa saya tidak mampu dan nanti akan banyak beristirahat sama seperti ketika saya naik bersama kawan-kawan saya ke Bukit di daerah Wonosari atau ke pantai Jung Wook yang jalanannya sungguh seksi untuk camping. Tapi kali ini saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya mampu melewati tanjakan mengerikan ini. Tanjakan pertama masih tidak masalah, karena masih landai, di tanjakan pertama ini lah candi yang pertama terlihat, kami pun bernarsis ria dahulu sambil mengamati candinya sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami.
Gambar 2.1. Candi Gedong I - Candi Gedong Songo Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Setelah dari candi pertama sampailah kami pada jalanan agak menyempit dengan trek berbatu yang di kedua sisinya kebun, disitulah saya mulai merasa degupan jantung saya mulai cepat, keringat bercucuran, nafas mulai ngos-ngosan. Saya pikir hanya saya saja yang merasakan ini sedangkan Ayun tidak, karena dia bertubuh kecil dan mungil, tapi ternyata Ayun pun merasakan hal yang sama bahkan lebih parah dia karena dia benar-benar sudah merasa kelelahan. Melihat di depan kami terdapat warung-warung kecil dengan tempat duduk di depannya, kami pun berusaha untuk sampai kesana dengan sisa tenaga kami *lebay dan kemudian beristirahat sejenak untuk minum dan meluruskan kaki. Sungguh payah kondisi tubuh kami yang masih berumur sekitar 23-24 tahun ini, baru berjalan tidak sampai 10 menit melalui tanjakan itu saja nafas sudah Senin-Rabu.
Setelah 10 menit beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan kami yang akan masih menanjak. Tapi ternyata tanjakan-tanjakan berikutnya tidak terlalu melelahkan, hanya tetap membuat kami berkeringat karena cuaca yang memanas. Tidak sampai 10 menit kami sampai di candi yang ke-2. Candi ke-2 ini pucuk (atap) lebih agak tinggi, bertambah 1 tingkat jika diperhatikan, mungkin ini ada hubungannya dengan kasta atau kedudukan di masa itu?Untuk ukiran, candi ke-2 ini dihiasi relief bentuk kepala naga di sisi kedua pintu masuknya dan diatasnya ukiran Kalamakara sisanya di dominasi dengan bentuk tetumbuhan .Disini kami tidak bernarsis ria, hanya candinya saja yang kami foto.
Gambar 2.2. Candi Gedong II - Candi Gedong Songo Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Tidak berlama-lama di candi ke-2, kami melanjutkan perjalanan kami kembali, perjalanan masih naik turun dan berkelok-kelok yang untungnya hanya membuat berkeringat tapi tidak sampai berkunang-kunang. Tidak lama pun kami sampai pada candi ke-3. Terdapat 3 candi dI area ini, 2 candi dibangun sejajar dan menghadap ke arah timur yang sepertinya merupakan candi utama dan 1 candi lebih pendek menghadap ke barat. Bentuknya agak beda dari candi pertama dan ke-2, candi ke-3 ini pucuk (atap) bertambah 1 tingkat lagi dengan yang paling atas lebih mengerucut. Kemudian di kedua sisi pintu masuk candi utama terdapat relief Dewa Siwa yang membawa gada di tangan kanannya, juga di sekeliling dinding candi terdapat relung yang berisi Arca Ganesha dan Durga bertangan 8, sisanya adalah relief tumbuhan seperti candi sebelumnya.
Gambar 2.3a. Candi Gedong III - Candi Gedong Songo Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Gambar 2.3b. Candi Gedong III - Candi Gedong Songo Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Setelah beristirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke candi berikutnya, yaitu candi ke-4. Dalam perjalanan kami menuju ke candi berikutnya, kami mencium aroma seperti kentut alias belerang, ternyata area candi berikutnya dekat dengan tempat pemandian air panas belerang yang memang ada di Candi Gedong Songo ini. Ketika kami melewati tempat pemandiannya, airnya hitam tapi bersih, sayangnya kami tidak berminat untuk berenang atau mandi, jika kalian berminat untuk mandi biaya yang dikenakan hanya Rp 5.000,-. Setelah itu kami penasaran dengan asap yang mengepul dari sebuah celah batu di sekitar pemandian tersebut, kami pun menghampiri tempat tersebut dan wow, baunya sungguh menawan!! Ternyata, lereng ini merupakan dimana sumber air panas belerang dihasilkan, aroma belerang kuat di daerah ini.
Gambar 2.4. Sumber Air Panas Belerang - Candi Gedong Songo Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Setelah puas bernarsis ria di area sumber air panas belerang ini, kami pun berjalan melewati jalan kecil yang terdapat di belakang tempat pemandian yang menuju ke arah candi ke-4 dan 5. Jalannya tidak terlalu menanjak, cenderung agak menurun dan sekelilingnya penuh dengan tumbuhan hijau yang segar, sayangnya banyak pengunjung yang membuang sampah mereka sembarangan, karena sepanjang perjalanan ini saya melihat terdapat bungkus makanan dan minuman ringan terhampar :(. Tidak lama berjalan kami pun melewati candi ke-4, sayangnya kami tidak foto dari dekat candi ke-4 ini, jadi tidak terlalu tahu menahu apa bedanya dengan candi sebelumnya.
Gambar 2.5. Selfie dengan Latar Belakang Candi Gedong IV dan Pepohonan - Candi Gedong Songo Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Tidak jauh dari candi ke-4 dengan jalanan agak sedikit menanjak lagi terdapat lah candi ke-5, mengapa jalan candi-candi di Gedong Songo ini dibangun di ketinggian gunung yang berbeda-beda? Sepertinya itu karena kepercayaan orang dulu, bahwa tempat yang dibangun semakin di puncak gunung itu akan semakin mudah untuk berdoa kepada Allah. Tidak sampai 10 menit kami sampai di candi ke-5.
Gambar 2.6a. Pelataran Candi Gedong V - Candi Gedong Songo Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Gambar 2.6b. Candi Gedong V - Candi Gedong Songo Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Candi ke-5 ini mempunyai bentuk yang serupa dengan candi ke-2, hanya saja pucuknya agak beda seperti dapat dilihat di gambar 1.7b dan di dinding luar juga terdpat relung yang berisi relief Ganesha duduk bersila. Kemudian di sekitarnya juga terdapat reruntuhan, yang sepertinya bekas candi-candi kecil, sisanya sama dengan candi ke-2. Setelah candi ke-5 ini kami pun turun, disinilah saya heran, namanya adalah Candi Gedong Songo yang mana harusnya terdapat 9 candi di dalamnya, sayangnya kami hanya melihat 5 candi, lalu kemana 4 candi sisanya? Hmm...
Keluar dari gerbang Candi Gedong Songo, kami pun charter ojeg lagi untuk turun. Naik dan turun sama saja, sama-sama bayar Rp 10.000,- dan sama-sama menegangkan, kali ini untuk turun kami menaiki 2 motor matic. Sampai di bawah, sudah ada mobil elf berwarna merah ngetem, awalnya kami sangka mobil ini berbeda tujuan dengan awal, ternyata sama saja, kami pun naik. Kali ini tidak perlu menunggu lama, mobil ini pun jalan. Waktu yang ditempuh sama seperti ketika kami berangkat, biayanya pun sama yaitu Rp 5.000,-. Kami turun di Palagan, karena tujuan kami selanjutnya adalah Goa Maria Ambarawa dan kami tidak tahu angkutan arah sana itu apa, kami pun bertanya pada pemilik warung di daerah situ dan ternyata jawabannya adalah kami harus menaiki angkutan umum biasa berwarna telur asin!!
Tak lama setelah mendapat info itu, angkutan umum yang dimaksud pun melintas, kami langsung men-stop-nya dan naik. Awalnya saya pikir perjalanan ke Goa Maria ini akan lama, tapi ternyata hanya sekitar 15 menit angkut sudah berhenti tepat di depan kompleks Goa Maria Ambarawa dan kami hanya membayar Rp 3.000,-.
Kami pun masuk ke kompleks dengan gapura bertuliskan Goa Maria. Pertama kali masuk kami disambut dengan sebuah bangunan yang darisana terdengar suara-suara merdu, ternyata sedang ada ibadat pagi, sepertinya fungsi bangunan itu adalah gedung serbaguna dengan altar kecil di tengahnya.
Gambar 2.7. Gedung Serbaguna - Goa Maria Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Sebelah kanan dari gedung tersebut terdapat sebuah bangunan kecil juga, yang sepertinya dijadikan sebagai tempat informasi dan administrasi. Kemudian jika masuk lebih ke dalam, maka kalian akan mendapati sebuah area cukup luas yang terbuat dari batu keramik, dengan banyak tersedia dingklik-dingklik (kursi kecil) untuk orang berdoa dan di bagian depan terdapat sebuah goa kecil dengan patung Bunda Maria di dalamnya yang dihiasi lilin-lilin kecil dan bunga-bunga di sekelilingnya. Saya pun mengambil tempat dan mulai berdoa, sedangkan Ayun yang Non-Nasrani menunggu di tempat duduk yang terdapat di bagian sisi dari area tersebut.
Gambar 2.8. Area Goa Maria - Goa Maria Ambarawa (Sumber: Dok.Pribadi September 2015)
Selesai berdoa kami pun berjalan berkeliling area goa maria tersebut. Jika kita lurus terus saja dari area tempat berdoa itu, kita bisa melihat sebuah area tidak terlalu besar dengan Salib Yesus besar di tengah-tengahnya dengan lilin dan dingklik-dingklik di sekitarnya, itu juga merupakan tempat berdoa.
Gambar 2.9. Salib Yesus - Goa Maria Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Kemudian, jika kita lurus dari tempat Salib Yesus tersebut maka kita akan melihat sebuah area dengan patung-patung di tengahnya yang berlatar belakang tembok dilukis pemandangan seperti di bukit Golgota, tempat dimana Yesus memanggul Salib-Nya.Patung-patung tersebut menggambarkan peristiwa sedih, ketika Yesus wafat di kayu Salib.
Gambar 2.10. Yesus Wafat di Kayu Salib - Goa Maria Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Kemudian kami melanjutkan jalan kami, perlu diketahui Goa Maria Ambarawa ini berbeda dengan Goa Maria Sendang Sono Magelang, karena Goa Maria di Ambarawa ini luas areanya tidak sebesar Goa Maria Sendang Sono dan tidak menanjak-nanjak seperti Goa Maria Sendang Sono.
Dekat dari area patung-patung tersebut berdirilah sebuah bangunan kecil, yang sepertinya konsep bangunannya adalah terbuka. Karena semua sisi dindingnya adalah pintu lipat yang terbuat dari kaca bening dan kayu. Bangunan ini adalah kapel, fungsinya adalah untuk melakukan ibadat/doa dalam lingkup kecil.
Tidak jauh dari kapel tersebut, terlihatlah pintu gerbang yang tadi kami lewati. Kami pun menyudahi kunjungan kami ke Goa Maria Ambarawa ini dan bodohnya saya lupa memberi kolekte, hehehe. Di depan gerbang kami sudah disambut angkutan umum berwarna telur asin yang sama seperti ketika kami berangkat, kami pun langsung naik dan tentu saja ongkos dan lama perjalanannya sama seperti ketika berangkat.
Berhenti di tempat yang sama, yaitu Palagan kami pun melanjutkan perjalanan kami ke tujuan berikutnya, yaitu Museum Kereta Api Ambarawa. Kami berjalan kaki dari monumen Palagan ke Museum KA Ambarawa tersebut dan di tengah perjalanan kami pun berhenti di sebuah warung kecil untuk makan siang.
Selesai beristirahat sambil makan dan minum, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju ke museum KA yang tidak terlalu jauh warung tersebut, letaknya sebelum rel Kereta Api arah mau ke Bukit Cinta Bandungan. Kami pun masuk dan membayar harga tiket masuk untuk dewasa sebesar Rp 10.000,-. Di tempat kami membeli tiket, kami sudah disambut dengan bengkel Lokomotif, tempat dimana kereta api-kereta api disana dibetulkan ketika ada yang rusak, dicuci, dibersihkan, karena bengkel maka disana terdapat alat-alat berat khusus untuk mereparasi kereta api, seperti dongkrak kereta.
Gambar 2.11. Bengkel Kereta - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Kemudian berjalan terus dari tempat pembelian tiket dan bengkel kereta, kita dapat melihat lokomotif-lokomotif tua lengkap dengan keterangan yang tertera di sampingnya terpajang di bagian sisi bangunan museum yang dulunya berfungsi sebagai stasiun. Dan mulailah kami belajar tentang sejarah
Gambar 2.12. Lokomatif B 2711 - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Lokomotif B 2711 ini adalah lokomotif yang dibuat oleh pabrik di Jerman pada tahun 1914, dahulu ketika Perang Dunia II jumlahnya ada 20 lokomotif. Kemudian setelah Perang Dunia II berakhir 1 lokomotif ini dipindah dari Jawa ke Sumatera Selatan dan sisanya tersebar di Solo, Kudus dan Purwodadi. Bahan bakar lokomi=otif ini adalah bahan bakar dan kayu jati atau batubara, jalur yang dilaluinya merupakan jalur perdagangan penting, yaitu lembah Bengawan Solo yang terletak di Jawa Timur bagian utara.
Gambar 2.13. Lokomotif BB 1012 - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Lokomotif BB 1012, dibuat oleh pabrik Jerman juga dan dahulu terdapat 12 lokomotif. Lokomotif ini ketika dulu digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan dan penumpang, wilayah jelajahnya adalah Ambarawa, Banjar dan Tasikmalaya. Lokomotif ini didesain kuat, karena dahulu kala lokomotif ini digunakan untuk mendaki dan menyusuri topografi pegunungan.
Gambar 2.14. Lokomotif C 1140 - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber: Dok.Pribadi September 2015)
Lokomotif C 1140, dahulu dibeli banyak dengan total 40 lokomotif bertujuan untuk melayani jalur kereta api tujuan Surabaya- Malang - Kertasono - Madiun - Solo dan Yogyakarta. Lokomotif ini juga didatangkand dari pabrik Jerman. Kemudian karena untuk memenuhi kebutuhan transportasi kereta api di Sumatera Selatan maka 7 lokomotif di pindahkan dari Jawa ke Sumatera Selatan. Lokomotif ini diakhir hayatnya hanya berfungsi untuk Kereta Langsir dan hanya 1 yang didatangkan ke Indonesia.
Gambar 2.15. Lokomotif C 1507 - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Lokomotif C 1507, Kereta ini dibeli sebanyak 20 lokomotif dari 2 pabrik berbeda. Lokomotif berjumlah 10 didatangkan dari pabrik Jerman dan 10 lagi didatangkan dari pabrik di Belanda untuk memenuhi kebutuhan jalur di daerah Jawa Timur, antara lain Surabaya - Pasuruan - Malang, Pasuruan - Probolinggo dan Surabaya - Sidoarjo - Solo. Lokomotif ini merupakan lokomotif uap yang irit dan efisien karena menggunakan teknologi dua silinder compound, dimana uap untuk menekan piston tidak langsung dibuang kembali ke silinder.
Gambar 2.16. Lokomotif C 1603 - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber : Dok. Pribadi September 2015)
Lokomotif C 1603, Kereta api ini didatangkan dari pabrik Jerman ke Indonesia pada tahun 1899-1908 berjumlah 7 lokomotif untuk melayani jalur Yogyakarta dengan Magelang sepanjang 47 Km yang dibangun pada tahun 1898. Pada tahun 1903-1907 pembangunan jalur kereta api dilanjutkan dari Magelang menuju ke Secang-Ambarawa dan Secang-Temanggung-Parakan, jalur dianggap ini penting karena membawa hasil tembakau. Lokomotif ini memiliki tangki air yang terletak di bagian bawah kereta dan sekarang lokomotif ini hanya tersisa 1 di Indonesia.
Gambar 2.17. Lokomotif C 1704 - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber: Dok.Pribadi September 2015)
Lokomotif C 1704, Pada tahun 1899 - 1902 didatangkan 5 lokomotif dari pabrik Jerman dan kemudian semua lokomotif ini dioperasionalkan pada rute Yogyakarta - Magelang - Secang. Kemudian pada tahun 1914 operasional dipindah menjadi ke rute Solo - Boyolali dan juga dioperasionalkan pada rute Solo - Wonogiri - Baturetno. Saat ini hanya tersisa 1 lokomotif dari 5 yang dahulu dan sekarang disimpan dan dipamerkan di Museum Kereta Api Ambarawa.
Gambar 2.18. Lokomotif C 2001 - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Lokomotif C 2001, didatangkan oleh perusahaan kereta api NIS (Nederlandsch- Indische Spoorweg) dari pabrik di Jerman pada tahun 1903 -1912 sebanyak 10 lokomotif. Lokomotif ini digunakan untuk melayani angkutan penumpang pada jalur Gundih - Gambringan - Cepu - Surabaya dari Solo - Wonogiri - Baturetno. Satu buah lokomotif ini juga dioperasionalkan untuk rute Jakarta - Bogor. Awalnya lokomotif ini menggunakan bahan bakar batubara, namun karena batubara semakin sulit didapat ketika itu, maka beralihlah lokomotif ini menggunakan bahan bakar kayu jati. Karena kayu jati mudah didapat disepanjang jalur rute Gundih - Surabaya terutama di Bojonegoro yang banyak hutan jati.
Masih banyak lagi lokomotif-lokomotif yang dipamerkan di museum ini, sayangnya saya tidak mendokumentasikan semuanya. Nah selain terdapat lokomotif-lokomotif jaman dahulu, di museum ini juga terdapat bangunan memanjang di tengah-tengahnya di bagian belakang museum yang dulunya merupakan sebuah stasiun, yaitu Stasiun Ambarawa, Disana terdapat loket tiket pada jaman dahulu, mesin tiket, lentera-lentera pada jaman dulu, ruang-ruang tunggu stasiun beserta beberapa furniture pada masa itu, alat timbangan barang stasiun ketika itu dan masih banyak lagi.
Gambar 2.19 Stasiun Ambarawa di Masa Lalu - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber: Dok.Pribadi September 2015)
Gambar 2.20. Lounge & Bar Room beserta Furniture Stasiun Ambarawa Masa Lalu - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Gambar 2.21. Lentera-lentera yang Digunakan sebagai Alat Penerangan Ketika Itu - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Gambar 2.22 & 2.23. Mesin Pencetak Tiket Pada Jaman Dahulu - Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber : Dok.Pribadi September 2015)
Selain itu, di museum ini juga ada dinding panjang di bagian sebelah kanan museum yang ditempeli dengan sejarah perkembangan bentuk dan perusahaan, serta jalur kereta api dari tahun 1840 sampai sekarang. Disitu dijelaskan dengan lengkap beserta dengan dokumentasi foto-fotonya. Jadi jika kalian ingin mengetahui sejarah tentang kereta api yang sekarang telah menjadi transportasi umum dan banyak digemari masyarakat Indonesia, silahkan datang ke Museum Kereta Api Ambarawa ini. Tiket masuk terjangkau, kita pun bisa belajar dan jadi tahu.
Perjalanan ke Museum Kereta Api Ambarawa ini merupakan perjalanan terakhir kami untuk hari pertama saya berada di Semarang, tepatnya di Kota Ambarawa. Setelah dari museum tersebut kami pun pulang, hari sudah sore dan waktu hampir menunjukkan shalat Maghrib. Kami menaiki angkutan umum berwarna merah untuk kembali ke daerah Pasar Projo dengan harga Rp 3.000,- dan kemudian berjalan kaki dari depan pasar ke rumah Ayun, tidak terlalu jauh tapi lumayan membuat kaki pegal. Sekitar 1 jam kurang, kami pun sampai di rumah Ayun dan kami pun membersihkan diri kemudian beristirahat untuk mempersiapkan rencana perjalanan hari berikutnya. Hari berikutnya kami berencana untuk jalan-jalan di Kota Semarang... (Bersambung ke WISATA KOTA SEMARANG PART #2)