Dari kejauhan
inspired by Wasn’t Expecting That - Jamie Lawson.
Aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan.
It was only a smile, but my heart, it went wild I wasn't expecting that Just a delicate kiss anyone could've missed I wasn't expecting that
Ia adalah kesempurnaan sepanjang yang aku tahu. Poni lepeknya sehabis seharian berteriak-teriak di podium OSIS, wajah dan pipi berminyaknya, coretan spidol di punggung tangannya, semua. Tak pernah sekalipun dirinya terlihat tak bersinar, matanya tak membara, posturnya tak siap menantang apa saja. Tak pernah.
Ia adalah kesempurnaan sepanjang yang aku tahu.
Tapi, aku tak pernah punya keberanian untuk mendekatinya. Karena ia adalah badai di tengah-tengah gerimis. Ia berlari, sementara semua orang lain merangkak. Ia adalah lukisan Picasso sementara kami semua hanyalah corat-coret anak kecil. Dan aku, pemuda pemalu yang hanya tahu bermimpi, sama sekali tak merasa pantas bersanding di sebelahnya.
Sampai hari itu.
Saat itu, sudah empat jam jauhnya dari jadwal pulang sekolah. Saat itu, hujan deras mengguyur bangunan yang kian gelap dan sepi. Aku tak tahu apakah pikiran konyol pernah melintas di benaknya, tapi bagiku hujan adalah komponen penting untuk menciptakan keajaiban. Dan berdiri bersisian menunggu jemputan, ia dengan berkas-berkas OSISnya dan aku dengan catatan kimia yang sesorean ini disembunyikan teman-teman sekelas untuk mengusiliku, tak ada yang lebih sempurna dari momen itu. Lalu ia tersenyum sekilas, hanya sekilas ke arahku, dan kurasakan duniaku jungkir balik.
Did I misread the sign? Your hand slipped into mine I wasn't expecting that You spent the night in my bed. You woke up and you said, "Well, I wasn't expecting that"
Semenjak itu, seisi duniaku berubah. Warna-warni pengharapan, sorak-sorai kegembiraan, mimpi-mimpi yang tumbuh menjulang hingga tak kelihatan lagi ujungnya. Hujanku kini beritma, udaraku berbau matahari, bahkan awan-awanku mengukir senyumnya. Hanya satu hal yang tak berubah; duniaku yang mengorbit padanya.
Terkadang aku mengkhayalkan senyumannya diakhiri dengan kecupan ringan. Di hari lain, aku membayangkan jemarinya diam-diam bertaut dengan jemariku. Bahkan akal sehatku pun berontak dan mulai bertanya-tanya, mungkinkah ia merasakan hal yang sama denganku? Mungkinkah selama ini ia mencari cara untuk mendekatiku?
Terkadang aku memikirkan apa yang terjadi jika perasaanku benar-benar berbalas. Sampai di mana hubungan kami sebelum diri pengecutku mengacaukan segalanya. Tapi, sampai di hari kelulusan, kami hanya dua orang yang pernah saling mengenal.
Dan aku, aku hanya bisa memandangnya berjalan menjauh dariku.
It was only a word, it was almost misheard I wasn't expecting that But it came without fear, a month turned into a year I wasn't expecting that
Tentu saja ia mengambil jurusan hukum di universitas ternama di luar negeri. Tentu saja ia menjalaninya dengan dedikasi luar biasa. Tentu saja, hanya berselang setahun, ia sudah mengharumkan nama negeri kami dengan prestasinya. Ia terlalu bersinar, sampai-sampai aku harus menaungi mataku dari kilaunya.
Dan tentu saja aku akan mengambil langkah aman dengan meneruskan langkah ibuku. Tentu saja aku menjadi dokter, meski bukan itu yang benar-benar kumau. Tentu saja, aku lulus dengan prestasi pas-pasan, meski berusaha sekuatku. Dan pada akhirnya, bekerja di rumah sakit kerabat keluargaku.
Monoton. Berangkat, bekerja, pulang, tidur. Rasa-rasanya hidupku hanya akan mengikuti rutinitas ini sampai aku mati nanti. Andai saja sesuatu pernah terjadi di antara kami. Barangkali, aku tengah video call dengannya saat ini.
Nyatanya, aku hanya bisa memandang foto-foto di media sosialnya dari belahan bumi yang berbeda.
Isn't it strange how a life can be changed In the flicker of the sweetest smile We were married in spring, you know I wouldn't change a thing Without that innocent kiss what a life I'd have missed
Satu hari, di tahun terakhir sekolah di bulan Februari, khayalanku menggila. Aku melamarnya. Ia menangis terharu mengiyakan. Saat itu hari cerah, tapi dedaunan yang gugur menerpa kepala kami. Ia akan meraupku dalam pelukan, menenggelamkanku dalam kecupan. Aku akan mengangkat tubuhnya dan berputar, melawan angin, melawan dedaunan, melawan segala hukum alam tapi tahu betul sedang melakukan hal paling benar.
Karena, aku yang ditakdirkan untuk mencintainya. Tak peduli jenius macam apa yang berdiri di depanku, pakar atau ahli apa saja yang menghalangi jalanku, akulah yang paling jago mencintainya.
Duduk seorang diri di sofa apartemenku, kedua tangan gemetar meremas undangan pernikahannya di tanganku, sebuah goresan melukai hatiku. Mengapa tak secuilpun dari kepercayaan diri itu bisa menggugahku untuk setidaknya membalas senyumnya di bawah hujan waktu itu?
Dan bukan hanya membalas senyumnya dari balik undangan pernikahannya ini?
If you'd not took a chance on a little romance When I wasn't expecting that Time doesn't take long, three kids up and gone I wasn't expecting that
Dua laki-laki dan satu perempuan. Itulah anak-anak kami yang selalu kubayangkan dalam mimpiku. Tiga miniatur mungil kami dengan gabungan sifat kami. Dengan benak pemimpi dan mata membara, sikap canggung dan senyum cerah.
Pada kenyataannya, anak-anaknya kembar, dan keduanya meneruskan jejak ibunya dengan sempurna. Petenis muda yang membawa kemenangan negara. Jenius matematika yang lulus dengan nilai sempurna. Keduanya secantik ibunya, dengan poni yang selalu menempel di dahi dan mata yang bisa membakar hati. Keduanya, selalu kupandangi dari balik kaca mobil, dari balik layar ponsel, dari surat kabar yang terbit pagi ini.
Setengah mengharap, setengah menyesal.
When the nurses, they came, said it's come back again I wasn't expecting that Then you closed your eyes, you took my heart by surprise I wasn't expecting that
Aku sudah nyaris tak pernah mendengar kabarnya ketika ia dilarikan ke bagian tempatku bertugas di rumah sakit sore itu.
Penyakitnya parah, barangkali karena ia selalu memforsir dirinya bekerja siang malam dan mengurus anak. Aku sendiri yang bertanggung jawab atasnya. Tapi, kami sama-sama tahu tak ada harapan baginya selain satu-dua minggu tersisa.
Lagipula, ia sudah cukup berjuang di dunia ini. Ia pantas mendapatkan istirahatnya.
Menghitung hari, aku bertanya-tanya. Haruskah aku merasa beruntung karena aku yang berada di sisinya di penghujung hidupnya? Haruskah aku memberikan kisah yang tak pernah terjadi ini penutupan yang layak, dan meninggalkan cintaku padanya untuk selama-lamanya? Bahkan sampai saat ini, senyumnya masih sanggup membuat duniaku jungkir balik. Bahkan sampai saat ini, lidahku masih kelu menghadapinya, dan tempatku masih saja di belakang jendela ruang inapnya.
I thought love wasn't meant to last I thought you were just passing through If I ever get the nerve to ask What did I get right to deserve somebody like you?
Menurutku kamu tidak pengecut seperti kata teman-teman sekelas kita dulu, katanya di suatu pagi. Hujan mengguyur sejak semalaman, meninggalkan titik-titik yang berkejaran di jendela kamar inapnya. Menurutku kamu tidak lambat, juga tidak bodoh.
Alih-alih bahagia, aku merasa seperti sedang ditegur.
Sejak dulu, aku selalu berharap menemukan sandaranku. Seseorang yang menjagaku tetap waras di tengah hidupku yang hiruk-pikuk.
Tolong hentikan, batinku sesak kala itu. Tolong jangan dilanjutkan lagi.
Kukira awalnya kamu cuma seseorang yang kebetulan pantas memerankan itu. Aku memandangi air mata yang terbit dari ujung mata keriputnya, bagian demi bagian dari hatiku bergantian kebas seiring mengalirnya titik sebening permata tersebut. Aku tak menyangka, aku tak pernah lagi menemukan seseorang seperti dirimu hingga akhir hidupku.
Aku ingin berteriak. Menangis, mengerang, menjerit. Sampai napasku habis, sampai suaraku tak bersisa lagi. Tapi, tak ada yang keluar. Aku tercekat, dadaku sesak. Hingga detak jantungnya melambat dan tak terdengar lagi, masih tak ada yang keluar.
Selalu saja seperti ini. Masih saja pecundang yang sama. Aku ingin memuaskan diri dengan anggapan aku tak pantas untuknya, tapi aku tahu semua itu tak benar.
Ia berjuang keras. Aku seharusnya membantunya. Kami bisa saja berakhir bahagia. Yang kubutuhkan hanya menyambar kesempatan itu dan membalas senyumnya.
Tapi, terlalu puas dengan hanya memandanginya dari kejauhan, aku tak melakukannya.













