Sudah lama sekali aku tak menuliskan surat untukmu bukan?
Aku baik-baik saja di sini, ku harap kau pun begitu di sana. Barangkali kamu membaca ini saat malam, sambil melihat rembulan mengantung di angkasa ditemani bintang-bintang yang kau hitung satu persatu tapi tak pernah kau tuntaskan karena, ya memang begitu saat kita mulai menghitung bintang, satu kau hitung yang lainnya akan muncul, satu demi satu, kemudian jadi belasan, lalu puluhan tapi aku berani menjamin kau tak akan mencapai ratusan, haha.
Ah, jika kau bertanya aku ada di mana sekarang, aku sudah berpindah ke kota Ra, tak lagi di pedalaman. Sebenarnya ini pun juga sekedar singgah, karena kondisi yang tak memungkinkanku untuk menjelajah masuk ke kedalaman negeri ini. Bukan karena apa-apa, kondisi seperti sekarang ini memang mengharuskan aku yang sering keluar pergi dari kota satu menuju kota yang lain harus bersedia menetap disalah satu kota. Takut sekali kalau nantinya aku yang membawa penyakit pada orang-orang baik yang ada di tempat-tempat lain.
Lalu, apa kabar ibu? Beliau sehat-sehat saja kan? Bapak apa kabar? Masih sering meminta kopi tanpa gula? Kapan-kapan aku ingin mengirimkan surat untukmu beserta kopi untuk bapak, siapa tau bapak suka. Beberapa bulan lalu aku bertemu Pak Simin, beliau petani kopi, di .... Kau tak perlu tahu lah di daerah mana, kapan-kapan kalau kau masih mau ku ajak berkelana dan belum ada seseorang yang kamu terima cintanya, akan ku pertemukan langsung dengan beliau. Kopinya nikmat Ra, seduhannya pas, bahkan tanpa gula aku sudah merasakan manisnya. Kata beliau apapun jenis kopinya, di manapun tumbuhnya itu hanya berpengaruh kecil untuk cita rasanya, yang terpenting adalah hati si pembuatnya, apakah disertakan dalam adukan atau mengaduk penuh keterpaksaan.
Omong-omong Ra, bagaimana rasanya kembali pulang ke kampung halaman? Katanya bunga yang kau rawat semakin banyak saja ya? Oiya aku pun mendengar kini kau sudah punya momongan, ya tentu bukan momongan seorang bayi, tapi anak kucing yang kau terima dari teman mu. Siapa namanya? Kapan-kapan aku mau berkenalan dengannya. Coba nanti kamu foto lalu kamu kirimkan ke alamat yang ku beri dibalik kertas ini ya? Mau kan?
Kalau kau bertanya ini alamat rumah siapa, mari ku perkenalkan padamu, Pak Eli. Aku bertemu beliau di tanah lapang seminggu yang lalu saat aku sampai di kota ini. Saat itu aku sedang memperhatikan anak-anak bermain bola, barangkali ikut memeriahkan ajang Piala Euro dan Copa America yang baru saja selesai. Kau tau kan seberapa cintanya aku dengan sepak bola, sampai-sampai saat itu aku melamun membayangkan kalau aku bisa bergabung dengan mereka. Kemudian rombongan Pak Eli datang ke sebelahku, sambil menawarkan minum yang beliau bawa. Aku bertanya apakah mereka dari sawah, karena cangkul yang dibawa dan baju yang kotor dengan tanah. Tapi sejauh aku berjalan ini tadi tak melihat sawah barang secuil. Beliau malah tertawa Ra, sial, haha.
Akhirnya beliau bercerita kalau beliau adalah tukang gali kubur. Benar, alamat itu adalah alamat kantor pemakaman, jangan kaget begitu ah, aku tak akan menceritakan hal-hal mistis di sini, aku tahu kau takut dan kau tau aku adalah orang yang tak begitu percaya dengan hal-hal mistis. Lupakan soal itu ya?
Jadi sudah hampir seminggu aku tidur bersama Pak Eli di sini, aku banyak mendengar kisah dari beliau, terutama di masa pagebluk seperti ini. Di masa seperti ini Ra, ada kalanya Pak Eli bersyukur sambil menangis memohon ampun. Kau mau tau alasannya? Akan ku singkat cerita panjang itu untukmu.
Beberapa tahun lalu Pak Eli hanyalah tukang gali kubur lepas, beliau hanya pekerja serabutan yang tiap hari mencari uang hanya untuk makan hari itu pula. Pak Eli bercerita dulu beliau sering sekali bercanda dengan almarhumah istrinya, iya Ra, istri beliau sudah pergi lebih dulu beberapa bulan sebelum aku datang.
"Dulu aku bisa makan enak kalau ada orang yang mati, mas. Kalau ada orang yang mati, selain aku dapat uang dari menggali kuburnya, aku juga dapat makan enak karena selalu ada pengajian." Begitu cerita beliau sambil tertawa malam itu.
"Tapi sekarang, benar bisa makan enak, tapi ya ngga tiap hari selalu harus mengkuburkan orang begini mas. Selain aku lelah dengan menggali kubur, aku juga lelah melihat keluarga yang berduka setiap harinya. Sekalipun sudah sering mengkuburkan orang, bukan berarti hati ini sudah kebal dan keras, tidak sama sekali, aku nangis mas, ndak kuat." Sambung beliau sambil menangis. "Sampeyan tau mas, aku ini sebenarnya juga takut, tiap hari aku mendengarkan orang di adzankan tapi sholatku tertunda-tunda. Aku takut mas, takut kalau aku lebih dulu di adzankan daripada aku berangkat sholat." Sial, saat itu aku tak bisa berkata apa-apa Ra. Hanya bisa menangis dalam diam.
"Tapi semoga mas, semoga apa yang aku lakukan ini di maklumi Tuhan. Semoga Tuhan tau kalau aku hamba-Nya juga takut untuk segera bertemu dengan-Nya, sekalipun aku sudah rindu istriku."
Tangisku pecah Ra, aku tak bisa membayangkan beban seperti apa yang beliau pikul selama ini. Beliau menenangkan ku, dengan berkata tak apa aku menangis asal besok aku harus menemani beliau dengan senyuman. Karena hidup harus berjalan, sekalipun ketakutan masih membayang, sekalipun hatimu benar-benar dihancurkan.
Dari Pak Eli aku belajar Ra, belajar bahwa musibah pun kadang ditunggu oleh orang-orang yang membutuhkan, tapi tidak harus berkepanjangan seperti ini. Pagebluk ini telah memakan banyak korban Ra, termasuk hati Pak Eli. Dulu Pak Eli mungkin hanya menggali seminggu sekali, ini setiap hari dengan jumlah yang tak tanggung-tanggung, bisa belasan bahkan pernah puluhan. Siapa yang kuat Ra?
Sebenarnya aku ingin sekali mengutuk mereka-mereka yang sedang duduk di kursi empuk dalam singgasana manis pemerintahan. Nyawa manusia mereka permainkan sejak awal. Pembatasan-pembatasan kegiatan hanya dalih dari ketidakbecusan dan ketidakpedulian mereka terhadap kita, rakyatnya. Tapi aku harus berhenti menulis di sini Ra. Aku tak ingin menyalurkan energiku untuk mengutuk mereka. Ah tidak bukan itu, aku akan selalu mengutuk mereka, tapi tidak denganmu. Aku tak ingin kau memikirkan masalah pelik ini pula. Aku tak ingin kau bersedih karena semua hal ini.
Satu harapanku Ra, semoga surat ini mampu mengobati rindumu setelah tiga tahun tak mendengar kabarku sejak surat terakhir itu ku kirimkan padamu. Salam buat ibu dan bapak, serta si pemberani. Aku sampai lupa menanyakan kabar si pemberani, sudah kelas berapa dia sekarang? Masih kah suka bermain burung dara? Haha.
Berbahagialah Ra, mungkin Ibukota merindukanmu. Tapi aku selalu berharap pelukan ibu bisa menenangkanmu.
Kota S, 3 tahun setelah surat terakhir terkirim.