Untuk apa tujuan penciptaan manusia ? Yaa, Beribadah kepada Allah (QS. 51 : 56 ) dan menjadi Khalifah fil ard , pemimpin dimuka bumi (QS. 02 : 30 ). Keduanya adalah dakwah. Dan benar, bahwa profesi seorang manusia sebelum profesi lainnya adalah seorang Dai/ah. Si penyeru, si pengajak, si penyebar, dan si tukang meng ayo ayo kan dalam jalan-jalan kebaikan dan kebermanfaatan dengan ragam potensi masing-masing.
Jalannya memang berbeda, beragam, juga berliku. Seperti, Aku dengan ilmuku, kamu dengan tulisanmu, dia dengan seninya, mereka dengan sosial medianya, yang berdagang dengan bisnisnya, yang lain dengan pemikirannya, yang lain lagi dengan sholawatnya, yang lain lagi dengan kekuatan pasukannya, yang lain lagi dengan kekuasaannya, dsb. Namun bisa disimpulkan bahwa kita sedang berdakwah dengan karya masing-masing. Bagaimana kita bisa sama-sama berusaha selalu menegakkan kalimat tauhid dalam keberjalanan karya kita, mengais Rahmat dan Ridho Allah dalam jalan dakwah kita, dan yang paling penting puncak yang ingin kita raih adalah JannahNya. Satu tujuan namun dengan ragam karya.
Yang perlu diingat adalah, bahwa kita harus berkarya, kita butuh berkarya, dan kita wajib berkarya, yang disandarkan pada landasan niat untuk menegakkan jalan kebaikan. Sebab kita memang butuh, kita butuh dakwah, hidup kita butuh dakwah, siapapun butuh dakwah. Bukan dakwah yang butuh kita. Jika kita berhenti, dakwah akan tetap terus berjalan dengan orang-orang yang berada didalamnya, terus terbarui oleh waktu, kesempatan, juga perubahan.
Maka Bagaimanapun, kapanpun, dan dimanapun. Jalan ini tak akan pernah berhenti. Ada atau tidak adanya aku, kamu, dan kita. Jalan ini tetap berjalan dijalannya. Hingga tiba waktunya ia berhenti. Pada saat itu artinya semesta sudah tidak lagi berfungsi. Manusia tak ada dimuka bumi lagi.
Jalan yang penuh onak, dan duri, lagi berlika-liku. Realitanya Orang-orang didalamnya memang tidak banyak, ada yang memulai dengan terpaksa, ada yang singgah di persimpangan, ada yang berhenti ditengah jalan, ada juga yang berbalik arah, namun tak sedikit yang sampai pada tujuannya.
Selagi masih ada waktu, mari berdoa bersama agar Allah terus memberi hidayah dan taufiqNya, juga memberi kekuatan, kesabaran, dan kelapangan agar hati kita terus menggerakkan karya kita dalam balutan dakwah cinta. Bentuk cinta kita pada Nya. Sampai waktu kita telah habis, sampai kita tak lagi bisa berucap, sampai kita tak lagi berpijak di bumi. Aamiin
Kita harus punya gelar sarjana, walaupun kita takkan pernah mendapat pekerjaan di bidang pengetahuan yang dipaksakan pada kita untuk kita pelajari. Kita harus belajar hal-hal yang takkan pernah kita gunakan, tapi yang kata orang lain penting diketahui: aljabar, trigonometri, undang-undang Hammurabi. Kita tidak boleh membuat orangtua kita sedih, walaupun itu berarti meninggalkan segala sesuatu yang membuat kita bahagia.
semua orang pasti pernah merasakan kejenuhan, bosan dan lelah dengan situasi yang mereka hadapi, yang kerja akan bosan dengan rutinitas tiap hari bekerja dan yang tidak bekerja akan bosan denga rutinitas yang begitu saja tidak melakukan apapun.
Karena Hidup adalah sebuah persinggahan . . . #realitahidup #hidupuntukmati #gapaimimpibersama #hidupsehat #bukitjamur #bengkayang #indonesia #infobky #infobengkayang (di Full Of Fun Singkawang Grand Mall)
White lips, pale face
Breathing in snowflakes
Burnt lungs, sour taste
Light’s gone, day’s end
Struggling to pay rent
Long nights, strange men
“Seph!”
Gadis berpakaian serba mini dengan dandanan yang sedikit berlebihan untuk usianya itu menoleh, cepat-cepat mengganti raut lelahnya dengan senyum andalannya. Seorang pria paruh baya dengan pakaian resmi berjalan cepat menyusulnya, sebelum menyelipkan sebelah tangannya kasual ke pinggang gadis yang hanya berusia separuhnya tersebut.
“Hari ini kosong? Mau ke tempatku?”
Diam-diam, si gadis menghitung dalam hati. Menyadari sisa uang yang dimilikinya saat ini takkan bertahan hingga akhir minggu, kecuali ia memangkas jatah bubuk kristalnya, ia tak punya pilihan selain mengangguk mengiyakan.
Sejujurnya, permainan seksnya membosankan. Dan selain tarif yang sudah ditentukan X, mucikarinya, tip yang diberikannya tidak pernah besar. Well, bukannya bermaksud menyombong. Klien si gadis tidak hanya berkisar pada jabatan manager semacam dirinya.
Ah, setidaknya, ia memiliki tempat yang hangat dan teduh untuk tidur malam ini, hiburnya pada diri sendiri sembari terus melangkah menembus dinginnya udara malam kota bercampur gerimis–kombinasi yang paling ia benci. Dan esok, jika suasana hati X sedang baik, mungkin ia bisa menemui ayah ibunya sekali lagi.
And they say she’s in the Class A team
Stuck in her daydream, been this way since eighteen
But lately her face seems slowly sinking
Wasting, crumbling like pastries
And they scream the worst things in life come free to us
Kala itu dini hari, seusai mereka ‘berbisnis’. Seperti biasa gadis itu tak bisa tidur dengan nyenyak oleh dengkurannya. Setelah memastikan pria itu masih terlelap, ia mengambil jubah tidurnya, lalu melangkah menuju balkon apartemen kliennya. Ia menyulut rokoknya dalam perjalanan keluar ruangan.
Apartemen pria itu terletak di lantai tiga, jadi ia masih bisa mengamati aktivitas subuh di jalanan di depan gedungnya dengan jelas. Tertangkap oleh matanya seorang anak gadis meringkuk kedinginan di bawah selimutnya yang terus terguyur hujan, menggigil begitu hebat sehingga tampak siap meregang nyawa kapan saja.
Ia tersenyum kecil, lalu tanpa sedikitpun berjengit mengalihkan pandangan.
Kalau ia adalah dirinya yang dulu, barangkali ia sudah terbirit-birit menuruni tangga demi menyelamatkan anak gadis itu. Menggunakan segala cara, menguras habis simpanannya, hanya demi memastikan napas konstan di sela hidung mungilnya. Kalau ia masih berpegang pada idealisme yang mati bersama kedua orangtuanya…
Tapi, barangkali itu yang terbaik untuk gadis mungil tersebut. Lebih baik mati terbunuh oleh hujan ketimbang seumur hidup lari darinya.
Ada suatu waktu ketika ia begitu menyukai hujan. Lama, berselang silam. Ketika hujan turun, ia akan berlarian keluar rumah, tangan mungilnya menarik-narik tangan kasar ayahnya, menuntut untuk ditemani bermain di bawah guyuran hujan. Mulanya sang ayah akan menolak, tapi setelah beberapa detik ia memasang wajah manjanya, beliau akan luluh. Ayahnya akan mengajarkannya tarian-tarian aneh, penuh hentak-hentakan kaki, membuat cipratan dari genangan air hujan di sekitar mereka.
Sampai lelah dan dingin menghampiri mereka, dan berdiri menunggu di depan teras rumah adalah ibunya, siap dengan pisang goreng dan teh manisnya yang begitu mengundang selera, juga handuk kering hangat pun omel-omelan riuh rendahnya.
Sekujur tubuhnya menggigil, tapi hatinya hangat. Karena itu, ia tidak pernah berhenti menunggu hujan.
Hingga di ulang tahun keduabelasnya, orangtuanya tak kunjung pulang, dan ia sudah mulai tak sabar menunggu hanya sejengkal jauhnya dari guyuran air penuh keajaiban tersebut, lalu datang kabar dari kepolisian tentang kecelakaan yang menewaskan keduanya.
Sejak itu, ia takut akan kedatangan hujan. Meski sejak itu juga, tak ada lagi tempat teduh untuk berlindung darinya.
Ripped gloves, raincoat
Tried to swim and stay afloat
Dry house, wet clothes
Loose change, bank notes
Weary-eyed, dry throat
Call girl, no phone
Dua bulan sebelumnya…
Berjalan terseok-seok dengan kedua kakinya yang kurus dan mungil, seorang gadis menjatuhkan diri di sebelah seikat plastik sampah di depan etalase toko elektronik yang lenggang oleh hujan yang turun sesorean. Mengabaikan bau tak sedap sampah yang mulai didekomposisi bakteri di sebelahnya, ia mengangkat lutut mendekat wajahnya, lalu meniup-niup luka bekasnya tergelincir di trotoar yang licin oleh air hujan.
Setidaknya, sepetak kecil tanah beraroma tak sedap itu teduh.
Setelah meyakinkan diri tak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu darah dari lukanya berhenti dengan sendirinya, gadis itu menegakkan tubuh lalu mengeluarkan barang jajaannya dari dalam bajunya, hanya untuk kembali mendesah penuh kekecewaan. Bereksemplar-eksemplar koran dan tabloid yang belum sempat menjadi uang, masih genap seperti pagi tadi, kini sekuyup dirinya.
Belum sempat ia memikirkan cara untuk mengisi perut keroncongannya yang berisik sejak tadi pagi itu, seorang anak lelaki kecil datang menghampirinya.
“Kak, lapar, Kak…”
Ah, hanya gelandangan lain seperti dirinya. Gadis itu memaksakan sebuah senyuman, lalu berkata, “Kakak juga belum makan, Dik.”
“Lima ratus saja, Kak. Belum makan dari kemarin…” Mata anak lelaki itu mulai berkaca-kaca.
Tergerak iba, gadis itu mulai menghitung sisa uang yang dimilikinya dalam hati. Jika masih ingin berjualan koran esok hari, ia setidaknya harus menyisihkan lembaran dua puluh ribunya. Tapi, selain uang itu, ia benar-benar hanya memiliki dua ratus rupiah saja…
Ingatlah, Sephia sayang, di mana pun kau berada, berbuat baik adalah yang utama.
Ah, barangkali koran dan tabloidnya akan kering dalam semalam. Dan, bisa dijual setengah harga esok harinya.
“Ini, ambil saja. Pergunakan baik-baik, ya.”
Mencoba ikhlas, si gadis merogoh kantong dan mengulurkan lembaran rupiah terakhirnya. Anak lelaki itu mendekat, tapi selain meraih uang yang diulurkannya, ia juga sekaligus menarik paksa kalung berliontin hati mungil yang dikenakannya.
“Ah, hei…!”
Refleks gadis itu adalah berlari mengejarnya. Kalung itu adalah momento terakhir kedua orangtuanya. Kalaupun ia harus tidak makan tiga hari karena tak punya uang, ia masih memilih untuk mempertahankan kalung monel murahan itu.
Luka di lututnya kembali meminta perhatian, dan dengan cepat gadis itu kembali terjerambab ke aspal kasar di bawahnya. Kali ini, bahkan pipinya ikut tergores. Dan, diiringi tawa usil anak lelaki itu, ia pun terpaksa merelakan harta terakhirnya ditelan hujan…
An angel will die covered in white
Closed eye and hoping for a better life
This time, we’ll fade out tonight
Straight down the line
Hujan yang masih sederas kemarin kembali meramaikan malam ketika gadis itu kembali ke depan etalase toko elektronik yang sama yang ditinggalkannya tadi pagi. Berhati-hati agar tak terlihat oleh pemiliknya lagi, mengingat bagaimana ia diusir tadi pagi. Mengomel-omel dalam bahasa Mandarin yang tidak ia mengerti, sambil mengacung-acungkan jari keriputnya yang nampak seperti kaki ayam, gadis itu hanya tak ingin melihat wajahnya lagi.
Krukk…
Perutnya yang sudah dua hari tak terisi kembali bergemuruh hanya oleh kaki ayam yang hanya ada dalam bayangan tersebut.
Pagi itu, koran dan tabloidnya sudah mengering seperti harapannya, tapi sobek dan bergelombang di sana-sini. Ia praktis tak memiliki apapun lagi selain pakaian lusuh yang dikenakannya saat ini, dan sudah menghabiskan seharian berusaha mencari jalan keluar atau setidaknya meminjam uang. Tapi, hingga matahari lama tenggelam, ia masih tak tahu bagaimana ia bertahan hidup esok hari.
Ia tak ingat dengan jelas kapan tepatnya sekelompok pemuda berbau alkohol mendatanginya yang duduk termenung melawan kantuk, dingin, dan lapar menjadi satu. Yang pasti, lampu lalu lintas sudah berganti kuning-kuning konstan, jalanan di sekitarnya sudah gelap, dan selain tetes-tetes air hujan yang membatasi jarak pandang, ia tidak melihat apapun lagi. Yang pasti, di antara kesadarannya yang timbul tenggelam, tubuh kerempengnya diseret masuk ke dalam gang yang jauh lebih gelap, lalu dilucuti tanpa seijinnya. Dan seberapa keraspun ia meronta dan menjerit, tak satupun dari mereka yang mengurungkan niatnya, seperti tak satupun orang yang datang menolongnya.
Sesungguhnya, tidak ada orang yang berniat jahat sejak awalnya. Keadaanlah yang memaksa mereka berbuat demikian.
Seorang diri, kedinginan, dan telanjang, gadis itu menemukan dirinya tergeletak di samping tong sampah gang yang sama, hanya dua jam sebelum pagi. Ia meringis kesakitan, dan air mata yang ditahannya semenjak kepergian orangtuanya pun mulai jatuh perlahan, satu disusul yang lain, berbaur bersama guyuran air hujan yang tak juga reda.
Bahkan tak punya apa-apapun mereka masih bisa merampas darinya.
And we’re all under the upper hand
Go mad for a couple grams
And we don’t want to go outside tonight
And in a pipe we fly to the Motherland
Or sell love to another man
It’s too cold outside for angels to fly
Muka memerah, peluh berkejaran, rambut menempel oleh keringat. Dengan napas putus-putus, seorang gadis berlarian memasuki sebuah gang gelap, ditingkahi sirene polisi yang meraung-raung di sepanjang jalan besar. Sembari menyelipkan diri di sebelah tong sampah, jauh dari cahaya juga jalan besar, ia tak bisa menentukan apakah ia beruntung pernah diperkosa di tempat persembunyian yang sangat aman tersebut.
Tanpa menunggu kerusuhan di jalan besar itu mulai melenggang, ia membuka telapak tangannya, lalu menghirup kristal putih di dalamnya dengan satu tarikan napas.
Ayah, ibu… Sephia datang.
X tidak berbohong. Ketika ia mengatakan si gadis bisa menemui kedua orangtuanya menggunakan kristal ajaib itu, ia tidak berbohong. Sungguh. Meski hanya sementara, meski hanya berupa bayangan yang tak jelas dan cepat hilangnya, si gadis memang bisa melihat ayah-ibunya lagi.
Yang tidak X katakan, adalah efek samping ketergantungan yang dibawa kristal tersebut. Atau bahwa bubuk kristal itu akan menarik banyak perhatian para polisi. Atau bahwa, semenjak hari pertama mereka bertemu, niatannya adalah melacurkan si gadis dengan iming-iming kristal tersebut.
Karena itu, Sephia sayang, meski kau tak punya sepeserpun, jangan mencuri. Jangan berzinah. Jangan membiarkan keadaan menentukan bagaimana kita bersikap.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya ke tembok, bahunya merosot turun sementara seluruh nadinya membawa gelenyar membahagiakan. Tubuhnya kejang oleh dosis berlebih, tapi ia tak peduli.
Saya lupa dimana sebenarnya dunia saya! Apakah pekerjaan merubah asal usul saya! Apa kah politik uang sudah mendarah daging! Dan saya akan kembali kan itu semua untuk menjadi jatidiri saya yg hilang! Music Is My Radar! Maaf, Kebahagian saya tidak bisa anda beli! "Selamat Hari Buruh Sedunia" #mayday #hariburuh #realitahidup #perubahan #revolusi