Kamu adalah suatu kebetulan yang kutemui di tengah hingar bingar kota yang asing, yang menyadarkanku bahwa hidup tak melulu soal pencapaian dan kesempurnaan.
Padamu aku belajar tentang penerimaan, keberanian dan merelakan;
Penerimaan bahwa hidup tak melulu soal prestasi dan kesempurnaan sifat. Penerimaan bahwa kamu adalah dirimu, aku adalah diriku sendiri.
Keberanian menyatakan iya untuk hal sesaat yang nyata dan fana. Dunia mempertemukan kamu dan aku di tengah ketidakpastian, tapi aku berani berkata iya meski tidak ada masa depan untuk kita.
Dan soal merelakan. Bahwa kamu dan aku hanyalah sebuah pertemuan singkat pada temaram lampu kota yang asing. Lalu terpisahkan jarak dan waktu.
Sekian.













