Kesederhanaan
Sebuah fenomena yang amat langka, seorang yang berkedudukan tinggi di negeri yang amat kaya lebih memilih hidup yang penuh kesederhanaan. Kisah ini berasal dari H. Agus Salim, seorang intelektual muslim, pejuang, diplomat sekaligus negarawan. Ia pernah menjadi ketua umum Sarekat Islam menggantikan HOS Tjokroaminoto, Tokoh Partai Masyumi juga Menteri Luar Negeri di era Presiden Soekarno.
Siapa sangka tokoh yang begitu berpengaruh pada masanya adalah seorang yang sangat sederhana. Bisa dikatakan ia adalah mentri yang nomaden, berpindah-pindah kontrakan dari satu gang ke gang lainnya. Jangan kira kontrakannya mewah. Kasur yang digulung-gulung dan koper yang ditumpuk-tumpuk adalah hal yang biasa terlihat di kontrakannya karna sempitnya ruangan dan memudahkan mobilitas ketika pindah kontrakan. Pernah suatu ketika kontrakan yang ia tinggali klosetnya rusak hingga setiap disiram airnya justru meluap. Hingga istrinya menangis karna tidak kuat dengan bau yang ditimbulkan.
Beliau juga sering merubah tata letak barang-barang yang ada di kontrakannya seperti memindahkan kasur, lemari dan meja tidak ditempat biasanya. Hal ini dilakukan agar ada nuansa baru dan merasa dilingkungan yang baru. Begitulah nuansa diciptakan.
Saat salah satu anak beliau wafat bahkan ia tak punya uang untuk membeli kain kafan. Beliau membungkus jenazah anaknya dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru. “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” kata Salim. “Untuk yang mati, cukuplah kain itu.” (jejakislam.net)
“leiden is lijden” (memimpin itu menderita) kata Agus Salim. Beliau sering mengatakan itu kepada M. Roem dan Kasman Singodimedjo. Tak pernah ia meminta apapun kepada negara, apalagi meminta kenaikan gaji dan fasilitas.
Begitulah ia memimpin, dicukupkan untuk pengabdian kepada negara dan ibadahnya kepada Allah semata. Bahwa pemimpin itu besar bukan karna banyaknya harta dan kedudukan. Tapi dari kesederhaan dan keikhlasan berjuang.
Seringkali kita rindu sosok seperti beliau, bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan yang mengisi kekosongan nurani rakyat. Bukan malah menjilat karpet merah istana untuk mendapatkan kedudukan dan jabatan.














