Nah, kembali lagi ke point sebelumnnya bahwa suatu budaya itu tercipta karena ada reason dan purpose, atau alasan dan tujuan. Saya percaya bahwa tidak ada budaya yang buruk, tergantung dari perspektif kita ketika melihat dan memaknai suatu produk budaya yang ada di masyarakat. Kenapa? Kembali lagi pada dua poin tadi, Reason dan Purpose. Mari kita lihat satu per satu.
Pernahkah kita bertanya - tanya mengapa saudara kita di Papua memilih menggunakan koteka, atau kenapa ada suku Dayak tertentu yang memanjangkan telinganya dengan menggunakan anting yang banyak?
Semua tentu memiliki alasan tersendiri kenapa hal tersebut yang dilakukan. Orang - orang dulu kala yang menciptakan hal - hal tersebut tentunya tidak bodoh. Ada berbagai pertimbangan yang dilakukan mulai dari geografis, sosiologis, antropologis dan -is is yang lainnya. Sekali lagi, mereka ga bodoh, gaes. Mereka tentunya sudah berpikir panjang atau pun melakukan berbagai macam eksperimen (like trial and error) sampai akhirnya berakhir pada sebuah keputusan untuk memilih menggunakan atau mematenkan hal tersebut sebagai sesuatu yang akan digunakan, yang akhirnya turun sebagai produk budaya mereka. Simpelnya, produk budaya yang dihasilkan adalah yang paling sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka yang ada di sana.
Jadi menurut saya, ketika kita menjustifikasi suatu budaya itu buruk dan perlu untuk dihilangkan atau dimusnahkan, kita sejatinya perlu untuk memelajari dulu : dengan kacamata apakah kita melihat budaya tersebut? Dengan basis apa kita berbicara tentang hal itu? Pernahkah kita mencari tahu tentang hal itu sehingga dengan gampangnya kita mengambil simpulan bahwa hal itu buruk dan perlu untuk dihilangkan? Sudahkah kita memahami esensi dari budaya tersebut sehingga mengapa ia patut dipertahankan? sudahkah kita mengetahui seluk beluk budaya tersebut?
Kalau belum, maka cari tau-lah sebelum kita mengambil kesimpulan sendiri.
Ada sebab, ada akibat. Ada alasan, tentu ada tujuan. seperti yang dijelaskan sebelumnya, sebuah produk budaya pasti dihasilkan karena alasan - alasan tertentu yang menyertai. Dari alasan yang ada, tentunya tujuan pula akan mengikuti. Setiap produk budaya yang dihasilkan tentu memiliki tujuan tersendiri yang dalam pemanfaatannya. Kita tentu sudah akrab dengan hal ini. Mulai dari motif batik, songket, tenun, pakaian adat, tarian adat, bentuk rumah adat, hingga sepiring makanan yang tersediri di depan kita pun memiliki tujuan tersendiri dalam penciptaannya. Lalu, masih bilang nenek moyang kita bodoh dan terbelakang?
Temans, kalau mau dilihat lebih jauh, nenek moyang negeri ini dengan setiap suku bangsa yang ada begitu sangat pintar meninggalkan warisan - warisan budayanya yang tidak hanya memiliki fungsi tapi juga kaya akan nilai dan makna. Pernahkah kita mencari tahu tujuan penggunaan anting Suku Dayak selain sebagai perlambang kecantikan? pernahkah kita memahami fungsi dan tujuan tatto ala masyarakat suku Mentawai, atau tujuan penciptaan tari Bali yang sangat erat akan nilai dan unsur ketuhanannya?
Dari beberapa contoh budaya yang ada di berbagai daerah, sepanjang yang saya tahu, tujuan penciptaan produk budaya tersebut adalah sebagai medium untuk mengapresiasi, menghargai, dan manifestasi akan hubungan antar sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Pencipta. Itulah kenapa dimanapun kita akan temukan tarian, pakaian adat, bahasa, cara bertutur, rumah adat dan makanan tradisional yang selalu memiliki cerita tersendiri yang bisa kita ketahui (jika kita mau dan ingin untuk memelajarinya lebih dalam).
Mau dikasih contoh, terlalu banyak. Silahkan kita pandai - pandai mencari tahu sendiri. Biar jari hanya tidak dimanfaatkan untuk melakukan cuitan berdasarkan framing otak kita yang hanya dikendalikan oleh satu sisi saja, yang akhirnya menutup pemahaman kita dari nilai - nilai dan filosofi luhur lainnya yang ada sehingga membuat kita sulit untuk mengapresiasi betapa luhurnya nenek moyang mewariskan kita keragaman budaya yang memilifi filosofi, alasan dan tujuan yang adiluhur.
Fragmen 2
Oleh: @abangkumis
@djanganloepa baca Selengkapnya di halaman kami.
Fragmen 1 oleh @dimazfakhr
Fragmen 2 oleh @abangkumis
Fragmen 3 oleh @menujusenja
Fragmen 4 oleh @roushonism