Entah sebenarnya apa yang sedang saya pikirkan akhir-akhir ini. Inginnya sibuk, —tetapi kalau lelah, alergi kambuh, dan nyeri kepala menyerang selalu mengeluh tiada henti, sampai apa yang berkelindan di batok kepala saya luruh. Saya tidak pernah ingin mengingkari apa yang pernah saya katakan sebelumnya. Selelah apapun saya. Sesakit apapun hati saya. Sesesak apapun dada saya. Saya tidak ingin berhenti. Tidak sekalipun berpikir untuk berhenti. Namun, entah mengapa rasanya sudah tidak ada apa-apa yang bisa saya perjuangkan lagi. Tidak soal jarak, tidak pula soal rindu. Semuanya terlihat abu-abu. Apakah ini waktunya saya menyerah? Apa saya harus berhenti berjuang? Saya tahu. Bukan hal mudah sampai di titik ini. Ada luka, air mata, dan darah yang tercecer begitu saja akibat keegoisan. Ada manusia-manusia yang terdepak jauh demi sebuah jalinan. Ada hati-hati yang dipatahkan begitu saja. Dan itu nilainya tidak sederhana. "Susah ya kalau nggak pakai medsos buat tahu kabarnya kamu." Tidak. Tidak susah. Salahkan saya yang terlalu membatasi diri padamu. Salahkan saya yang ingin menyibukkan diri agar tidak terlalu memikirkanmu. Salahkan rindu yang ingin saya tumpas pelan-pelan sebelum berbalik membunuh saya. Salahkan jarak yang entah kenapa rasanya membentang dua kali lipat lebih jauh. Salahkan saya yang terlalu memikirkan diri saya sendiri. Salahkan saya yang enggan membuatmu tetap menemani saya. Salahkan sisa-sisa ketakutan dalam diri saya yang tak kunjung berani menemuimu. Salahkan semua rasa bersalah saya padamu. Salahkan saya! Saya. . .tiba-tiba begitu lelah. Semua hal yang saya lakukan selalu demi tidak mengingatmu, —lebih tepatnya tidak melulu merindukanmu lantas merasa bersalah sebab membuat keadaan berhenti pada satu titik saja. Maafkan. Apakah kita bisa bertemu, lagi?














