Jadi dokter keren ya dek, yang melangitkan ilmunya dengan iman, mengikatnya dengan amal
untuk siapapun, profesi apapun
seen from United States
seen from United States
seen from Italy
seen from China
seen from Brazil

seen from United States
seen from Canada

seen from United States
seen from Belgium
seen from Belgium
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Norway
seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from Hungary
seen from Germany

seen from Bulgaria
seen from Germany
Jadi dokter keren ya dek, yang melangitkan ilmunya dengan iman, mengikatnya dengan amal
untuk siapapun, profesi apapun
Kakak: Dek, mau shalat gak? (pakai mukena)
Adek: Hmm.. nggaaak (goler-goler)
Kakak: Dek, mau masuk surga gak?
Adek: Mau!!
Kakak: Kakak juga mau.. tapi gamau kalau sendiri! Maunya sama adek
Adek: Adek juga maunya sama kakak, ibu, ayah, eyang, mas (sebut semua nama sepupu)
Kakak: Kalau gitu, yuk shalat!
#komunikasi haha
Nguping anak kecil #1
Satu.
Percakapan di lapak penjual buku di depan gereja St. Paulus Miki, Salatiga.
"Mbak nggak jadi beli?"
"Nggak, dek"
"Kenapa?"
"Uang mbak nggak cukup"
"Kan bisa urunan sama Bapak itu to, biar cukup"
(Mbaknya cuma cengengesan bales senyum si Bapak. Bapak yang dimaksud si adek, yang sama sekali nggak mereka kenal)
...
Dua.
Percakapan di salah satu gerbong kereta Prameks tujuan Solo.
"Bu, itu dibilangin to" (sambil menunjuk-nunjuk)
"Bilangin gimana?"
"Supaya pindah, jangan di situ"
"Lah, kenapa?"
"Aku takut nanti itu lepas"
(Dua mas-mas yang merasa ditunjuk ternyata dengar dan langsung tersenyum lebar. Sejurus kemudian mereka pindah dari bagian sambungan kereta ke tiang dekat pintu keluar.)
...
‘I want to go home.’ 'But, you’re at your house..’ 'I want to go home.’
Ikhlas
Ibu : “Pak, bagaimana menurutmu jika orang yang menitipkan barangnya pada kita ingin mengambil titipannya ?”
Bapak : “Ya berikan saja, toh dia yang berhak kok”
Ibu : “Anak kita diambil oleh yang berhak, Pak”.
Bapak : Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
▪▪▪
Semoga kita selalu "tahu diri", di mana posisi kita sebenarnya. Sejauh mana seharusnya "rasa memiliki" yang mesti kita tanamkan dan seikhlas apa kita seharusnya 😊
Anak Lelaki
Saya berusaha keras untuk tetap berfokus pada tulisan tentang Proyeksi Industri Mamin 2017–yang sedang dalam penggarapan, sore itu. Suara obrolan renyah di luar kamar, sayangnya terlalu menarik untuk saya lewatkan.
Seorang kakak bercerita pada adiknya, alasan kenapa anaknya mengakhiri hubungan dengan yang terdahulu. Bagian ini sebetulnya belum terlalu menarik, karena sebetulnya kami tahu lebih dari itu.
Sampai akhirnya si kakak berkata, “Pokoknya Mama gak ada kriteria. Cantik, relatif. Pinter, relatif. Kaya, relatif.”
Si adik mengimbuhi, “Iya yang penting mah, soleh. Itu aja. Kalau soleh mah, sayang ke anak kita, sayang ke orangtua.”
“Ah terlalu ngoyo. Sayang ke anak kita ajalah, itu cukup,” sambung si kakak.
Si kakak dengan masih bersungut-sungut, bilang kalau menasehati anak harus jelas. Serinci-rincinya. Jangan kode. Gawat kalau salah diterjemahkan.
“Cari istri mah, gak harus yang kerja. Gak harus yang ini itu, yang penting mah bisa melayani anak kita dengan baik,” tegas si kakak.
Apalagi karena anaknya adalah anak laki, harus bisa contoh. Gak selamanya perempuan akrab dengan pekerjaan kewanitaan.
“Ya pokoknya, Ceu bilang, kamu tahu-lah mama gak suka sama yang gimana. Kalau tiba-tiba bawa yang araneh gitu, ya wasalam,” katanya.
Perkara nikah, kadang bisa sesulit memecahkan pungli. Tapi kadang– dan seringnya, bisa sesederhana roman atau serial televisi. Kuncinya cuman ini; ikhlas dan percaya.
Ikhlas dengan niat yang lurus. Percaya akan hari ini.
...bla bla bla... bla bla bla...
A : hehe iya ini lagi banyak tugas, tugas ini itu, banyak deh 😅
B : iya iya, jangan lupa tetap ibadah
A : hehe iya..
B : saya selalu kepikir, bagaimana kalau tiba-tiba nanti nyawa saya dicabut sebelum tugas-tugas saya selesai juga, hehe
A : hehe iya, benar, hehe 😐
***Percakapan dua orang perempuan (yg tidak saya kenal) di Mushollah
Hujan yang Kemarau and People Reading Job
(stupid, irrelevant title yet again)
“Hujan yang kemarau”
“...”
“Hujan mana mungkin kemarau ya..”
That is an excerpt of conversation I had with my driving instructor during my course. It was an awkward ride (because I’m that socially awkward) yet again. He is Batak-nese so I guess he’s into poetry and acting and singing. He would start reciting or random humming as well as acting through a phone-call. Hella weird but exciting experience having him as my instructor. And through the entire course I was asked to teach him basic english. So yea.
Anyway! I had another teacher named Pak Mul, who is Javanese so he’s more reserved. When you meet him you wouldn’t see him as a wise guy but then again first impression are proven to be false most of the time. The minute I saw him I was kinda afraid (that socially awkward me).
But he proved me wrong as we continued our lessons. And by the end of the course, I gained so much knowledge from our simple conversations! Which brings us to the second point of the irrelevant post title: people reading.
Earlier in life (no I’m not that old), my father spoke to me. He said (in a serious tone), in looking for husband.. don’t overlook
1. His adab in eating
2. His adab in driving
I laughed. But wiser and older me (no I’m not that old), start to think more about those two points (or maybe because it’s kuliah and it’s GUYS and it’s nikah and yes you know girls and how they are and how foolish girls are).
The conversation starts when we passed a nice looking house which he recognised. The owner’s son was his past student who took driving courses twice (at 16 hours) and yet failed to drive properly. From one case, Pak Mul narrated other cases of students he had encountered.
He found out that the student was hyperactive yet seemed to be spaced out every time he’s driving. He’s enrolled to a competitive University yet he has exaggerated jokes and pranks that potentially hurt people.
He found out how a person can be so emotional. He found out how there’s a kind of person that is so full of themselves. He found out about personalities.
In the end, he told me how he wouldn’t know someone real characters just by talking. But when he accompany a person driving, he can clearly define his emotional sensitivity level, his characters in obedience, his personalities. He used that knowledge to treat people too (which I think is so cool of him to do so). He is using the driving lessons as therapy for the too-emotional kid (who he described as full of rage guy).
So there goes my 14 hours of driving lesson.
It was interesting.
Life is interesting.