Beberapa hari yang lalu, saya terpaksa harus menahan kantuk untuk melakukan sesuatu yang sudah menjadi semacam ritual tiap semester untuk mahasiswa di kampus saya, yaitu mendaftarkan kuliah yang akan diikuti di semester genap (alias, berebut kuliah dengan "penilaian yang lebih ringan"). Untuk menunggu jam 12 (dimana "ritual" akan dimulai), saya iseng2 mencoba menonton televisi.
Acara yang langsung menarik perhatian saya adalah acara Nite Time, yang menjadi bagian dari lineup acara baru dari suatu stasiun televisi swasta. Setelah saya tonton beberapa saat, acara ini ternyata berformat seperti acara-acara late night show yang populer di Amerika Serikat. Pembawa acara (Farhan), membacakan berita-berita yang sedang populer sembari memberikan satu dua joke terkait berita tersebut.
Sebagai penggemar acara The Late Show, Last Week Tonight, serta The Daily Show, tentu saja saya langsung tertarik dengan acara ini. Justru, mungkin acara seperti inilah yang saya impikan, dimana berita terkini dibawakan dengan tawa, namum tetap kritis. Namun, sayangnya, this one's not so funny.
Farhan membawakan berita dengan terlalu cepat dan singkat. Beberapa patah kata mengenai berita, lalu ditambah dengan satu-dua baris joke. Yang membuatnya lebih buruk, antara satu berita dan berikutnya, nyaris tak ada jeda sedikitpun. Sang pembaca berita layaknya supir Metro Mini yang dikejar setoran.
Dan jujur saja, joke yang diberikan menurut saya tidak terlalu lucu. Yang menurut saya cukup menarik, Farhan sempat membacakan berita mengenai Trump. Memang, Trump adalah bahan lelucon yang sering sekali dipakai di acara-acara late night di Amerika Serikat, namun tetap saja, ia bukanlah bahan berita yang cukup ramai di Indonesia (saat acara ini ditayangkan). Saya sempat berpikir, "This time, he'd better nailed it." Namun apa daya, sekali lagi joke yang diberikan ternyata tak mampu memancing tawa saya. Memang, 'lucu' mungkin sedikit subjektif, tapi dengan pembawaan yang lebih santai, mungkin penonton akan lebih mudah memahami berita dan lelucon yang diberikan.
Setelah segmen berita, acara dilanjutkan dengan sesi talkshow dengan bintang tamu. Yang pertama kali dibawa adalah dua orang tamu, yaitu kepala BNN dan seorang penyanyi. Saya sendiri tak mengerti, kenapa dua orang yang bisa dibilang nyaris tak ada kesamaan (other than the fact that both of them are Indonesian), diundang sebagai bintang tamu secara bersamaan. Walhasil, Farhan seperti kesulitan dalam mencari topik obrolan yang bisa 'nyambung' ke kedua bintang tamunya, dan sekali lagi, joke yang Farhan buat tidak lucu dan terkesan 'dipaksakan'. Dan, lagi-lagi, acara ini membuat kesalahan yang sama. Sang kepala BNN yang baru berucap beberapa kalimat, ternyata waktu tampilnya sudah habis. Saya sendiri yang masih kebingungan mengenai topik apa yang sedang dibahas, tiba-tiba dikejutkan dengan fakta bahwa sesi talkshow pertama telah usai. Sekedar info, pada segmen talkshow, saya baru tersadar bahwa acara ini sepertinya meniru layout dari The Late Show, dimana si pembawa acara tetap duduk di kursinya, sedangkan, tamunya duduk di sofa (kalau tidak salah, acara Conan juga mirip seperti ini, tapi ya sudahlah).
At this point, perhatian saya sudah tak terfokus lagi pada acara ini. Pertama, karena saya sudah tak lagi tertarik, dan kedua, saya sudah harus bersiap-siap untuk "ritual awal semester". Segmen improv yang diisi oleh beberapa stand-up comedian juga gagal menarik perhatian saya, dan begitu acara ini selesai, saya sedang sibuk menekan tombol refresh di browser saya.
Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, menurut saya, dengan perubahan disana-sini, acara ini bisa menjadi acara yang bagus dan berkualitas. Saya pikir, banyak sekali berita di negeri ini yang dapat dijadikan kritikan sekaligus bahan lelucon, dan dengan sedikit polesan dan orisinalitas, bukan tidak mungkin acara ini juga dapat menjadi sejajar dengan late night shows di Amerika Serikat.