Hidup Yang Sempit
Pagi ini kumpul rutin seperti biasa, dan sampailah di Thaha [20] : 124. Kehidupan yang sempit.
Guru kami kemudian bercerita tentang kisah seorang pelayan yang selalu berbahagia. Suatu waktu, sang raja melihat salah seorang pelayannya begitu berbahagia. Dikatakanlah kepada penasihatnya, "Apa rahasianya?"
Long story short, penasihatnya memberikan pelayan tersebut sepeti emas dan dikatakan peti tersebut berisi 100 dinar. Padahal nyatanya peti tersebut hanya berisi 99 dinar, kemudian setelah penasihat pergi. Pelayang tersebut kemudian menemukan bahwa terdapat kekurangan 1 dinar dari jumlah yang seharusnya. Pelayan tersebut kemudian mencari di jalanan antara istana dengan rumahnya (kalau di bahasa sunda mah dipapay [ditelusuri]).
Keesokan paginya, hilang lah rasa bahagia dari pelayan sekaligus menjawab pertanyaan dari sang raja.
Singkat cerita, kemudian muncul pertanyaan. Muncul pertanyaan sekaligus curhatan "Kalau kita overthingking, kudu gimana nih ya?"
We are nothing and Allah is everything. Kita paham bahwa kita adalah hamba Allah yang lemah, yang bahkan tidak ada tanpa seizin Allah. Saat kita mengusahakan sesuatu itu adalah sunnatullah, meski begitu pada ujungnya itu ya seizin dengan Allah.
Dan masalahnya, sifat manusia itu salah satunya adalah pelupa. Kita lupa bahwa Allah lah pemberi rencana terbaik dan rencana terbaik adalah rencana terindah. Tinggal bagaimana cara kita memandang hal tersebut. Kembalikanlah bahwa Allah itu yang memutuskan.
Hanya dengan mengingat Allah maka hati akan tenang (Ar Rad [13] : 28). Mengingat Allah, berbagai macam bentuknya seperti berdzikir, berdoa dan lain sebagainya.
Tanpa ampunan Allah, kita termasuk golongan yang merugi.
==
Poin penting lainnya.
Sabar ada 3. Berurut sampai yang paling istimewa. Karena musibah, dalam menjalani perintah Allah, dan menjauhi larangan Allah.
Doa nabi Yunus AS dan doa nabi Adam AS.
Potongan hadist "Muslim. Senang bersyukur, susah bersabar. Keduanya kebaikan."
Minta berkah juga, kalau mudah doang kan rada2 gimana~












