Suara ombak laut ketika aku baru saja mengulurkan umpan di kail pancinganku menemani rasa bosanku. Aku harus mengubur dalam-dalam liburanku kali ini, sebab, Ayahku tak hentinya memaksaku untuk ikut memancing bersamanya.
Ya, aku salah seorang mahasiswa yang menjalani pendidikan diluar negeri. Aku memohon setengah mati pada ayahku agar diizinkan kuliah di Jepang, sedangkan ayahku berkeinginan agar aku tetap kuliah di Korea. Wajar saja dia seperti itu, pasalnya sejak aku sekolah menengah aku memilih bersekolah di negeri orang.
Aku tidak tahu kenapa aku suka menimba ilmu di negeri orang, yang aku tahu, aku suka dan aku menjadi pintar.
Ini sudah hari ketiga aku menemani ayahku memancing, selama itu juga aku tidak mendapat ikan, aku hanya menikmati hasil tangkapan ayahku. Padahal liburan selama sebulan ini ingin aku habiskan dengan pergi pegunungan, membangun tenda, lalu menikmati alam disana.
Ah, sayangnya hanya mimpi belaka.
"Ikan pun tidak akan mau memakan umpanmu jika wajahmu cemberut seperti itu." Suara ayahku membuyarkan lamunanku.
"Apa kita harus memancing setiap hari ayah?" Tanyaku tanpa peduli dia akan sakit hati atau tidak.
"Kenapa ayah tidak mengajak Han? Kenapa harus Sora?"
Mendengar itu ayahku hanya memasang sedikit senyuman dan tanpa menoleh ke arahku.
"Han hampir setiap hari menemani ayah, sampai-sampai anak pemilik kapal ini dikencaninya. Tidak ada salahnya ayah mengajakmu 'kan? Kau sudah terlalu lama diluar negeri, karena terlalu lamanya kau diluar negeri, kau sampai lupa dimana rumahmu."
Sora jadi ingat ketika dia pulang kerumah setelah sekian lama tidak pulang, dia salah masuk rumah hanya karena sang ayah mengganti cat rumahnya, jika mengingat hal itu Sora malu sendiri.
"Tidak usah diingat lagi hal itu ayah, itu memalukan." Aku yakin wajahku memerah saat ini. "Sora yakin Han pasti hanya bermain-main dengan gadis pemilik kapal ini, setelah bosan pasti akan ditinggalkan, lalu ayah yang sering memancing disini diminta pertanggung jawaban oleh anaknya. Ciri khas Han sekali."
Ayahku tertawa dengan ocehanku, apa yang salah?
"Bulan depan mereka akan menikah."
Aku menoleh dengan cepat tidak percaya apa yang dikatakan ayahku barusan, sejak kapan Han mempunyai tabiat serius dengan seorang perempuan? Sepengetahuanku dia tidak pernah serius dengan gadis mana pun, sampai aku pusing sendiri ketika dia menghubungiku dia selalu bercerita tentang gadis yang berbeda setiap harinya.
"Kau bisa tanyakan langsung pada Han jika kau penasaran." Tutup ayahku pada obrolan kami, selanjutnya dia menarik kail pancing yang sudah dimakan ikan.
Sekarang aku tidak bisa fokus lagi, adikku lebih memilih menikah disaat dia masih muda, sedangkan aku belum punya kekasih sama sekali.
Aku tersadar saat ayahku beranjak setelah mendapatkan banyak ikan, aku tidak tahu berapa lama aku melamun, aku menarik kail milikku yang tentunya nihil. Bahkan ikan pun enggan mendekat padaku.
Kami masuk kedalam kapal untuk beristirahat sejenak sembari menunggu ikan tangkapan kami hari ini--tangkapan ayahku--dimasak oleh istri pemilik kapal, aku juga baru tahu jika mereka memyediakan jasa memasak untuk hasil tangkapan, jika hari sebelumnya ayah memilih ikannya dibawa pulang tapi tidak kali ini.
Aku duduk disalah satu tempat duduk dalam kapal dengan jendela yang menampilkan langit biru cerah, aku menyukai pemandangan itu, tapi rusak karena ada seorang pria yang tidur di bagian tempat duduk didepanku.
Pria dengan pakaian serba hitam dan topi yang menutupi wajah sangat mengganggu pemandangan langit cerah, aku melirik kakinya yang tidak tertutupi sebab dia memakai celana pendek, lalu detik berikutnya aku melirik kakiku yang juga memakai celana pendek. Tanpa sadar aku menarik kakiku berusaha menutupi kulit kaki yang jauh dari kata mulus, tidak seperti pria didepanku ini, kaki mulusnya lebih mulus dari pada jalan hidupku.
Aku merasa tidak pantas disebut perempuan.
"Siapa dia ayah?" Tanyaku penasaran dengan pria didepanku ini.
"Oh, dia anak pemilik kapal. Kenapa?"
Aku tidak bisa menahan gejolak untuk tidak bertanya selanjutnya, aku tidak menyangka jika Han sudah bosan dengan seorang perempuan sampai dia menikahi seorang pria. Aku menyandar demi menenangkan pikirannya, semua ini terasa rumit baginya.
Han akan menikah dengan dengan seorang pria.
Tak lama Han menghubungiku, aku segera menjawab panggilannya.
"Kak! Kau sudah bertemu calonku? Bagaimana menurutmu?" Tanya Han tanpa basa-basi.
"Kau yakin dengan dia?" Aku malah bertanya tanpa mengalihkan pandanganku dari pria yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Tentu saja! Dia punya pribadi yang baik, aku menyukainya. Apalagi kulitnya putih bersih, membayangkan jika dia telanjang dibawahku, astaga otakku. Aku rela tidak keluar kamar selama seminggu jika dia yang menemani."
Aku sedikit mual membayangkannya.
"Han? Kau sadar dengan ucapanmu?"
"Apa yang salah? Wajar 'kan melakukan 'itu' jika sudah menikah?"
Aku tidak tahan lagi, obrolan ini sangat menjijikkan.
"Sudah cukup, bodoh! Aku tidak mau mendengarnya lagi!" Aku sedikit teriak dan mematikan sambungan telepon sialan itu.
Sejak kapan Han menjadi penyuka sesama jenis?
Aku sadar jika aku sudah diperhatikan oleh orang yang berada disekitarku, ayah sudah memberikan tatapan tajam, istri sang pemilik kapal sudah menatapku bingung, ditambah pria yang tadinya tidur sudah duduk dan menatapku acuh tak acuh.
Sial. Ternyata dia tampan.
Stop! Dia calonnya Han, aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Lagi pula, dia tidak penyuka lawan jenis.
Ayah mengarahkanku untuk segera memakan makanan yang sudah disiapkan, wangi makanan itu sangat menggugah seleraku, jika sudah seperti ini pasti aku akan banyak makan. Tidak peduli jika tubuhku bertambah besar, yang penting hatiku senang.
Ayah juga menawarkan pria tersebut ikut makan, mereka terlihat akrab, sangat akrab malah, bahkan sesekali mereka terlihat saling melemparkan lelucon yang tidak aku mengerti. Apa ayah juga sudah dibutakan oleh pesonanya? Kenapa ayah tidak keberatan jika Han akan menikah dengannya?
Ayah juga bertanya tentang dirinya, aku tidak mengerti apa yang dibicarakan, aku hanya mendengar jika pria itu sedang mengerjakan sebuah lagu untuk artis terkenal, yang dari situ aku bisa simpulkan jika dia adalah seorang produser musik.
Aku bahkan tak berhenti menatap wajahnya yang sudah menarik perhatianku sejak awal, cara dia mengunyah, cara dia duduk, cara dia tersenyum, itu semua terekam dengan baik di kepalaku.
Gilanya aku, saat dia memegang sumpit pun terlihat tampan dimataku.
Kami menyelesaikan makanan kami dengan baik, aku pun juga makan dengan lahap, walaupun mataku tak lepas memandang calon menantu ayah. Mengingat hal itu hatiku kesal, kenapa harus bertemu dengan Han terlebih dulu, jika dia bertemu denganku lebih dulu pasti aku akan membuatnya kembali normal.
Selama perjalanan pulang ayahku memilih mengobrol dengan pemilik kapal, bertanya cara mengemudikan sebuah kapal, tak heran jika sebentar lagi ayah akan membeli kapal untuk kesenangannya.
Sedangkan aku hanya duduk termangu didepan calon istri atau calon suami Han--entahlah masa bodoh dengan sebutannya--tanpa ada niat untuk mengobrol denganku, dia terlalu sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya.
Tak tahan, aku mengajaknya bicara.
"Kenalkan, aku kakak Han." Ucapku tiba-tiba dengan uluran tangan yang mengambang diudara.
"Aku tahu." Balasnya tidak peduli.
Tanpa mengalihkan pandangan ataupun bersedia menjabat tanganku.
Jangan harap aku akan menyetujui hubungan mereka.
"Sudah berapa lama kau kenal dengan Han?"
"Cukup lama." Balasnya singkat.
Kenapa dia menyebalkan sekali.
"Lalu bagaimana kalian bisa saling jatuh cinta? Sampai-sampai kalian akan menikah dalam waktu dekat. Kau yakin akan menikah dengan Han?"
Akhirnya kalimat itu keluar juga, kalimat yang sejak tadi aku tahan. Tenyata cukup berhasil menarik perhatiannya sampai dia menaruh perhatian penuh padaku, wajah kebingungannya terlihat imut.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Yang aku bicarakan? Tentu saja tentang hubunganmu dengan Han."
Dia semakin mengerutkan kedua alisnya. Perasaanku tidak enak.
"Sepertinya kau salah paham. Sampai mati pun aku tidak akan menikahi adikmu."
"Han akan menikah dengan kakakku, dan jika kau penasaran dengannya kau bisa melihatnya besok."
Aku tidak bisa menahan maluku, aku sudah salah sangka padanya. Aku hanya bisa membisu dan dia meninggalkanku tanpa kelanjutan kata, aku menutup wajahku dengan telapak tangan, berharap aku menghilang saat itu juga.
Aku sudah bertingkah bodoh didepan pria yang kusuka.
Hari ini aku memberanikan diri untuk meminta maaf pada pria yang aku ketahui bernama Yondee. Setelah aku pulang dari memancing, aku menceritakan kesalahpahamanku pada pria berkulit pucat itu pada Han, yang mendapat respon tawa berlebih sampai dia mengalami kram perut. Han tidak menyangka jika aku bisa berpikir sedangkal itu, seorang kakak yang dia tahu pintar, ternyata bisa salah paham juga.
Aku memperhatikan Yondee yang sedang tidur dalam perjalanan pulang kali ini, aku sedikit heran kenapa dia banyak menghabiskan waktu dikapal dibanding memghasilkan lagu? Entahlah, dia terlalu tertutup pada orang lain, tidak seperti kakaknya.
Oh iya, aku sudah bertemu dengan kakaknya, wajahnya cantik dan juga memiliki kulit putih yang sama persis dengan kulit adiknya. Dia seorang wanita baik, aku menyukainya.
Aku menunggunya sampai dia bangun, sepertinya akan lama melihat wajah tidurnya yang damai, mungkin aku akan menjadi salah satu makhluk paling beruntung dibumi jika berhasil menilah dengannya. Itu adalah salah satu khayalan tingkat tinggi milikku.
"Hai." Ucapku kaku saat melihat dia sadar dari tidur.
Kenapa aku jadi sulit untuk mengajaknya bicara?
"Ehm, aku ingin minta maaf karena sudah salah paham denganmu. Apa kau masih marah denganku?"
"Siapa yang marah? Aku bahkan tidak ambil pusing dengan hal itu." Balasnya santai.
Oh, berarti aku merasa tidak enak sendiri ya.
Setelah itu tidak ada yang berniat melanjutkan obrolan itu, kami saling membisu, juga tidak saling melempar pandangan. Aku sedikit canggung dengan situasi seperti ini, tapi dia terlihat tidak ada beban sedikit pun, hingga kami berpisah kembali kerumah masing-masing.
Hari berikutnya aku kembali ikut dengan ayahku memancing. Aku rela bangun dipagi buta demi bertemu dengan pria yang aku suka, aku tidak paham dengan jalan pikirku yang bisa saja menyukainya, padahal jika dipikir lagi dia tidak terlalu istimewa seperti pria yang pernah aku sukai.
Selama aku mengenalnya, aku banyak tahu tentang dirinya. Dia seorang yang baik, ramah juga perhatian. Ternyata diam-diam dia selalu memperhatikan aku memancing, dan tertawa saat aku tidak mendapatkan ikan seekor pun.
Kami semakin dekat, dia juga sedikit terbuka dibanding saat awal kami bertemu, dia juga selalu memberiku arahan positif setiap kali aku menceritakan kesulitan hidupku.
Dari dia lah aku belajar untuk selalu bersyukur dalam hidup.
Aku menyukai sifat dewasanya, aku menyukai sifat tidak pedulinya yang sebenarnya sangat peduli, aku menyukai semua yang ada pada dirinya, aku tidak tahu kenapa.
Aku pikir, aku jatuh cinta dengannya.
"Yondee! Apa cita-citamu?" Aku bertanya dengan dagu sedikit terangkat demi melihat wajahnya.
Saat ini aku tengah berbaring dipinggir kapal dengan paha Yondee sebagai bantal kepalaku, aku menikmati waktu kali ini, sebab besok aku akan kembali ke Jepang. Waktu liburan sebulanku habis bersamanya, dan aku bahagia mengenalnya. Aku menyewa kapal ayahnya, dan kami berlayar ketengah menghabiskan waktu berdua. Awalnya dia menolak karena merasa tidak enak dengan ayahku, dia takut ayahku akan berpikir jika dia akan melakukan hal aneh padaku.
Yang sebenarnya tidak masalah jika dia berbuat aneh padaku.
Lihat, aku sudah gila karenanya.
"Aku sudah tidak memikirkan tentang cita-cita."
"Apa maksudmu? Kata ayahku kau ingin menjadi produser?"
Dia menatap ombak dengan tatapan lurus, hatiku tidak enak setelahnya.
"Itu awalnya. Sekarang tidak lagi."
Dia menarik nafas lalu membuangnya perlahan. "Jika aku memberitahu satu rahasia terbesarku padamu, bisakah kau berjanji tidak akan memberitahukan pada siapapun?"
Tiba-tiba hatiku sakit mendengarnya.
"Janji." Balasku sembari mengulurkan jari kelingkingku.
Dia tersenyum manis, lalu menyambut kelingkingku untuk ditautkan.
Kalimat itu seperti ribuan pisau menusukku bersamaan hingga hatiku tidak terbentuk lagi, aku ingin bangkit dari berbaring demi menatap wajahnya langsung, tapi usapan tangannya dikepalaku seolah menahanku untuk tetap ditempat.
Aku menarik kesimpulan jika dia tidak ingin aku melihat wajahnya.
"Enggak lucu." Balasku tidak senang.
Dia diam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku tahu jika aku terinfeksi saat umur delapan belas tahun, aku tertular dari jarum suntik. Aku pemakai, jangan tanya kenapa." Dia menarik nafas lalu menghembuskannya.
"Itu sebabnya aku berhenti berharap lebih. Jika sudah AIDS, aku tidak bisa lagi bertahan."
Aku segera bangkit lalu menatap matanya tajam. Saat aku melihat matanya, sebisa mungkin aku menahan air mata tidak mengalir, dia terlihat tegar saat ini tapi aku bisa melihat kesedihan yang mendalam dari matanya.
"Kenapa menyerah? Bukankah kau yang mengajariku untuk tetap berjuang? Untuk tetap berusaha sekalipun semesta menentang. Lalu, kenapa kau yang menyerah?" Aku tidak terima.
"Sora." Panggilnya lembut lalu meraih tanganku untuk digenggam. "Aku sudah mencobanya, tapi kondisiku semakin memburuk, bahkan untuk memegang pena pun aku sudah kesulitan."
Apa yang sebenarnya terjadi, fakta baru yang disebutkannya kembali menyakiti hatiku. Sekilas aku memperhatikan wajahnya, sangat pucat, dia semakin kurus setiap harinya.
"Aku semakin sering pusing itu sebabnya aku memilih tidur, mual, sampai rasa nyeri diseluruh tubuh. Rasa sakit itu perlahan membunuhku."
Aku tak tahan lagi menahan air mata, bulir itu jatuh begitu saja. "Kenapa tidak diobati?"
"Aku sudah banyak menghabiskan tabungan untuk berobat, kondisi tubuh yang tidak sehat lagi tidak mendukung pengobatan yang aku lakukan. Itu sebabnya aku memintamu menjaga kesehatan, jangan suka minum atau merokok." Ucapnya sembari menunjuk bahu kiriku, aku menepisnya. Aku masih tidak terima dengan kenyataan ini.
"Tapi apa tidak bisa sembuh?" Aku berusaha meyakinkan diri jika dia akan baik-baik saja, walau aku tahu tidak ada harapan lagi untuk hidup.
"Aku akan berusaha bertahan agar bisa menghadiri wisudamu. Bagaimana?"
"Tidak! Itu tidak adil." Seruanku sudah bercampur dengan tangisan, aku persis seperti anak kecil yang kehilangan permen. "Ayo kita buat kesepakatan."
Dia mengangkat kedua alisnya.
"Tiga bulan lagi kita ketemu disini. Saat itulah kita harus membawa pencapaian kita masing-masing. Kau harus menunjukkan padaku penghargaan tertinggi itu, dan aku akan menunjukkan nilai kelulusanku padamu."
"Kau tahu 'kan kalau aku bodoh." Jawabku memelas, tiba-tiba aku sedikit ragu dengan kemampuanku.
"Baiklah. Nilai sempurna, jangan menawar lagi. Buktikan padaku kalau kau yang terbaik." Balasnya dengan penuh senyuman manis.
Hatiku semakin sakit melihat senyumnya, kenapa dunia tidak adil?
Aku segera memeluk tubuhnya, dia sedikit terkejut dengan hal itu. Aku tidak peduli, aku hanya ingin memeluknya, aku merasa seperti tidak akan melihat dia lagi.
Tidak. Aku tidak boleh berpikir aneh.
Aku menarik tubuhku dan menatapnya penuh rasa sayang, semua terasa sakit dihatiku.
Aku tahu ini akan terjadi, aku mengatakan hal yang membuatnya semakin keras untuk menjauh dariku, sejak awal melihatnya aku sudah menyukainya, begitupun dia. Aku tahu dia juga menyukaiku, dan rasa itu berubah menjadi rasa cinta.
Dalam hati aku memohon pada Tuhan agar dia membalas perasaanku.
"Tidak boleh. Katakan itu pada orang yang mampu menjagamu sampai akhir."
"Jangan bicara omong kosong." Balasku ketus. "Katakan jika kau mencintaiku juga."
Dia menatap mataku, ada keraguan disana.
"Tidak. Kau bisa tertular."
"Aku tidak bodoh tentang virus itu." Aku meremas kaosnya. "Sekalipun kita berciuman semalaman aku tidak takut tertular. Sudah cukup, katakan jika kau mencintaiku lalu cium aku."
Dia adalah salah satu pria paling keras kepala yang pernah aku temui, dia diam seribu bahasa tanpa berniat sedikitpun membalas kalimat cintaku, aku sedikit kesal dengannya sampai aku memukul kecil bahunya. Dia segera meraih kepalaku dan mendaratkan bibirnya disana, air mataku mengalir. Kenapa kisah cintaku tidak semulus kisah cinta orang lain, aku iri dengan mereka.
Aku membalas ciumannya, seluruh tubuhku terasa lemas saat dia melumat bibirku lembut, tangannya menyentuh bagian tubuhku yang lain. Aku tidak ingin ini berhenti sampai disini, aku rela jika virus itu masuk ketubuhku lalu dia sembuh dan bisa melanjutkan mimpinya, aku tidak sanggup lagi dengan kenyataan ini.
Aku merasakan tangannya menyusup masuk kedalam kaosku, bergerak ke punggungku lalu mengusap pelan disana, ini bukan ciuman biasa lagi, ini sudah bercampur gairah. Dia menginginkannya, aku juga menginginkannya.
Dia menjeda ciumannya, aku tahu dia menahan diri untuk tidak melakukan lebih padaku, posisi kami pun sudah tidak beraturan lagi. Aku yang tengah berbaring dengan kaos yang berantakan, menatapnya sendu, dia menunduk tidak berani menatapku. Nafas kami tidak beraturan, dia setengah mati menahan hasratnya diatasku.
"Jika kau menginginkannya, kau bisa melakukannya."
"Tidak. Jangan bodoh." Balasnya terdengar sedikit marah.
Aku menarik kaosnya saat dia akan beranjak dari atasku. "Setidaknya beri aku kenangan, jika pun aku tertular, setidaknya aku tahu rasa sakit yang kau alami."
"Apa yang kau bicarakan? Kau bisa sakit."
"Lalu? Mendekatiku kemudian membuatku jatuh cinta dan selanjutnya kau meninggalkanku, apa itu tidak termasuk sakit?" Aku kembali menangis. "Jika kau tidak ingin aku sakit kenapa membuatku jatuh cinta padamu?"
Aku semakin menangis dibuatnya.
"Jika tujuanmu dari awal mendekatiku untuk membuatku sakit, kenapa tidak kau berikan semua rasa sakit itu?"
Dia tidak bisa menjawab apa yang sudah aku lontarkan dengan emosi, juga perasaan sedih, aku merasa buruk dimatanya. Apa yang sudah aku lakukan?
Jari itu perlahan mengusap pipiku, aku merasakan tetesan air matanya jatuh diwajahku, aku meraih tangan itu menciumnya lama. Aku tidak ingin ini berakhir, ini terlalu sakit untukku.
"Maafkan aku, Sora." Dia menangis setelah mengatakan itu, begitupun aku.
Kami hanya bisa menyatukan kedua dahi kami tanpa menghentikan tangisan sampai kami kembali menyatukan kedua bibir kami, kali ini lebih agresif, lebih dalam dan menghanyutkan.
Aku hanyut dalam sentuhannya.
Aku tidak peduli lagi jika virus itu masuk ke tubuhku, setidaknya aku bisa merasakan apa yang dia rasakan.
Aku menginginkan rasa sakit itu.
Aku berlari sekuat tenaga menuju tujuanku, rumah Yoongi. Aku segera memesan pesawat dari Jepang menuju Korea demi bertemu dengannya terakhir kali.
Katakan padaku jika dia masih hidup.
Tapi itu semua berbeda dengan takdir yang aku lihat saat ini. Aku melihat tubuhnya terbujur kaku dengan luka dikepala, dia tewas akibat kecelakaan. Saat itu dia baru saja pulang dari acara sebuah penghargaan tertinggi di Korea, dia menepati janjinya. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan, tidak denganku yang masih berjuang.
Aku menatap lurus tubuh kurus itu, wajahnya sangat damai. Tenang sekali seperti tidak ada beban dalam hidupnya, dia terlihat seperti bayi yang sedang tidur.
Disaat sekitar ruangan sedang menangisi kepergiannya, tidak denganku, aku tidak bisa lagi menangisi keadaannya. Sebab, aku sudah berjanji padanya untuk tidak menangisi kematiannya.
Berdiri dalam diam disaat sekitarku berisik dengan tangisan, aku tidak mampu beranjak dari tempatku, mataku masih setia memandang jasad seorang yang aku cintai.
Aku tersadar saat Han merangkul pundakku, setelahnya aku tidak ingat apa-apa lagi.
Aku kembali teringat dengan malam yang kami habiskan berdua waktu itu. Malam yang menjadi saksi bisu perpisahan kami, malam menyakitkan untuk kami, malam terindah untuk kami.
Semua kenangan singkat kami seolah memutar ulang semua kejadian manis, dia mengajariku bagaimana caranya membuat lagu, menulis lirik bermakna hingga sampai kepada penggemar, aku ingat semua sikap manisnya.
Kenapa kau meninggalkan rasa yang lebih sakit dari virus ini?
Aku tersadar dari pingsanku, Han membawaku ke pemakaman, dia berkata aku pingsan selama dua jam sehingga jasadnya sudah dikubur.
Makam itu seperti mengoyak hatiku secara perlahan, aku tak sanggup menatapnya, dengan mata tertutup aku meninggalkan setangkai mawar merah diatasnya, berharap bunga itu bisa menyampaikan rasaku padanya.
"Selamat jalan sayang, semoga kita bisa kembali bertemu dialam sana."