SEBUAH OBITUARI
Berita duka itu datang juga. Cepat atau lambat figur itu akan redup bersama detik-detik yang menggerogoti sisa umurnya.
Saya rasa beliau sudah cukup menjadi insipirasi. Cukup: waktunya sudah habis. Cukup: pas, tidak perlu ditambah bumbunya tidak pula dibantah-bantah.
Baru beberapa hari yang lalu saya dan istri menonton Rudy 2, tentang kegigihan pendidikan, putih merah tulang darahnya, dan keterlibatannya di perhimpunan (PPI).
Rasanya belum lama saya mengutip romansa kisah Eyang Habibie dalam tulisan saya di kanal PPI Dunia.
Rasanya belum lama saya mengulas Habibienomics di Sheffield dalam kegiatan Lingkar Studi Cendekia.
Rasanya belum lama saya mengunjungi perpustakaan beliau di bilangan Kuningan bersama teman-teman LPDP PK-33.
Kemarin otak brilian itu sudah berhenti berpikir, kisah sudah resmi jadi legenda, dan tongkat estafet Indonesia mandiri itu tergeletak di pinggir makamnya... di pinggir bukunya... dan di sudut-sudut kursi sinema.
Di dunia yang menunggu inovasi, identitas bukan jadi retorika tapi ide dan gagasan. Di dunia yang terus berlari menuju kemajuan, sentimen-sentimen personal sudah selesai dan yang ada hanya "saya, kamu, kita... bisa apa?".
Selamat jalan, Eyang. You will be remembered.











