Menjelang Usia Tiga Puluh: Perihal Menikah
Aku belum menemukan urgensi menikah. Mungkin itu yang membuatku tidak merasa diburu-buru atau harus buru-buru untuk melepas masa lajang. Memangnya kenapasih jika belum menikah? Akan terkutuk kah? Dunia dan seisinya akan runtuh? Atau kiamat akan datang lebih cepat?
Jika ditarik lebih ke belakang lagi, pertanyaannya adalah kenapa menikah? Setiap orang punya jawaban yang valid tentang hal tersebut. Bagiku, setelah kucari-cari, ku tidak menemukannya. Bukan karena tidak mau menikah, tapi pertanyaannya tidak tepat untukku.
Lebih ke, aku ingin hidup seperti apa dan berdampingan dengan laki-laki yang bagaimana? Hal yang penting untukku dari menikah bukanlah menikah itu sendiri tapi dengan siapa dan bagaimana menavigasikan kehidupan pernikahan.
Maka dari itu, selama aku belum menemukan laki-laki itu, ku tidak merasa urgen untuk segera menikah. Marriage, it is not because I need someone. It is because I need ‘you.’
Untuk menjawab pertanyaan di atas, ternyata caranya cukup dekat; dimulai dari diri sendiri.
Ada sebuah konsep menikah yang sangat aku suka ketika mendengar kajian taaruf. Pematerinya berkata: menikah itu tentang saling berdaya. Kamu perlu tau tujuan hidup kamu di dunia, dia pun begitu. Setelah itu, apa yang bisa kalian berikan satu sama lain dalam pernikahan untuk mencapi tujuan besar bersama…yang mana adalah memperoleh ridho Allah.
Marriage is not to fill the void but to complement each other.
Analoginya mungkin seperti gula dan teh. Bisa berdiri sendiri, tapi dapat saling melengkapi ketika dipadukan
Semacam, aku bisa hidup tanpamu tetapi aku memilih untuk hidup bersamamu…
Kalau begitu, starting point dalam mencari jodoh jadi jelas: diri sendiri. Mungkin itu alasan kenapa aku suka sekali ikut sekolah pra nikah. Sekolah pra nikah menjadi sarana belajar dan wadah untuk mempelajari diri sendiri.
Jika kita tau tentang diri kita dan (si)apa yang kita butuhkan, menetapkan kriteria pasangan idaman pun rasanya tidak akan ada yang namanya “standar yang ketinggian.”
Oh tentu saja pada prosesnya banyak variabel X yang berada di luar kendali kita. Udah merasa “ketemu” orangnya, tapi beliau sudah punya istri. Udah merasa cocok, eh ternyata malah dijauhkan setelah istikharah hahahaha maaf ya contohnya pengalaman pribadi semua😭☝️
Nah di sinilah game changing-nya.
Tujuan besar menikah adalah memperoleh ridho Allah, tentu pada prosesnya sangat ingin dibimbing langsung oleh-Nya. Di situ lah ku memutuskan untuk tidak lagi mau pacaran. Kok rasanya tidak sopan ya mau minta tolong Allah tapi caranya lewat jalan yang tidak disukai-Nya.
Mudah ga? YA ENGGALAH. Apalagi setelah tau bahwa keputusan tidak pacaran bukan hanya perkara tidak punya status tapi lebih dari itu; menghindari zina. Sulitnya level dewa. Harusnya bisa dikategorikan sebagai upaya mati syahid:(
Kadang merasa mau ga deket deket lucu sama lawan jenis? Atau ada keinginan untuk tebar-tebar pesona biar dia mepet sendiri? Iyalah😭☝️
tapi setelahnya, seperti ada saja yang mengingatkan: tiba-tiba muncul kajian tentang zina lah di beranda youtube, tiba-tiba lewat konten tentang menikah lah di instagram. Hufff. Eh alhamdulillah maksudnya🙏
Alhamdulillah jadi bisa kembali fokus: memperbaiki diri, memperbaiki diri, memperbaiki diri, menjadi, menjadi, menjadi.
Bahkan sejujurnya, ku sudah berada pada titik: tidak apa-apa jika aku tidak diberi rejeki jodoh di dunia. Mungkin, caraku memperoleh rahmat dan ridho Allah adalah dengan cara yang lain.
Hal terpenting bagiku kini, aku selamat dan berada di jalan yang lurus. Apapun jalannya. Bagaimanapun caranya. Agar kelak bisa mendapat sapaan;
salaamun'alaikumudkhulul-jannata bimaa kungtum ta'maluun ("salamun'alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.") -Q.S An-Nahl:32.
-January, 4th 2025












