Dia sungguh menyesal.
Anak laki-laki itu beranjak bangun dari kasurnya, setelah semalam ia boleh diizinkan untuk beristirahat.
Di pagi hari, dia merenung, apakah dia sanggup melewati hari-hari yang ada, setelah kesalahan yang sama terus dilakukannya berulang-ulang.
Dia bertanya dalam hatinya, apakah dia masih diberikan kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahannya.
Apakah mungkin aku sudah dimaafkan, apakah aku masih pantas menghirup udara hari ini, dia bergumam.
Dia takut bilamana dia tak mampu menebus kesalahannya, padahal di awal, dia tahu apa yang diperbuat akan merugikannya.
Ya, dia tahu itu salah, tapi layaknya orang bebal, dia masih saja melakukannya. Padahal dia sudah berjanji, dia tidak akan mengulanginya kembali.
Sekarang dia menyesal. Sungguh menyesal, entah mengapa dia menjadi bodoh dan terus melakukannya, padahal dia bisa berubah.
Dia belajar bahwa ketika sudah berucap untuk tidak mengulanginya, sejogjanya diselaraskan juga dengan perbuataannya.
Karena janji yang tulus adalah janji yang dibuktikan dengan sikap dan perilaku yang juga nyata.
Semoga dia sadar dan segera mengubah dirinya menjadi individu yang lebih baik lagi.
Rio A.
09.46 am












