Pandangan laki-laki terhadap wanita (istri) berbeda-beda. Karena itu, cara interaksi dan pola perilaku mereka terhadap istri juga berbeda-beda.
Ada laki-laki yang memandang istri hanya sebagai wadah atau alat untuk memproduksi anak yang nantinya akan dia bangga-banggakan di depan orang lain, dan tidak memahami bahwa istri juga manusia yang memiliki kepribadian, perasaan, dan harapan.
Ada laki-laki yang memandang istri hanya sebagai alat untuk memuaskan syahwat dan naluri hewaninya saja, sehingga dia memperlakukan istrinya layaknya boneka bergerak untuk memenuhi dan memuaskan nafsu seks tanpa memperhatikan hal lain.
Ada laki-laki yang memandang istri sebagai solusi dan cara yang ampuh untuk membayar hutang. Jika dia terjerat hutang, dikejar-kejar debt collector, dan takut dijebloskan ke penjara maka ide yang muncul di benaknya adalah menikahi wanita kaya atau wanita karir dengan gaji besar. Semakin besar kekayaan atau gaji wanita itu, maka semakin besar pula keinginannya untuk memburu dan mengejar wanita tersebut. Jika hutangnya sudah lunas, maka dia mungkin akan mempertahankan wanita itu dengan syarat diberikan kompensasi uang atay keistimewaan yang tidak didapat pengusaha besar sekalipun. Atau mungkin juga dia menceraikan wanita itu, lalu mencari korban lain.
Ada laki-laki yang memandang istri sebagai pembantu yang harus selalu patuh, dengan tugas asasi: membersihkan rumah, memasak, mencuci, melahirkan anak. Itu saja tugas sang istri. Dia memandang istrinya sebagai mesin yang harus melaksanakan perintah dengan sempurna tanpa membantah. Jika istri yang tertindas itu hendak mengeluarkan pendapatnya atau urun rembug dalam masalah yang penting, dia mencela dan menganggap istrinya telah keluar batas dan pantas dihukum.
Ada laki-laki yang memandang istri sebagi alat untuk membantah gunjingan orang. Dia sebenarnya tidak ingin menikah dan ingin –dalam anggapannya—tetap bebas. Persis seperti lalat yang hinggap dari satu kotoran ke kotoran lain. Satu hari menggoda satu gadis, hari lain menggoda gadis lain. Tapi, karena banyak yang menggunjing, “Mengapa Dia tidak juga menikah?” maka dia pun menikah. Dia tidak menyadari bahwa istrinya juga manusia, punya hak-hak pada dirinya, dan dia memikul banyak kewajiban terhadap istrinya itu. Bayangkan, bagaimana sikap dan perilakunya pada sang istri jika mentalitasnya seperti itu?
Ada laki-laki yang menikahi seorang wanita karena adik perempuannya dinikahi oleh kakak laki-laki wanita itu. Jadi, pernikahan itu sekedar pertukaran atau barter. Jika suami adiknya memperlakukan adiknya dengan baik, dia memperlakukan istrinya dengan baik. Jika suami adiknya mendzalimi adiknya, dia mendzalimi istrinya. Dan jika suami adiknya menceraikan adiknya, dia pun menceraikan istrinya –walaupun istrinya tidak bersalah apa-apa—sebagai balasan bagi suami adiknya.
Ada laki-laki yang menikahi seorang wanita karena ingin disebut sebagai “Menantu keluarga Fulan”, terutama jika keluarga wanita itu terpandang dan memiliki status yang terhormat, bayangkan, bagaimana kehidupan wanita yang dinikahi bukan karena dirinya, melainkan karena nasab, kehormatan, dan status social keluarganya?
Ada jenis suami yang sangat pendiam di rumah, tidak pernah mengobrol dengan istri. Begitu pulang dari tempat kerja, dia mengambil Koran atau majalah, membuka halaman demi halaman, mebaca semua berita, semua gossip, dan semua iklan. Setelah selesai, sambil menguap dia membawa Koran dan majalah itu ke kamar tidur, lalu membaringkan diri di ranjang tercinta yang sudah sangat dirindukannya. Sementara sang istri seolah-oleh wujudnya tidak ada, seolah-olah dia tidak mempunyai keinginan untuk dinikahi laki-laki yang mencintainya dengan tulus, mencurahkan kesetiaan dan kasih saying kepadanya sepenuh hati, melengkapi dirinya, bercanda, bermain, dan bergurau dengannya, membagi cita-cita da nisi hati, merasakan kedukaannya, menjadi sandaran dikala berduka cita, dan dapat diajak bergembira dikala bersuka ria.
Ada suami yang hanya mengkritik dan melihat kekurangan dan kesalahan istri. Begitu sampai di rumah, dia mulai mengecam, memarahi, mencela, dan mencaci maki istri tanpa memperhatikan perasaan, menghormati selera atau menghargai wujud istrinya sedikit pun. Dia mengatakan, “Mengapa bau rumah seperti ini? Mengapa engkau tidak segera membuka pintu untukku? Mengapa anak-anak belum tidur?” serta 1001 mengapa lainnya. Karenan itu, sang istri justru terdorong untuk malas merawat rumah, tidak senang dengan kepulangan suamiyang hanya membawa kritik yang pedas, dan tidak pernah memberikan ucapan terima kasih atau melontarkan pujian sedikit pun atas jerih payahnya di rumah.
Ada suami yang tega membiarkan istri sendirian dan kesepian menunggu kepulangannya dari bersenda gurau dengan teman-temannya sampai larut malam. Seandainya dia pulang dan mendapati istrinya telah berdandan dan berhias demi dirinya, sehingga istrinya itu laksana bulan purnama atau pengantin di hari pernikahan, maka yang dia lakukan hanya memandangi istrinya dari atas sampai bawah sambil menyeringai dan berkata, “Percayalah, bagaimanapun kau jungkir balik berhias dan berdandan, betapa tebalnya pun make up yang kau pakai, engkau tidak akan secantik artis ini, tidak akan semenarik penyanyi itu”. Dia meninggalkan istrinya dengan sikap dingin dan merendahkan, lalu langsung tidur nyenyak. Sementara istri yang patah hati dan merana itu menangis sepanjang malam karena kerasnya benturan yang diberikan oleh sang suami yang kasar, yang menghabiskan malam bersama teman-temannya yang bejat untuk menonton saluran-saluran tv yang menayangkan film-film porno. Di film itu sang suami telah menyaksikan berbagai jenis pelacur, sehingga dia tidak tertarik pada istrinya. Kecantikan istrinya tidak memesona lagi. Fitrahnya telah menyimpang. Dia meninggalkan yang halal dan baik demi sesuatu yang haram dan nista.
Ada suami yang memperlakukan istri bagaikan batu yang bisu dan tidak punya perasaan. Dia bisa mencela dan memaki sang istri karena sebab yang sepele, tanpa mempertimbangkan perasaan istrinya sedikitpun. Boleh jadi dia menyerupakan istrinya dengan binatang dan memperlakukannya seolah-olah pembantu. Bahkan, hatinya mungkin lebih menaruh belas kasihan terhadap pembantu, tapi terhadap istrinya dia tidak menaruh perasaan sedikitpun. Jika dia ingin melampiaskan gairah seks dan memuaskan hasrat badannya, barulah dia memperlakukan istrinya dengan lembut. Kata-kata yang indah –yang tidak pernah terdengar sebelumnya—meluncur dari mulutnya. Begitu selesai memuaskan syahwat, dia kembali kepada aslinya, berhati keras dan bermulut kasar, sampai tiba waktunya dia ingin memuaskan syahwatnya kembali.
Ada segelintir suami yang baik –semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan Anda salah seorang dari mereka, agar mendapatkan ridho-Nya karena telah melaksanakan perintah-Nya, “Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan baik” (QS. An-Nisaa: 19).
Dia memandang istri sebagai:
Kekasih hati dan teman hidup
Pasangan dan pendamping sepanjang masa
Buah hati dan belahan jiwa
Bulan purnama dan sumber ketentraman
Lebih lembut daripada angina sepoi-sepoi, lebih setia daripada sahabat karib
Mata air kasih sayang dan lautan ketenangan
Cahaya mata dan pelipur lara
Pengobat jiwa dan penyembuh hati yang luka
Symbol kesetiaan dan pembangkit semangat
Ratu kecantikan yang melebihi khayalan
Kebaikan yang tak pernah pudar, kecitaan yang tak pernah pupus
Ibu bagi putra-putrinya, pencetak pahlawan, dan pendidik generasi mendatang
Selamat, sekali lagi bagi wanita yang dianugerahi Allah suami yang soleh, yaitu suami yang menatapnya dengan pandangan cerah dan penuh harapan, memandang jiwanya sebelum melihat tubuhnya, menyelami sanubarinya sebelum memperhatikan penampilannya. Bayangkan, bagaimana kehidupan wanita dengan suami yang soleh itu? Yakinlah, wanita itu berada di surge kebahagiaan, ketentraman, kesepahaman hati, dan ketenangan jiwa. Insya Allah .
Semoga Allah memudahkan jodoh untukku, dan jodoh yang terbaik menurut-Nya --serta menurutku--
Sumber: Buku Untukmu Yang Akan Menikah dan Telah Menikah, Karya Syaikh Fuad Shalih.