Mengembalikanmu ke Dalam Novel
Aku membaca novel Perahu Kertas pada tahun 2012. Saat itu aku masih kuliah, jadi konflik tokoh-tokoh dalam novel itu terasa begitu dekat dengan kehidupanku saat itu. Seingatku, novel itu selesai kubaca dalam waktu kurang dari seminggu. Setelah selesai membacanya, aku benar-benar jatuh hati pada tokoh fiksi bernama Kugy.
Sulit menjelaskan mengapa aku begitu menyukainya. Mungkin karena caranya memandang dunia yang berbeda. Karena ia bisa hidup di dunianya sendiri tanpa perlu menjadi seperti orang lain. Atau karena ia mencintai buku, tulisan, dan berbagai hal unik yang membuatnya terasa begitu hidup. Entahlah. Yang jelas, setelah membaca halaman terakhir novel itu, aku merasa telah menemukan gambaran perempuan yang selama ini kucari.
Beberapa bulan kemudian, novel Perahu Kertas didaptasi menjadi sebuah film. Aku takut sosok Kugy yang sudah hidup di imajinasiku saat membaca novel akan rusak ketika diperankan oleh orang yang salah di film. Tapi, ternyata aku salah. Maudy Ayunda berhasil memerankan Kugy dengan begitu memesona. Ia tidak hanya membuatku semakin menyukai tokoh itu, tapi justru membuatnya terasa semakin nyata.
Sejak saat itu, tanpa pernah kuceritakan kepada siapa pun, sosok perempuan ideal yang kubayangkan untuk menjadi pendamping hidupku di masa depan adalah seorang perempuan yang memiliki banyak kemiripan dengan Kugy. Meskipun aku sadar, diriku juga jauh dari sosok Keenan.
Tentu saja aku tahu hidup tidak bekerja seperti novel. Sialnya, sebelum aku benar-benar selesai menjadi mahasiswa, hidup sempat mempermainkanku. Aku bertemu seseorang yang membuatku teringat pada Kugy.
Bukan karena wajahnya. Bukan pula karena penampilannya. Tapi, karena dunia yang ia bawa. Entalah, setiap aku melihatnya, dia seperti memancarkan aura khusus. Ia menyukai buku, gemar menulis, memiliki cara berpikir yang unik, dan hidup dengan caranya sendiri. Saat itu, aku serasa bertemu seseorang yang keluar dari halaman novel. Aku merasa tokoh fiksi itu benar-benar memiliki pantulan di dunia nyata.
Kami sempat cukup dekat beberapa saat. Namun, singkat cerita, seperti banyak kisah klise lain, ia melanjutkan hidupnya. Aku pun melanjutkan hidupku. Kami menemukan rumah masing-masing.
Waktu pun terus berjalan. Aku menikah dengan wanita yang aku cintai, meskipun ia tidak memiliki aura yang sama dengan Kugy. Perlahan kehidupanku menjadi lebih tenang. Aku masih menulis, tapi tidak lagi sesering dulu. Ada masa ketika aku merasa menulis hanya menjadi rutinitas pekerjaanku, bukan lagi sesuatu yang benar-benar menghidupkanku.
Kupikir cerita tentang Kugy akhirnya benar-benar selesai. Tapi, ternyata belum.
Bertahun-tahun kemudian, hidup kembali mempemainkanku. Aku kembali bertemu dengan seseorang, yang entah bagaimana mengingatkanku pada tokoh fiksi itu lagi. Kami banyak berbicara tentang buku, tulisan, lagu, dan berbagai hal random.
Kehadirannya membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur di dalam diriku. Aku kembali rajin menulis. Awalnya hanya satu tulisan. Lalu dua. Tanpa kusadari, setiap pengalaman yang kulewati terasa ingin kutulis. Seolah ada keran yang bertahun-tahun macet, lalu tiba-tiba terbuka.
Oh ya, aku juga kembali membaca buku dan mulai mengoleksi buku lagi. Sebuah hobi yang ingin kulakukan saat menjadi mahasiswa, tapi tidak terlaksana karena satu hal sederhana, miskin, itu saja.
Sebuah proyek menulis yang selama bertahun-tahun hanya sebatas wacana, akhirnya mulai kutulis. Proyek itu kemudian kuberi judul Manusia Medioker. Satu demi satu tulisan lahir. Dan sebentar lagi, buku itu akan selesai. Selain itu, aku juga sedang menulis novel fiksi, yang sebenarnya tidak fiksi-fiksi amat. Lucu juga ya. Tokoh fiksi yang kubaca pada tahun 2012 ternyata masih menemukan jalannya masuk ke hidupku lebih dari satu dekade kemudian.
Namun beberapa waktu terakhir aku mulai bertanya kepada diriku sendiri.
Apakah sebenarnya aku sedang menemukan orang-orang yang mirip Kugy?
Atau justru aku belum pernah benar-benar melepaskan sosok Kugy itu sendiri?
Entahlah, aku muak untuk menjawabnya.
Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Mungkin selama ini masalahnya bukan dua orang yang pernah mengingatkanku pada Kugy. Masalahnya justru Kugy sendiri belum pernah benar-benar keluar dari kepalaku.
Padahal hidupku sudah lama berubah. Aku sudah memiliki keluarga. Istriku bukan sosok yang mirip dengan tokoh fiksi itu. Dan memang ia tidak harus menjadi sepertinya.
Mungkin, yang selama ini membuatku sulit bergerak bukan karena aku belum bisa melupakannya. Tapi, karena aku terlalu bergantung padanya sebagai sumber inspirasi. Seolah-olah, aku hanya bisa antusias menulis lagi ketika hidup kembali mempertemukanku dengan sosok yang mengingatkanku pada Kugy.
Aku takut. Jangan-jangan selama ini yang kucintai bukan menulis, melainkan perasaan yang selalu muncul setiap kali hidup mempertemukanku dengan sosok seperti Kugy. Kalau benar begitu, berarti aku sedang bergantung pada sesuatu yang seharusnya sudah selesai. Dan aku tidak mau hidup seperti itu.
Sekarang, sungguh, aku ingin menemukan alasan lain untuk menulis.
Aku ingin menulis kehidupan yang sedang kujalani.
Tentang istriku yang tidak seperti Kugy, tapi menemaniku membangun rumah yang nyata.
Tentang anak-anakku yang setiap hari memberiku cerita baru.
Tentang tubuh yang terus belajar berlari.
Tentang manusia-manusia biasa di sekitarku yang diam-diam menyimpan kisah luar biasa.
Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri, bahwa aku benar-benar mencintai menulis, bukan hanya mencintai sosok yang pernah membuatku kembali menulis.
Mungkin, memang ada beberapa tokoh yang ditakdirkan hanya hidup di dalam buku. Mereka datang pada waktu yang tepat, meninggalkan jejak yang begitu dalam, lalu mengembalikan kita ke kehidupan yang sesungguhnya.
Tanpamu, mungkin aku tidak akan menjadi pembaca seperti sekarang.
Tanpamu, mungkin aku tidak akan kembali menulis sebanyak ini.
Namun, kalau aku terus membutuhkanmu untuk melahirkan tulisan berikutnya, sepertinya aku belum benar-benar bertumbuh sebagai seorang penulis.
Mungkin memang sudah waktunya mengembalikanmu ke tempatmu semula. Ke dalam sebuah novel.