Mendidik Anak di Akhir Zaman
Assalamu'alaikum
Tulisan ini merupakan review Kajian Parenting di Teras Dakwah, Jum'at, 12 Januari 2018. Saya share disini untuk menjangkau lebih banyak ummat muslim di luar sana, yaa murni catatan saya ya, belum dibubuhi pengalaman apapunp karena belum berkeluarga hahaha....anyway, selamat membaca semoga bermanfaat dan penuh berkah :)
Bahwa sejatinya, pernikahan dalam Islam haruslah merupakan sebuah pernikahan ideologis. Kuat mengakar visi misi Qur'ani si calon ayah dan ibu. Bukan karena kepepet umur, dikejar-kejar orangtua, keluarga besar, tertekan lingkungan, atau faktor-faktor dunia lainnya. Tapi bagi seorang muslim, menikah adalah bentuk penjagaan cinta Allah, bersama dengan orang yang sekufu, berprinsip, dan siap berjamaah dalam menjalankan ibadah terlama seorang manusia. Sebuah pernikahan yang dimulai karena Allah, dijaga keberlangsungannya dengan syariat-syariat Islam, adanya kesepakatan bahwa semata-mata hanya untuk menggapai Ridho Allah swt, akan lebih mudah kemudian, bagi ayah dan ibu untuk mengajarkan hal-hal fundamental dalam berislam kepada putra putrinya.
Terlebih di akhir zaman seperti saat ini. Semakin kabur dan "dileburkan" antara haq dan bathil. Jika anak-anak kita tidak kuat aqidahnya, na'udzubillah, tidak terbayangkan bagaimana mereka akan mengarungi kehidupan di dunia ini, sedangkan anak adalah amanah terberat orangtua, pun akan ditanya keberadaannya di hari penghisaban kelak :"(
Contoh terbaik pendidikan orangtua terhadap anak, yang selalu cocok diterapkan di zaman apapun, ermaktub dalam Al-Qur'an surah Luqman. Di dalamnya, terdapat 14x dialog antara anak dengan ayah, sedang dialog antara anak dengan ibu hanya 2x. Satu ibrah yang bisa kita ambil, adalah bahwa ayah punya peran besar dalam pendidikan seorang anak. Justru hal yang paling fundamental dalam Islam, yakni aqidah, ayah-lah yang bertanggungjawab mentransfer ilmu tersebut kepada buah hatinya. Sehingga, bagi seorang wanita, memilih calon suami yang berprinsip tauhid kuat, adalah sebuah keharusan. Ia dapat melihat gambaran putra - putrinya kelak dari seorang lelaki yang bersedia menjadi imamnya.
Ada tujuh macam pendidikan yang perlu dipersiapkan untuk diterapkan secara selaras dalam mendidik putra-putri kita kelak.
1. Tarbiyah Adab & Akhlaq
Sebuah proses pendidikan yang terbaik adalah pendidikan dengan mengedepankan keteladanan, menjadi contoh. Terhadap segala perilaku, dari sejak bangun sampai tidur kembali, segalanya memiliki adab, dan terhadap segala perilaku sosial dalam hidup, segalanya butuh akhlaq. Keduanya merupakan modal utama anak-anak menjalani hari-harinya. Orangtua harus menanamkan dengan baik mana keluarga, mana saudara, mana musuh, dan mana ulama'. Kepada masing-masing mereka, telah diajarkan bagaimana adab terbaik. Yakni, berlemah lembut terhadap sesama ummat Islam, berlaku ta'zim terhadap Ulama', dan keras terhadap musuh-musuh Allah swt. Bukan sebaliknya.
2. Tarbiyah Ibadah
Pendidikan terhadap aspek-aspek ibadah, yakni menjaga sholat tepat waktu dan berjamaah, maupun ibadah - ibadah sunnah. Sebab sholat adalah tiang agama, juga hal yang pertama kali dihisab di kehidupan selanjutnya, maka menjamin anak-anak terjaga sholat lima waktunya adalah tugas orangtua.
3. Tarbiyah 'Ilmiyah
Kitab utama kaum muslim adalah Al-Qur'an. Guidance book dalam mengarungi kehidupan sejak lahir sampai ajal menjemput. Maka menghindarkan mereka dari "kebutaan" terhadap kitabnya sendiri adalah sebuah kewajiban. Teramat baik apabila sang ayah dan ibu memiliki visi mencetak penghafal-penghafal Qur'an dari dalam rumah. Namun tentunya harus dimulai dari diri mereka yang juga serius mendalami Al-Qur'an. Selain itu, menciptakan rasa cinta dan keinginan untuk terus belajar dan berilmu. Dekatkan dengan buku-buku sedari kecil, pahamkan mereka bahwa ilmu adalah dasar dalam beramal, serta bagaimana Allah sangat mencintai orang-orang yang berilmu.
4. Tarbiyah Jismiyah
Pendidikan fisik, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah swt yakni dengan berupaya menjaga kesehatan tubuh. Rutin berolahraga, mengajarkan bela diri, dan sebagainya, tentunya dengan mengedepankan niatan untuk kejayaan Islam, bukan hal-hal duniawi yang sifatnya remeh dan sesaat.
5. Tarbiyah Jinsiyah
Pendidikan mengenal tubuh dan fisik dirinya masing-masing. Bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda, dalam bersosialisasi kelak harus menjaga adab-adab berkomunikasi antara laki-laki dan perempuan. Anjurkan menikah muda dibanding mengekang sehingga justru mendekatkan pada kemaksiatan.
6. Tarbiyah Ijtimaiyah
Pendidikan ini meliputi tidak membeda-bedakan pekerjaan rumah hanya untuk anak perempuan saja, mengajak mereka menghadiri majelis ilmu, memilihkan teman-teman yang baik dan shalih, diajarkan untuk mandiri ketika baligh (kelak bekal untuk membangung ekonomi ummat).
7. Tarbiyah Jihadiyah
Membiasakan mereka dekat dengan isu-isu/berita seputar Islam dan kaum muslimin. Kenalkan mereka dengan kemuliaan negeri-negeri Syam, serta sejarah perjuangan dibaliknya. Pun selalu kobarkan semangat mereka dengan kisah-kisah penaklukan Baitul Maqdis dan Bizantium. Harapannya, tumbuh pribadi-pribadi yang kuat dan berizzah, punya optimisme terhadap kejayaan ummat Islam.
Insyaa Allah....













