Parkiran
Cerita 4
Setiap beberapa waktu sekali, sebuah apartemen di Jakarta Selatan masuk liputan berita karena kisah-kisahnya yang kontroversial. Berbagai kasus kriminal terjadi di sana. Baik WNI maupun WNA, semua ada. Kasus orang bunuh diri saja beragam, mulai dari gantung diri, terjun bebas dari balkon unit, sampai menggorok lehernya sendiri. Pembunuhan? Banyak. Bahkan ada korban yang dimutilasi. Kasus narkoba juga sudah pasti banyak terjadi, mulai dari penangkapan bandar sampai penggunanya.
Dari semua itu, yang lebih mencengangkan adalah kasus prostitusi. Laki-laki maupun perempuan, tua atau masih di bawah umur, semuanya menjajakan diri di sana. Tidak sedikit juga yang transaksinya di luar, tapi ‘eksekusi’ di unit dalam sewaan.
Perselingkuhan? Tidak ada yang dapat memastikan sudah berapa kasus yang telah terjadi. Lagipula, hukum mana yang dapat menangkap para pelakunya? Seandainya salah satu dari pelaku perselingkuhan adalah orang yang hartanya melimpah, sekalipun harus kencang menjerit, pihak-pihak yang dirugikan akibat perselingkuhan itu tidak dapat menghukum pelaku. Paling-paling, hanya sebatas menggugat cerai.
Sudah begitu banyak kisah yang terjadi di sana. Beberapa orang mungkin hanya tahu dari siaran berita. Kadang, para penghuni apartemen bahkan terlambat untuk mengetahui cerita-cerita tersebut. Mungkin kibasan angin yang membawa rumor dan gosip kurang kencang. Mungkin suara keduanya sayup-sayup terdengar karena tertutupi gemuruh laju kereta yang lewatnya tidak pernah pasti.
Sebenarnya, gedung-gedung di kompleks apartemen tersebut tidak terlihat jelek. Tidak juga terlihat bagus. Meski begitu, warga yang asli tinggal di sana, bersama para pengembang, selalu berusaha untuk memperbarui dan memperbaiki wajah lingkungan mereka. Semuanya berusaha membuat hunian dan tempat kerja mereka aman dan terbebas dari stigma yang disematkan masyarakat luar apartemen.
Tetapi, semua itu bisa dikatakan sebagai sesuatu yang sia-sia. Sudah pasti, ada saja orang-orang yang menggagalkan usaha warga asli dan para pengembang. Pasalnya, tidak sedikit orang yang meneruskan pendahulunya untuk melakukan hal-hal yang kontroversial itu.
Menjelang subuh, sebuah mobil sedan mewah berwarna perak memasuki parkiran basemen dua. Tidak lama kemudian, mobil itu berhenti di tempat yang disediakan. Tidak banyak mobil yang diparkir di sana karena orang-orang lebih suka di basemen satu karena tidak perlu turun tangga jauh-jauh. Kali itu, spot parkir di kiri dan kanan sedan itu sudah dihuni oleh sebuah mobil jenis SUV dan mobil mini MPV.
“Mas nggak mau ke atas dulu?” tanya penumpang mobil tersebut. Kancing blouse berwarna merah muda yang dia pakai sudah terbuka setengah. Wanita itu agak sibuk mengatur kembali rok ketat yang terlipat ke atas. Stocking yang ketika pagi masih utuh, sekarang sudah robek sana-sini. Terlihat celana dalamnya agak tersingkap.
“Aku nggak tahan, Mar. Di sini aja dulu, ya,” penuh nafsu, pria itu seperti melompat ke bangku penumpang lalu mencumbu seperti orang kesurupan.
Setengah gelagapan, si wanita menerima dan membalas cumbuannya sambil memeluk leher pria itu. Agak lama mereka bercumbu, si wanita mendorong sedikit tubuh pria, dia berkata, “nggak tahan, lho, mas-ku ini. Yang tadi kurang?”
Si wanita mengingatkan apa terjadi sebelumnya. Sebelum mereka berada dalam perjalanan menuju lokasi saat ini. Keduanya sudah bersetubuh ketika masih berada di parkiran gedung kantor.
“Ngeliat kamu ngobel, sambil denger kamu ngedesah, bikin nafsu!”
“Yah, mas-nya yang berhenti pas aku lagi nanggung. Aku sih, biasa aja.”
Keduanya memang belum mencapai orgasme karena si pria diganggu oleh kekhawatiran. Belum lama penetrasi, dia langsung menghetikan gerakannya lalu kembali ke kursi pengemudi dan bergegas mengendarai mobilnya keluar dari parkiran gedung kantor itu.
“Yaudah, mau di atas aja?” si wanita memastikan.
“Di sini aja, deh…”
“Kalo diliat orang?”
“Sumpel aja pake duit!”
Hampir satu jam kemudian, pasangan itu akhirnya keluar dari mobil dan berjalan menuju tangga yang membawa mereka ke lobby. Pakaian yang mereka kenakan terlihat sangat kusut. Rambut si wanita diatur sekenanya menggunakan tangan. Kancing-kancing blouse-nya sudah tertutup kembali. Rok ketatnya sudah tidak lagi terangkat. Ada tas branded yang bergantung di pundak kirinya. Kontras dengan si pria, kemejanya terlihat kusut walau kancing-kancingnya masih tertutup. Rambutnya agak acak-acakan.
Unit apartemen berkamar dua yang mereka tuju itu, adalah sebuah pemberian dari si pria pada sang wanita beberapa bulan yang lalu. Tidak hanya itu, hak kepemilikannya juga atas nama si wanita. Isinya sudah di-furnish. Sesampainya di sana, si wanita langsung mengambil botol yang berisi air mineral dari kulkas lalu memberinya pada si pria. “Kapan kamu cerein istrimu, mas?” tanya wanita itu membuka pembicaraan. Air muka wanita itu berubah, terlihat berbeda dari sebelumnya. Paras cantiknya masih terpancar walau otot-otot wajahnya berusaha keras untuk terlihat lebih tegas. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang serius.
Melihat itu, si pria justru merasa terangsang, sambil menenggak air yang ada di dalam botol, matanya terus terpaku pada sang wanita. Dengan seksama dia memperhatikan dahi, hidung, mata dan kelopaknya, cupid’s bow dan bibir atas, bibir bawah, dagu, semuanya membuat nafsu pria itu kembali penuh.
Setelah selesai minum, botol itu diserahkan kembali pada si wanita. Dia seraya bertanya, “bulan depan?”
Sambil memasukkan kembali botol air minum ke dalam kulkas, wanita itu balik bertanya, “mas mau nginep lagi? Besok Sabtu lho…”
Tidak lama kemudian, persetubuhan mereka pun berlanjut.
Pukul lima subuh, tanggal empat pada dua bulan setelahnya, wanita itu terbangun karena mual. Seketika dia bangkit dari tempat tidurnya dan berlari secepat mungkin ke kamar mandi. Setelah muntah-muntah tidak karuan, kepalanya terasa berat, sampai-sampai dudukan kloset harus menjadi penyanggah. Muntah-muntah itu sudah terjadi sejak kemarin, ketika dia masih berada di kantor.
Perlu waktu sepuluh menit untuk menguatkan kembali pikiran dan tubuhnya. Saat itu juga, dia memutuskan untuk tidak masuk kantor. Siang nanti, dia ingin memeriksa kondisi kesehatannya ke dokter terdekat.
Sepulangnya dari tempat praktik dokter, sambil mencari taksi, dia mencoba menghubungi si pria untuk memberitahu bahwa wanita itu tengah mengandung. Menurut dokter, usia kandungan itu sudah masuk ke bulan keempat. Beberapa menit pun berlalu, entah sudah yang keberapa kali, ponsel pria itu tidak juga terhubung. Sebagai sekretaris si pria, wanita itu sebenarnya tahu kalau boss-nya sedang ada kunjungan ke kantor-kantor cabang di luar kota. Akhirnya, dia pun melanjutkan usahanya untuk menghentikan taksi dan pulang ke unit apartemennya.
Dua minggu berlalu. Siang itu, si wanita sedang berada dalam masa cutinya. Kabar dari si pria tak kunjung datang. Hal itu membuatnya berpikir kalau si pria sudah kembali ke istri sah. Otaknya sudah tidak mampu bekerja secara rasional. Dengan cepat jari-jarinya mengetuk layar ponsel pintarnya.
Mbak Vivi, maaf, tolong ceraikan suamimu, mbak. Aku hamil empat bulan. Ini anak Mas Rio. Thx.
Setelah terkirimnya pesan itu, dia kembali merenung.
Dua bulan kemudian,
Bu RT:
Berawal dari laporan warga tower 5 yang mencium bau busuk di depan unit 14-AA, setelah didobrak paksa dua petugas security, mayat wanita berumur 26 tahun, single, ditemukan dalam posisi terduduk di atas sofa dengan kondisi bersimbah darah dari paha sampai kakinya. Diduga, kematian wanita tersebut berhubungan dengan kehamilannya.
10:42
Ridwan:
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
10:42
Asih Suryaningsih:
Astaghfirulllah. Ya Tuhan…
10:43
Julianus Tampubolon, SH., MH.:
Semoga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan dan keiklasan.
10:46
Rina Carolina:
Turut berduka cita yang sebesar-besarnya.
10:47
Tuti:
Kayaknya saya pernah ketemu mbaknya, saya satu lantai dengan beliau. Orangnya cantik padahal.
10:47
Hingga beberapa menit kemudian, wadah komunikasi pemilik unit apartemen tower 4 masih membicarakan tentang kematiannya. Beberapa ada yang masih memberikan pesan belasungkawa, beberapa ada yang mulai membicarakan rumor dan gosip seputaran kematian wanita itu. Untungnya, Ibu RT langsung mematikan fungsi balas chat.
Media lain, stasiun televisi misalnya, memberitakan perkembangan investigasi polisi tentang kematian si wanita. Beberapa influencer yang gemar menceritakan tentang berita-berita kontroversial mencoba mengangkat konspirasi yang mungkin bersembunyi dibalik berita kematiannya.
Julukkan ‘Bronx-nya Jakarta’ masih melekat hingga kini.


















