Guna Manusia Bagi Manusia Lain
Pada satu waktu, seorang wanita bertanya pada wanita yang lain, "Apa yang kamu lihat darinya?" Topik yang menjadi pembicaraan adalah kekasih baru dari lawan bicaranya.
Jawab wanita yang lain, "Banyak. Dia mapan, punya rumah sendiri, kendaraan sendiri. Gaji bulanannya juga sepuluh kali UMR."
Di tempat lain, pada waktu yang hampir bersamaan, seorang pria bertanya pada pria yang lain, "Apa yang kamu lihat darinya?" Topik yang menjadi pembicaraan adalah wanita, yang mendapatkan pertanyaan tentang kekasih barunya.
Jawab pria yang lain, "Dia cantik, bentuk tubuhnya bagus. Bersedia dijungkirbalikkan. Ah! Dia juga tidak keberatan kalau aku punya wanita yang lain."
Beberapa jam kemudian, di tempat yang lain lagi, seorang pria paruh baya sedang berbincang dengan pria yang lebih muda darinya. Pria paruh baya itu bertanya, "Kenapa kamu cerai dengan mantan istrimu?"
Jawab lawan bicaranya, "Dia tidak bisa masak. Kerjanya minta uang untuk belanja. Rumah saja kontrak, bantu-bantu keuangan pun tidak."
Sambung pria paruh baya, "Kalau di atas ranjang, bagaimana? Kamu masih dilayani?"
Balas lawan bicaranya, "Susah, Pak. Setiap saya ajak, dia nggak mau." Sambil menunjukkan foto mantan istrinya pada pria paruh baya, dia berkata, "Dulu waktu muda cantik, sekarang udah nggak karuan. Mana kerjanya tidur. Untung belum punya anak."
Tanggap pria paruh baya, "Untung juga udah cerai. Nggak ada gunanya lagi bini begitu."
Di lain hari, di tempat keempat, seorang gadis yang sedang mengandung, mengadukan nasibnya pada sahabatnya. Dia berkata, "Bajingan itu cowok! Mokondo! Udah miskin, nggak mau tanggung jawab!"
"Sabar. Emang, cowok sekarang nggak ada gunanya. Cuma bisa tebar benih. Duit nggak ada, tampang ngepas. Di mana ya, cowok baik-baik, yang mapan juga saleh?" kata sahabat gadis itu, mencoba menenangkan.
Di akhir pekan, seorang penerima undangan acara pernikahan bertanya pada mempelai pria, "Kenapa kamu menikahinya?"
Balas mempelai pria itu, "Kalau tidak ada dia, hati dan hariku, akan hampa."
Orang itu memandang mempelai wanita, dia bertanya, "Kalau kamu?"
Jawab mempelai wanita itu, "Aku cinta dia. Tanpanya, rasa cintaku akan melayang lalu menguap di udara."
Keesokan harinya, di sebuah perusahaan, seorang yang lebih tinggi secara jabatan memerintahkan kepala bagian personalia untuk mencari pegawai baru. Kepala bagian personalia bertanya, "Memang kenapa dengan pegawai yang baru masuk dua minggu lalu?"
Balas lawan bicaranya, "Nggak bisa apa-apa. Kayak nggak ngerti kerjaannya. Diajarin juga susah. Toh, saya juga nggak punya waktu buat ajarin dia."
Di sebuah pelataran pabrik, tibalah sekelompok buruh yang berbondong-bondong keluar dari area tempat kerja mereka . Orang-orang sedang melakukan aksi protes agar atasan mereka segera mundur dari jabatan yang diembannya, lalu keluar dari pabrik. Satu dari mereka berteriak, "Masuk jalur ordal begini!" Yang lain bersorak, tanda mereka setuju. Tidak lama kemudian, seruan demi seruan berkumandang.
Konon, bumi yang kita huni ini punya kembaran. Tidak tahu apa nama planet tersebut. Tidak tahu pula di galaksi mana letaknya. Selain kembar secara bentuk dan isinya, penghuni planet tersebut juga manusia. Atau, setidaknya, mirip manusia. Manusia di planet tersebut juga memiliki dua jenis kelamin. Pria dan wanita.
Seorang wanita di planet tersebut sedang berbincang dengan wanita lain. Dia bertanya, "Apa yang membuatmu menikahinya?"
Balas lawan bicaranya, "Entah..."
Masih di planet itu, seorang pekerja dan seorang majikan tengah bersitegang. Majikan itu berseru, "Ini kerjaan saya, kamu kerjakan kerjaanmu."
Pekerja itu membalas, "Kerjaan saya sudah selesai, Pak. Saya nggak ada kerjaan lagi."
Sang majikan tidak mau kalah, "Gaji kamu mau dinaikkan berapa persen?"
Pekerja itu juga sama tidak mau kalah, "NGGAK USAH, PAK! SAYA IKHLAS!"
Terhenyak sejenak sang majikan yang mencoba mencerna ujaran kasar pekerjanya. Setelah mendapatkan dirinya, dia kemudian memekik, "KALAU TIDAK MAU NAIK GAJI, SAYA HARUS BAGAIMANA? MASAK TIDAK MAU SAYA KASIH PENGHARGAAN? SAYA JUGA TIDAK INGIN KAMU KELELAHAN! NANTI KALAU KAMU SAKIT, BAGAIMANA DENGAN KELUARGAMU?"
"JADI, MENURUT BAPAK, SAYA LEMAH?"
Semua kisah di atas adalah lamunan penjaga toko kelontong yang mengalami sepi pengunjung. Kecuali kisah-kisah manusia di planet kembaran bumi, yang adalah murni fantasinya, semua kisah lamunannya itu seperti cerminan dari apa yang dibacanya di jejaring media sosial. Penjaga toko kelontong itu menggumam pelan, "Sampai kapan, orang nilai orang lain cuma karena gunanya?"
Matahari mulai terbenam, tidak satu pengunjung pun datang sejak toko kelontong itu buka di pagi hari. "Nihil lagi, nihil lagi," keluhnya.
Sang ibu datang menghampirinya kemudian berseru, "Elu daripada bengong gitu, ngapain kek. Nggak ada gunanya banget. Karena lu males-malesan gitu, orang-orang juga pada males dateng belanja! Tau gak!?"
Penjaga toko kelontong itu menggerutu, "Pengen pindah planet rasanya."
Memastikan pendengarannya, ibunya berseru, "Apa lu bilang!?"