PASAR TRIWINDU SOLO
Sudah menjadi agenda rutin untukku pribadi, ketika aku akan pulang kerumah pastilah aku mampir kesini, pasar antik aku menyebutnya. Menginjak tahun kedua belajar di kota budaya ini, aku mulai mengenalnya, tidak sengaja menemukannya ketika aku tersesat waktu itu. Rencana awal hanya ingin mengetahui lokasi gedung dakwah yang lumayan ramai setiap ahad pagi *tidak usah sebut merk. Namun seperti biasa aku terlambat, kesiangan membuatku tak bisa memasuki gedung itu, ketika yang lain berbondong-bondong hingga menyiapkan tikar di luar gedung demi menuntut ilmu, aku hanya ingin melihat kondisi gedung itu, cukup melihat,tidak lebih, tapi sayang aku belum bisa masuk kedalam karena dipenuhi dengan lautan orang. BTW lokasi pasar Triwindu ternyata tepat berada di samping gedung dakwah itu, aku yang gagal memasuki gedung itu akhirnya melangkahkan kaki ke seberang gedung. Dari sana aku mulai tertarik dengan adanya bangunan yang terbuat dari kayu, tidak terlalu terlihat jelas karena posisinya sedikit jauh dari pinggir jalan. Pasar Triwindu tidak seperti pasar pada umumnya, apa yang kalian bayangkan? Ramai? Sesak? Bau ikan dimana-mana? Sama sekali jauh dari kata Pasar.
Dalam pandangan dan pikirku waktu itu, tempat ini justru mirip museum, sepi, tak banyak pengunjung dan pembeli, bahkan banyak kios yang tidak ada penunggu/ pemiliknya. Kondisi di dalam memang terdapat kios-kios yang membedakan setiap barang yang dijual, beberapa tempat terlihat remang dan tidak terurus, bau oli dan debu juga kerap menyengat hidung kala aku memasuki lorong bagian kios besi dan furniture. Tidak semua tempat berbau seperti itu, kios yang menjual kain tenun, topeng, kaset tape lawas, batik, lukisan tua, pernak pernik kaca jaman dahulu, lampu gantung tua, dan masih banyak barang-barang antik yang mampu menghipnotisku untuk betah berada di dalamnya. Di pasar ini untuk mendapatkan barang bisa melalui jual beli atau bisa juga dengan barter, harganya pun sesuai dengan umur barang, semakin lama barang itu semakin mahal pula harganya.
Hal yang juga membuatku nyaman disana yaitu para penjual disana sangat ramah, bahkan ketika aku sering berkunjung kesana bukan untuk membeli melainkan hanya melihat dan mengambil beberapa foto, mereka sama sekali tidak berkeberatan, tidak jarang mereka menceritakan umur barang dan bagaimana barang itu bisa mereka dapatkan, semua itu mengalir begitu saja tanpa aku meminta untuk diceritakan. Ah memang benar aku rasa, orang solo ya seperti ini, ramah. Karena merasa malu terlalu sering kesana tapi tidak membeli apapun, akhirnya terakhir aku kesana aku memutuskan untuk membeli satu barang yang mampu menyita waktu ku untuk memandanginya. Sendok berbentuk hati rangkap 5 dengan ukuran bertingkat dari ukuran besar sampai terkecil, dan disetiap sendok itu terdapat tulisan belanda, aku tidak tau artinya, menurutku itu lucu, bisa jadi akan menghiasi kamar kos ku kelak atau bahkan bisa saja aku gantung di ransel ku, karena ukuran sendoknya tidak sebesar sendok pada umumnya, jadi pada akhirnya aku menjadikannya gantungan kunci. Oh iya satu yang tidak pernah absen dari tangan usil ku, mesin ketik tua yang selalu aku mainkan ketika berkunjung kesana, aku sampai merekam suara mesin ketik itu.
Entah kenapa sampai sekarang seperti tak ada bosan – bosannya aku kesana, padahal tidak ada yang berubah dan barangnya pun itu-itu saja. Mungkin karena suasana yang tidak terlalu ramai sehingga ketika aku menaiki tangga dan melewati lorong sampai terdengar langkah kaki ku menggema diruangan. Satu lagi hal yang menarik disana yaitu banyak spot bagus untuk di foto, spot dengan background barang-barang antik sangat mudah ditemukan disana, tentunya gratis. Yuk main kesana sama aku












